Monday, 18 September 2017

Jadikan Buku Benda Favorit Anak

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar dengan tema “Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca”. Salah satu pembicara yang hadir adalah Bapak Dodi Pribadi dari Perpustakaan Nasional. Ada pernyataan menarik yang beliau kutip dari seorang public figure, Tantowi Yahya, yaitu “Ibuku adalah perpustakaan pertamaku”. Tantowi kecil menjadikan ibunya sebagai perpustakaan tempatnya mendapatkan informasi.

Biasanya anak kecil itu suka sekali bertanya. Apa saja yang dilihat atau didengar pasti akan ditanyakan kepada ayah atau ibunya. Lalu, bagaimana cara orangtua menjawab pertanyaan anak? Jika pertanyaan yang disampaikan adalah hal-hal yang umum, orangtua akan dengan mudah menjawabnya. Tapi bagaimana jika pertanyaan yang muncul adalah sesuatu yang tak wajar atau sulit untuk dijawab karena orangtua tidak memiliki pengetahuan tentangnya?

Saturday, 2 September 2017

Hari yang Padat Berisi dari Blogger Muslimah Indonesia

Potlock (tulisannya bener gak ya? :D). Saya baru tahu istilah ini sejak ikutan meet up Blogger Muslimah yang pertama dulu. Jadi, dalam kegiatan meet up Blogger Muslimah, seluruh peserta diwajibkan membawa makanan masing-masing. Jenisnya bisa apa saja, baik makanan basah atau kering selain goreng-gorengan. Karena lokasi di mana kita menyelenggarakan kegiatan meet up merupakan tempat yang mengutamakan makanan sehat, sedangkan goreng-gorengan tidak termasuk di dalamnya. Itulah yang dimaksud potlock. Nah, karena bawa makanan masing-masing dan bebas, sejak jauh-jauh hari saya mulai bingung apa yang akan dibawa pada acara meet up nanti. Secara saya tidak pandai memasak dan memang di kosan tidak ada alat masak, hehe. Akhirnya saya memutuskan membeli makanan ringan yang mudah dibawa. 

Sepekan yang lalu saya menghadiri acara Blogger Muslimah Meet Up untuk ke dua kali. Tepatnya  hari Minggu, 27 Agustus 2017. Berlokasi di kantor NutriFood, Menteng Square, Matraman. Ini kali ke tiga saya bertandang ke kantor NutriFood. Satu kali pada acara diskusi menulis dari satu komunitas dan dua kali acara Blogger Muslimah Meet Up. Kesan pertama saat melihat tempat ini yaitu; unik, menarik, nyaman dan sejuk. Keunikan tempat ini ada pada desain interior yang beda dari kantor-kantor lain. Biasanya sebuah kantor itu terlihat kaku dan membosankan. Sedangkan kantor NutriFood menyajikan sebuah ruangan yang membuat pengunjung menebak-nebak, “Ini kantor atau cafe & resto?”



Banyak ornamen benda-benda klasik yang ada pada jaman dulu alias jadul, seperti kamera jadul, miskroskop, setrika jadul, radio dan kipas angin yang unik. Benda-benda itu memang tidak digunakan, hanya menjadi atribut lucu yang bisa membuat foto-foto kami makin kece. Selain benda-benda jaman dulu, ada juga berbagai kutipan penyemangat dengan tulisan yang artistik. 






Tersedia juga banyak tempat sampah yang dibedakan berdasarkan jenis sampahnya. Sampah plastik, kertas dan organik. Tempat ini menjadi tempat yang layak direkomendasikan untuk mengadakan acara dengan jumlah peserta yang tidak terlalu banyak. Karena memang ruangannya tidak luas, meskipun terdiri dari dua lantai. Sebagian besar acara dilaksanakan di lantai atas, sedangkan lantai bawah untuk rehat sejenak sambil duduk manis menikmati minuman sehat khas NutriFood serta berbagai penganan yang dibawa oleh peserta, dan tidak lupa foto-foto cantik. 




