Wednesday, 21 February 2018

Memoar Sang Ulama Besar




Judul                            : Buya HAMKA Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama
Penulis                          : Yanuardi Syukur dan Arlen Ara Guci
Penerbit                        : Tinta Medina
Cetakan                       : 1, 2017
Tebal                            : 208 halaman

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan HAMKA merupakan seorang ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia. Ia adalah aktivis Muhammadiyah yang bervisi kebinekaan untuk keutuhan bangsa Indonesia. Kehidupan keluarga HAMKA rupanya tidak semenyenangkan yang saya kira. Ia harus menyaksikan perceraian orang tuanya saat masih kecil. HAMKA kecil juga dikenal sebagai anak nakal yang sering terlibat perkelahian antar siswa sekolah.


Buku biografi “BUYA HAMKA: Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama” ini ditulis oleh kolaborasi antara Yanuardi Syukur dan Arlen Ara Guci dengan membaginya menjadi tiga fase; fase pra penjara, fase penjara dan fase pasca penjara. 

Fase pra penjara secara garis besar menceritakan masa kecil HAMKA, aktivitas organisasi, kegiatan menulis dan hubungannya dengan pemerintahan Soekarno pada masa itu. Selain masa kecil yang sedikit disinggung di awal tulisan ini, saya sangat tertarik dengan kegiatan atau aktivitas menulis HAMKA. Setelah membaca aktivitas menulis dan membacanya, saya menemukan kesamaan dengan beliau seperti yang dikatakan Buya Zas, teman HAMKA.


“HAMKA bisa membaca selama dua tiga jam dan mencatat di kertas apa pun yang dekat dengannya- seperti bungkus rokok- lalu mengantongi catatan tersebut.” (hlm. 39)


Bedanya adalah saya tidak pernah mencatat di bungkus rokok, tapi saya sengaja menyiapkan selembar kertas khusus untuk mencatat apa pun dari buku yang dibaca 😀

Sejak muda, HAMKA sudah aktif menulis. Tulisannya rutin muncul di surat kabar dan majalah. Ia juga pernah menjadi wartawan dan editor di majalah Pedoman Mayarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam. Dalam hal membaca, HAMKA merupakan pembaca segala jenis karya mulai dari tasawuf, sejarah, filsafat dan moralitas. Pengaruh dari bacaan-bacaan tersebut cukup signifikan bagi perkembangan wawasan dan kemampuan menulisnya. 

Beberapa karya fenomenal telah berhasil ia terbitkan, di antaranya; Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, Tasawuf Modern hingga Tafsir Al-Azhar yang berhasil ditulisnya selama di dalam penjara. Masih banyak lagi karya tulis HAMKA yang ternyata jumlahnya mencapai 118 karya. 

Fase kedua, yaitu penjara. Kisah dipenjarakannya HAMKA cukup menyedihkan. Pasalnya ia dijebloskan ke penjara oleh sahabatnya sendiri, Soekarno. Alasan tidak masuk akal pun dibuat untuk meloloskan niat memenjarakan HAMKA. Ia dituduh ingin membunuh Soekarno dan berkhianat bersekongkol dengan Malaysia. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, HAMKA tetap menjalani kurungan selama dua tahun.

Membaca fase penjara ini, saya jadi teringat dengan peristiwa yang berkaitan dengan ulama yang ditangkap yang terjadi saat ini. Rupanya kasus HAMKA masih relevan dengan zaman sekarang, di mana para ulama dituduh, ditangkap dan dipenjara dengan alasan menyebarkan kebencian atau kasus lainnya.

Saya menilai, tidak semua orang dipenjara itu bersalah. Mereka justru dipaksa mengaku bersalah atas apa yang tidak dilakukan. Seperti kasus HAMKA dan ulama-ulama saat ini. Meskipun di dalam penjara HAMKA tetap mampu menghasilkan karya. Salah satunya buku Tafsir Al-Azhar yang ditulisnya selama di penjara.

Fase terakhir, yaitu pasca penjara. Keluar dari penjara HAMKA tetap menjalani aktivitasnya seperti dulu; ceramah, menulis, mengajar dan mengurus organisasi. HAMKA dilantik menjadi ketua umum MUI pada 27 Juli 1975. Selama memimpin MUI, HAMKA melakukan kebijakan intern maupun ekstern. Ia juga merumuskan fatwa-fatwa terkait urusan agama Islam. Salah satu fatwa yang membuat resah pemerintah adalah diharamkannya umat Islam untuk turut merayakan Natal bersama. Bahkan mentri agama saat itu mendesak HAMKA untuk mencabut fatwa tersebut.