Acara Blogger Muslimah Meet Up ini berlangsung sejak pukul sembilan hingga pukul tiga sore. Dengan rangkaian acara yang padat, peserta tidak merasa bosan atau lelah, karena acara dikemas semenarik mungkin dengan dukungan para sponsor yang tak kalah seru. Dengan tema “Membaca Dunia Menulis Semesta” acara ini diawali dengan pemateri yang berkecimpung di dunia penerbitan, yaitu Mbak Rahmadiyanti Rusdi dari penerbit Noura Publishing. Beliau memaparkan dengan cukup lengkap seputar dunia penerbitan yang sudah ditekuninya selama kurang lebih sembilan tahun. Bertambah lagi ilmu para Blogger Muslimah hari ini dengan pemaparan dari Mba Dee. Ilmu seputar penerbitan ini membuat peserta semakin semangat untuk terus belajar, terutama ilmu kepenulisan. 

Rahmadiyanti Rusdi


Viva Cosmetics menjadi salah satu sponsor pada acara ini. Selesai menimba ilmu tentang dunia penerbitan, saatnya belajar mempecantik diri bersama Viva Cosmetics. Sesi ini disebut beauty class. Beberapa perwakilan Viva Cosmetics hadir untuk membantu para muslimah belajar mengaplikasikan make-up di wajah. Setelah perkenalan profil perusahaan Viva Cosmetic oleh Ibu Indah, kami melanjutkan acara beauty class yang dipandu oleh Mbak Erma. Satu per satu peserta menyiapkan diri dan alat make-up masing-masing yang telah dibagikan sebelumnya. Dengan sabar Mbak Erma menjelaskan fungsi masing-masing produk serta bagaimana cara yang tepat mengaplikasikannya ke wajah. 


Peserta menyimak dengan seksama arahan Mbak Erma dan mulai mempraktikannya selangkah demi selangkah. Sekitar pukul 12:30 beauty class pun usai. Seluruh peserta terlihat beda. Selain wajah merona, mereka terlihat cantik, cerah dan happy. Tak menyia-nyiakan waktu lagi, para peserta pun mulai mengabadikan wajah hasil make-up hari itu. 




Hari sudah semakin siang. Sesi selanjutnya adalah materi tentang menulis fiksi yang dibawakan oleh founder Blogger Muslimah, Novia Syahidah Rais. Uni Novia yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan membagi ilmunya seputar menulis fiksi. 

“Menulis fiksi harus tetap sesuai dengan logika”
“Modal dasar seorang penulis adalah; mencintai dunia menulis, giat membaca dan terus berlatih”
Rangkaian acara ditutup dengan pembagian doorprize, pengumuman pemenang lomba live tweet, instagram dan mini workshop di facebook. Hey! Tahukah kalian acara Blogger Muslimah Meet Up kali ini menjadi trending topic di twitter, lho. Alhamdulillah, semoga komunitas ini semakin dikenal dan semakin banyak menebar kebaikan. 

Berbagai macam hadiah yang disediakan semakin menambah antusias peserta untuk berlomba-lomba mengikuti lomba. Beruntungnya kami yang hadir hari ini. Para pemenang mendapatkan hadiah mulai dari khimar dan gamis dari Margaw, paket kosmetik dari Viva Cosmetics, sovenir lucu dari She Collection dan koleksi buku-buku dari Novia Syahidah Rais. Tentunya acara ini sukses terselenggara juga atas dukungan dari www.gogobli.com dengan tagline Go Healthy Go Beauty, gogobli menyediakan berbagai produk kecantikan dan kesehatan. It's kind a perfect store for women’s need

@she_collection_id

doorprize buku

@viva.cosmetics


Hari yang padat berisi. Padat kegiatan yang berisi wawasan bagi pengembangan diri seorang muslimah agar dapat terus berkarya lewat tulisan. Tentunya setelah ini para Blogger Muslimah diharapkan dapat lebih berkembang dalam segala aktifitasnya yang positif, terutama di dunia blogging. Sampai jumpa di acara-acara seru Blogger Muslimah lainnya. 

Terima kasih  kepada semua sponsor yang telah mendukung berjalannya acara Blogger Muslimah Meet Up yang kece ini. 





Monday, 8 May 2017

Gemari Karyanya, Jangan Penulisnya!

Saya jarang sekali baca novelnya Tere Liye. Novel pertama karya beliau yang saya baca adalah "Bidadari Bidadari Surga" dan itu sudah lama sekali. Nah, kira-kira sekitar tahun lalu saya membaca novel Tere lainnya yang berjudul "Pulang" dan itu baaaguuus banget menurut saya. Saya menyebutnya sebagai "novel rasa film". Bagaimana tidak? Membaca "Pulang" serasa menonton sebuah film action, seru dan menegangkan.

Sejak saat itu, saya jadi tertarik membaca novel Tere Liye lainnya. Sebut saja; Bumi, Bulan, Matahari, Tentang Kamu, Rindu, Berjuta Rasanya, Sepotong Hati Yang Baru. Saya memang belum membaca semua novel karyanya, tapi dari judul yang saya sebut di atas semuanya sangat berkesan, keren dan inspiratif.

Saya pernah bertanya dalam hati "kok bisa sih dia bikin cerita bagus kayak gini? Gimana caranya?" Saya pun mengambil kesimpulan dengan membuat jawaban sendiri. "Pastilah penulisnya adalah seorang yang cerdas, kreatif dan berimajinasi tinggi".

Selama ini saya tidak pernah melihat langsung sosok pencipta Raib, Ali dan Seli ini. Tapi hari ini di event Islamic Book Fair 2017, saya berkesempatan menghadiri bedah buku Tere Liye, Tentang Kamu. Dan saya cukup excited melihatnya. "Ternyata Tere Liye begini orangnya" :D

Tere Liye muncul, naik ke panggung dan mengisi acaranya sendiri tanpa moderator dan ia memoderatori dirinya sendiri. Penampilannya sangat santai, dengan kaus oblong, celana jins tanpa kupluk yang menjadi ciri khasnya.

Mulailah ia menceritakan proses kreatif buku "Tentang Kamu". Ia menyampaikan bahwa ia menulis Tentang Kamu hanya menghabiskan waktu satu bulan. Tapi jangan salah, risetnya sendiri dilakukan selama satu tahun lebih. Dan memang rata-rata novel yang ditulisnya memerlukan waktu satu tahun lebih untuk riset. Salah satu risetnya ia lakukan di sosial media, facebook. Tere sering melakukan survey ke para pembacanya melalui akun tersebut. Jadi, secara tidak langsung pembaca punya andil penting dalam mengembangkan ide ceritanya.

Meskipun judul-judul novelnya kebanyakan mengandung unsur "baper dan galau", kenyataannya saat membaca kisahnya, kita tidak akan menemukan kebaperan tersebut. Yang ada isinya tentang keteguhan, perjuangan hidup, shadow ekonomi, religius, walaupun tak ketinggalan unsur romance-nya.

Tere merupakan penulis produktif yang menulis novel dengan genre bervariasi. Ada soal cinta, keluarga, ekonomi, politik, anak dll. Berbagai genre tersebut mematahkan pemikiran pembaca yang men-cap bahwa Tere Liye adalah penulis roman.

Novelnya yang telah terbit sudah 26  buku. Dan ia membocorkan novel selanjutnya yang akan segera hadir tahun ini adalah "Bintang", lanjutan dari tiga serial sebelumnya Bumi, Bulan dan Matahari. Dan satu bocoran lagi, ia mengatakan serial Raib dkk, tidak akan berhenti sampai di Bintang. Akan ada kisah selanjutnya setelah Bintang.

Tere menyapa audience dengan kata "dek".

"Jadi gini ya, dek"
"Adik-adikku sekalian"
"Kalau mau jadi penulis harus banyak latihan, dek"

Tidak seperti penulis lain yang sudah terkenal, Tere termasuk orang yang tidak suka difoto apalagi diajak selfie. "Gak usah foto foto sama saya. Gak ada gunanya sama sekali," ujarnya.

Ada pertanyaan dari audience begini, "Novel Tere Liye bagus dan kaya diksi. Bagaimana caranya bisa menggunakan diksi yang tepat sehingga membuat tulisan menarik?"

"Latihan," jawabnya.

Lalu Tere melanjutkan, "Gini ya, dek. Menulis itu ibaratnya sama dengan memasak. Contonya begini, coba kalian berikan satu nampan berisi bahan makanan kepada ayah kalian dan bilang padanya, 'wahai ayah jika kau benar mencintai anakmu ini, buatkanlah saya 12 jenis masakan dari bahan-bahan ini'

Sang ayah pun akan melakukannya sesuai dengan yang ia mampu. Tempe digoreng, tahu digoreng. Selesai. Lalu, kacang panjang? Entah harus diapakan.