HAMKA tidak rela merusak aqidahnya dengan mencabut larangan tersebut. Daripada ia harus mencabut fatwa larangan merayakan Natal bagi umat Islam, ia justru memilih mundur dari jabatan ketua MUI. 

Keteladanan yang dapat diambil dari sosok ulama besar ini adalah sifatnya yang tidak mendendam dan ringan hati. Ia tidak mendendam pada Soekarno yang telah memenjarakannya, justru tetap menganggap Soekarno sebagai sahabatnya. Begitu pun dengan Pramudya Ananta Toer dan M. Yamin yang memusuhinya karena perbedaan pemikiran. HAMKA memaafkan mereka tanpa rasa dendam sedikit pun.

HAMKA bukan hanya ulama yang berpengaruh di masanya, hingga sekarang pun ia menjadi panutan dan inspirasi bagi umat Islam. Banyak mutiara hikmah yang telah ditorehkannya ke dalam karya tulis yang masih dicetak dan ditulis kembali oleh penulis-penulis Indonesia pada masa sekarang. Membaca biografi Buya HAMKA seperti meraup ilmu langsung dari sumbernya. Penulis buku ini berhasil menuliskan sebuah memoar yang ringan namun sarat makna.

Friday, 16 February 2018

Sengsara atau Hikmah, Pilih Mana?



pixabay

Berhibur tiada salahnya karena hiburan itu indah
Hanya pabila salah memilihnya membuat kita jadi sengsara (Raihan)

Pernah dengar lirik lagu nasyid di atas? Dinyanyikan oleh grup nasyid asal Malaysia, yaitu Raihan. Saya tidak akan membahas tentang grup nasyid, tapi lebih kepada makna dari lirik lagu itu sendiri.

Hiburan. Satu hal yang cukup penting yang ada dalam hidup kita. Sebagai manusia yang hidup dengan segala hiruk pikuk dunia, mulai dari kehidupan keluarga, pekerjaan, lingkungan dengan berbagai permasalahannya, kita sangat butuh yang namanya hiburan. Setidaknya dengan hiburan yang ada, akan membuat hidup lebih relax dan menyenangkan.


Lalu, apa saja jenis hiburan yang dapat dinikmati? Sebut saja; film, musik, buku, makanan, dan lain-lain. Itu semua jenis hiburan yang mudah didapatkan saat ini. Tentunya kita harus selektif dalam memilih hiburan, karena seperti lirik lagu di atas, jika salah memilih bentuk hiburan malah akan membuat kita sengsara.

Islam itu indah dan mencintai keindahan. Hiburan itu salah satu jenis keindahan yang ada di dunia. Maka hendaknya kita sebagai umat Islam memilih jenis hiburan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Apakah memilih jenis hiburan yang sesuai dengan nilai Islam itu sulit? Sepertinya  tidak. Sebenarnya hiburan yang baik lagi bermanfaat itu banyak, tinggal kembalikan lagi kepada hati, apakah kita rela mengeluarkan uang untuk sebuah hiburan yang baik itu atau hanya untuk pemuas hawa nafsu.

Salah satu jenis hiburan yang digemari, yakni film. Zaman ini banyak sekali jenis film yang beredar, baik di layar kaca maupun layar lebar. Genre film-film tersebut pun beragam. Ada film komedi, drama, misteri, horor, roman, dan lain sebagainya. Tapi apakah kita harus menonton semua jenis film yang ditayangkan tersebut hanya sekadar mencari hiburan? Lagi-lagi jawabannya tidak. Kita cenderung akan menonton film-film yang memang sesuai dengan selera kita.

Memilih jenis film yang akan ditonton harus lebih selektif. Harus ada tujuan atau output yang bisa diraih. Jangan jadikan hiburan hanya sebagai pemuas hawa nafsu. Karna itu justru hanya akan membuang waktu percuma dan pada akhirnya membuat kita sengsara atau merugi. Pilihlah film yang tidak hanya menghibur tapi juga membawa manfaat baru dalam kehidupan kita. Syukur-syukur bila film yang ditonton akan membawa pengaruh meningkatnya ibadah kita yang selama ini merosot.