Tapi lain lagi jika kau bawa nampan berisi bahan makanan tersebut kepada ibumu. 'Wahai ibu bila kau benar mencintai anakmu ini, buatkanlah 12 jenis masakan untukku'. Maka ibu akan membuatkan 12 jenis masakan yang bervariasi seperti yang kau minta.

Mengapa bisa begitu, dek? Mengapa ayah hanya bisa memasak tempe goreng dan tahu goreng. Sedangkan ibu bisa membuat macam-macam jenis masakan? Simply. Jawabannya karna ibu sudah bertahun-tahun melakukannya. Ia sudah terbiasa memasak, jadi mudah sekali baginya untuk membuatkanmu 12 jenis masakan. Sedangkan ayah? Jangankan membuat 12 masakan, membedakan bumbu dapur saja sulit.

Jadi, dek. Menulis pun sama seperti memasak, butuh latihan."

Bedah buku sore itu cukup seru, tak sedikit pernyataan Bang Tere yang mengundang tawa audience membuat ruangan lebih semarak. Dari pertemuan singkat itu saya jadi tau sosok Tere Liye yang mengaku bukan orang yang religius, tapi dalam novelnya mengandung pesan-pesan religius yang begitu berarti.

Harapan Tere pada pembaca novelnya adalah agar bisa menghibur, lalu naik ke level bermanfaat dan naik lagi ke level inspiratif.

O ya, saya bukan penggemar apalagi yang nge-fans berat sama Tere Liye. Saya hanya menyukai karya-karyanya. Dan Tere Liye juga bilang, "Jangan menyukai penulisnya, cukup sukai saja karya-karyanya."

Saturday, 15 April 2017

Diskusi Rempah dan Ilmu Gaib




Sabtu, 15 April 2017, saya berkesempatan menghadiri pameran rempah-rempah. Pameran ini digelar di  Gedung Galeri Pos Indonesia, Kota Tua. Selain pameran, kegiatan ini juga diramaikan dengan acara bincang-bincang dengan tema seputar rempah-rempah.  Tema rempah-rempah ini menarik sekali bagi saya, karena jarang sekali saya temukan sebuah acara diskusi, seminar dan semacamnya yang mengangkat rempah-rempah sebagai tema utama. Ah, mungkin saja pergaulan saya yang kurang luas, sehingga tidak mengetahui kegiatan seperti ini.

Diskusi kali ini menghadirkan pembicara seorang pengajar di Universitas Khairun, Ternate, yaitu Yanuardi Syukur, Msi. Beliau juga merupakan anggota komunitas penulis Forum Lingkar Pena. Tema diskusi hari ini adalah “Rempah dan Ilmu Gaib”.


 
Berbicara tentang rempah tak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia, karena bicara rempah berarti bicara Indonesia. Rempah-rempah itu sendiri menjadi salah satu komoditi yang diperebutkan oleh penjajah pada masa lalu. Sayangnya msyarakat kita belum memaksimalkan potensi rempah-rempah yang ada. Rempah-rempah yang kita tahu secara umum digunakan sebagai bahan penyedap masakan. Padahal lebih daripada itu, rempah dapat digunakan ssebagai perawatan dan pengobatan.

Ilmu gaib lebih banyak disinggung dalam diskusi kali ini. mas Yankur, begitu beliau biasa disapa, banyak menceritakan hal-hal mistis atau gaib yang masih dipercaya oleh masyarakat Indonesia. Setiap daerah memiliki kepercayaan masing-masing yang berkaitan dengan ilmu gaib. Sebagai contoh, masyarakat di beberapa daerah lebih memilih membawa anak mereka yang terserang sakit ke dukun atau para normal daripada ke dokter untuk penyembuhan.

Selain kepercayaan pada ilmu gaib yang terjadi di masyarakat, rupanya ilmu gaib juga ada kaitannya dalam dunia politik. Betapa masih banyak calon pemimpin di daerah-daerah yang mendatangi “orang pintar” agar ia dapat terpilih menjadi gubernur, bupati, dll. Mereka rela menghabiskan uang jutaan untuk dialokasikan kepada “orang pintar” tersebut.