Sayangnya film-film yang beredar di Indonesia masih didominasi oleh film yang berbau mistis dan percintaan remeh temeh ala remaja zaman sekarang. Bahkan salah satu film horor beberapa waktu lalu berhasil menembus angka jutaan penonton hingga dinikmati sampai mancanegara. Tidak jauh beda dengan film percintaaan remajanya, lebih sering menonjolkan gaya pacaran serta pameran aurat dari para pemainnya. Astagfirullah

Sedih mengetahui remaja Indonesia dicekoki film-film horor dan percintaan remeh temeh (pacaran). Film semacam itu menurut saya tidak baik untuk perkembangan karakter remaja. Efek menonton film horor dapat menimbulkan rasa takut, tegang, percaya pada hal-hal mistis atau irasional yang tidak ada tuntunannya dalam Alqur’an. Sedangkan tema percintaan khas remaja efeknya memberi contoh seputar kehidupan orang berpacaran. Tidak hanya pacaran, pengaruh lainnya dari film tersebut adalah gaya berpakaian yang akan dengan mudahnya menjadi trend setter bagi anak muda. Pastinya gaya berpakaian di film-film itu adalah pakaian yang mengumbar aurat dengan berbagai model. 

Tentu tidak semua film yang hadir di Indonesia sejenis film-film yang disebutkan di atas. Tidak sedikit para pekerja atau pembuat film yang memproduksi film bagus berkualitas. Masih ada orang-orang yang peduli dengan pendidikan moral bangsa dengan menyajikan film yang penuh semangat membangkitkan harapan. Masih ada orang-orang yang cemas akan pergaulan anak muda yang semakin tidak terkontrol, sehingga mereka pun memproduksi film khas remaja yang lebih membawa perubahan positif. 

Namun, sekali lagi, sayangnya, orang Indonesia sedikit sekali yang sadar dan mendukung film-film baik seperti itu. Film horor dan tema pacaran masih menjadi primadona di kalangan remaja. Maka, mulailah dari diri kita sendiri. Mulailah memilih hiburan yang tidak hanya memuaskan hawa nafsu dan sedang hits, tapi pilih hiburan yang membawa manfaat dan pelajaran dalam hidup. Kita pun dapat mengajak remaja untuk turut menonton film-film baik dengan berbagai cara yang saat ini popular, yaitu media sosial. 

Dalam mencari hiburan pun hendaknya tidak berlebihan dan meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT. Jangan sampai hiburan tersebut membuat kita lalai pada perintah Allah, seperti salat. Hanya karna mengejar jam tayang film, kita rela mengabaikan waktu salat. Tentu saja hal itu sangat tidak sesuai dengan nilai Islam dan malah akan membawa kepada sengsara di akhirat.





Saturday, 10 February 2018

Inspirasi di Meet Up With Khadija




Bersyukur diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengenal dan bergabung dengan komunitas-komunitas baik, salah satunya Blogger Muslimah Indonesia. Komunitas blogger khusus muslimah yang didirikan oleh seorang penulis yang telah melahirkan beberapa karya novel. Ialah Novia Syahidah Rais sebagai founder komunitas baik ini sejak 2014.

Blogger Muslimah (BM) telah sukses mengadakan berbagai acara yang dihadiri para blogger yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Acara terbaru yang baru saja terselenggara, yaitu Meet Up With Teh Khadija (Peggy Melati Sukma). Bertempat di gedung Proxsis, Permata Kuningan lt.17. ini merupakan kali ke dua BM bekerjasama dengan Proxsis dalam menyelenggarakan kegiatan.

Wednesday, 31 January 2018

Jangan Mager Kalau Mau Jadi Blogger


FLP Jakarta squad


Blog saya ini usianya entah sudah berapa tahun. Yang pasti sudah bertahun-tahun. Tapi kok ya gak ada kemajuan, gitu-gitu aja. Padahal katanya dari nge-blog itu kita bisa dapat penghasilan, lho? Lalu, bagaimana caranya supaya nge-blog bisa menebalkan isi dompet? Nah, makanya yuk belajar lagi.

Monday, 8 January 2018

Petualangan Mengejar Buku




Judul                : Buku Ini Tidak Dijual
Penulis              : Henny Alifah
Penerbit            : Indiva Media Kreasi
Terbit               : Maret, 2015
Tebal                : 192 halaman

Padi terkejut mendapati rak bukunya kosong melompong. Ingin marah, teriak dan mengungkapkan rasa kesal kepada ayah, tidak kuasa ia lakukan. Masih tersimpan ingatan tidak diperbolehkannya seorang anak berkata kasar kepada orang tua. Padi pun akhirnya lemah lunglai terduduk di depan pintu dan bergumam, “buku ini tidak dijual, buku ini tidak dijual, buku ini tidak dijual”.


Gading, anak Padi, yang sedikit banyak memiliki andil dalam proses penjualan buku-buku koleksi ayahnya merasa bersalah telah membantu kakek memasukkan buku-buku itu ke dalam karung untuk dijual ke tukang loak. Tak sanggup mendengar perdebatan ayah dengan kakeknya, Gading ingin menembus kesalahan dengan mengejar mobil pick up yang membawa buku-buku ayahnya.

Bersama Kingkin, sepupunya, Gading pergi menyusuri desa hingga kecamatan dan kabupaten desanya. Beberapa peristiwa terjadi selama dalam perjalanan mengejar lima karung buku ayahnya. Gading hampir mati demi mendapatkan kembali buku-buku ayahnya. Sementara Kingkin harus berhadapan dengan perampok karena pulang larut malam dan melewati jalanan sepi yang menjadi sasaran aksi perampok.

Dalam pencarian kembali buku-buku ayahnya, Gading merasa penasaran mengapa ayahnya sangat mencintai buku-buku itu. Bahkan buku-buku pelajan, koran dan majalah yang sudah tua masih disimpannya. Sementara kakek sudah jengah dengan rumahnya yang dipenuhi tumpukan buku-buku yang dirinya sendiri pun sudah tak sanggup membaca karena penglihatannya sudah mulai kabur.

Rasa penasaran Gading akhirnya terjawab. Ia baru tahu mengapa ayahnya sangat menginginkan buku-buku itu kembali. Ternyata ada satu rahasia yang selama ini tidak diketahui Gading dan Kakek. Satu rahasia itu membuat kakek menyesal telah berbuat sekehendaknya.

Keseruan novel ini baru terasa di bab-bab menjelang akhir. Dari awal saya sudah penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi pada buku-buku Padi yang dijual kakek. Dengan sabar saya menyelesaikan membaca novel ini sampai akhir, dan ternyata ending tidak mengecewakan. Novel ini unik dengan tema yang jarang saya temui. Novel dengan “buku” sebagai tema besarnya ini awalnya saya pikir adalah sebuah buku non fiksi, ternyata saya salah.

Ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna, novel ini sangat cocok untuk mengisi waktu santai sambil minum teh atau kopi. Karakternya tidak banyak, sehingga pembaca tidak perlu pusing dengan siapa-siapa saja tokoh yang ada dalam cerita. Bersetting adat jawa, dialog-dialog dalam novel ini diselingi dengan bahasa Jawa dan disertai terjemahan pada footnote.

Ada kutipan menarik dari buku ini yang sedikit banyak saya setuju.


“Orang yang pandai itu bukan mereka yang banyak menyandang gelar akademik. Tetapi orang yang pandai adalah mereka yang banyak membaca buku”

Bagi saya yang menyukai membaca, saya bukanlah orang yang pandai, sama sekali bukan. Sebaliknya, saya hanyalah orang bodoh yang berusaha mencuri ilmu sebanyak-banyaknya dari buku-buku yang saya baca. Bahkan karena bodohnya, hanya sedikit yang berhasil menetap lama di otak saya. Maka dari itu, saya harus terus membaca, membaca dan membaca, agar yang sedikit itu setidaknya dapat bertambah.

Thursday, 4 January 2018

JATUH BANGUN MEWUJUDKAN MIMPI DI INGGRIS




Judul               : Notes From England
Penulis             : Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Terbit               : Desember 2017
Tebal               : 236 halaman

Selain menjadi tujuan wisata favorit, Inggris juga merupakan salah satu negara tujuan belajar favorit di seluruh dunia. Di sana tercatat beberapa universitas terbaik dunia, sebut saja Oxford University, Cambridge University, The University of Buckingham, University of Bristol, dan masih banyak lagi. Tahu artis Maudy Ayunda? Rupanya artis yang satu itu punya otak kelas dunia, buktinya dia bisa masuk Oxford University. Kenal Gita Gutawa? Penyanyi yang satu itu bukan hanya cemerlang dalam musik, tapi juga memiliki otak cemerlang, buktinya dia berhasil kuliah di Birmingham.

Friday, 29 December 2017

Lika Liku Perjalanan Bisnis Seorang Pengusaha Sukses






Judul : Chairul Tanjung Si Anak Singkong
Penulis : Tjahja Gunawan Diredja
Penerbit : Kompas
Tebal : 384 halaman
Terbit : Juni, 2012
Jakob Oetama- pada saat buku ini terbit, beliau merupakan Pemimpin Umum Kompas Gramedia- mengisahkan tentang mitologi Yunani kuno dalam pengantar buku ini. Alkisah ada seorang raja yang sangat sakti bernama Midas. Apa pun yang disentuh oleh tangannya akan berubah menjadi emas. Makanan yang akan disantapnya pun berubah menjadi emas. Jakob Oetama mengibaratkan Chairul Tanjung (CT) sebagai Raja Midas. Bedanya, jika Midas mengubah apapun menjadi emas, sedangkan CT setiap usaha apapun yang didirikan olehnya pasti laku, pasti untung.

Memoar Sang Ulama Besar

Judul                             : Buya HAMKA Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama Penulis                           : Yanuardi S...