Mungkin kita yang hidup di daerah perkotaan agak sulit mempercayai hal-hal gaib semacam itu. Tapi sejatinya itu ada dan sebagian masyarakat kita pun masih meyakininya. Karna sesungguhnya sesuatu yang tidak terlihat itu bukan berarti tidak ada. Seperti angin yang tidak terlihat tapi dapat kita rasakan, tutur Mas Yankur.

Pada akhirnya masih banyak hal yang perlu dikaji, diteliti dan dipelajari lagi tentang rempah-rempah ini agar lebih popular di masyarakat, sehingga manfaatnnya lebih bisa dirasakan oleh kita semua.


Pameran rempah ini masih akan berlangsung hingga Minggu 16 April 2017. Dengan kegiatan-kegiatan menarik lainnya seperti workshop, kreatifitas dan bincang-bincang seputar rempah-rempah. Jika ingin mendapatkan bibit rempah-rempah, panitia juga menyediakan bibit-bibit yang bisa dibeli di sana.  

Sunday, 26 March 2017

Menulis Sebagai Sarana Dakwah



Judul: ADAB (Aqidah, Dakwah dan Budaya)
Penulis: Ahmad Lamuna, Elenra, Etika Avicenna, Bintu Khansa, Rahmat Zubair,   Arya Noor, Agus Dwi Putra
Diterbitkan oleh: Divisi Rohis FLP Jakarta, 2016




Al-Ilmu shaidun wal kitaabatu qaiduhu, qayyid shuyuudaka bil hibaalil waatsiqah. Ilmu adalah binatang buruan, sedangkan menulis adalah pengikatnya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat”

Mahfuzhat di atas menjadi salah satu alasan saya menulis. Bagi orang yang mudah lupa seperti saya, menulis dapat menjadi sarana pengingat tentang ilmu yang berhasil ditangkap dari mana pun. Saya berusaha untuk menuliskan informasi atau ilmu apa saja dari, misalnya sebuah kajian, seminar, workshop, bedah buku, bahkan dari novel atau buku  yang saya baca.

Sejak bergabung di sebuah komunitas menulis, yakni Forum Lingkar Pena, saya jadi tahu bagaimana membuat tulisan yang baik dan teknik menulis yang benar, serta semakin yakin dengan tujuan saya menulis selain mengikat ilmu. Saya merasa FLP sesuai degan apa yang saya inginkan, karena FLP merupakan gerakan literasi yang membawa nilai Islam di dalamnya.

Friday, 24 March 2017

BERANI BELA ISLAM? BUKTIKAN!





Judul                           : Seberapa Berani Anda Membela Islam?
Penulis                         : Na’im Yusuf
Penerbit                       : Maghfirah, Mei 2016
Tebal                           : 274 halaman

Seberapa berani Anda membela Islam?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, sebaiknya ketahui dulu ciri-ciri atau karakteristik yang harus dimiliki seorang pemberani. Buku ini membahas secara detil karakteristik seorang yang pemberani, serta contoh nyata sikap berani yang ditunjukkan oleh Nabi Saw. dan para sahabat. 

Lalu, apa sajakah karakteristik yang harus dimiliki untuk  menjadi seorang yang pemberani? Penulis menjabarkan tiga belas karakteristik pemberani, yaitu; mencintai masjid, menyeru ke jalan Allah, sungguh-sungguh dan tanggap, bersikap aktif dan bertanggung jawab, bercita-cita tinggi, mulia dan terhormat, berani di atas kebenaran, berani, berjihad dan berkorban, teguh di atas kebenaran, sabar dan membiasakan diri, memenuhi janji dan jujur pada Allah SWT, terakhir tidak mudah putus asa dan pesimis.

Wednesday, 22 March 2017

Jangan Bepergian Kecuali ke Tiga Tempat Ini



Bagi kita yang menyukai traveling atau memiliki mimpi bisa pergi ke luar negeri, pasti akan dengan mudah menyebutkan negara mana yang menjadi impian kita untuk dikunjungi. Amerika, Prancis, Jepang, Dubai, Turki, dan negara-negaraa tujuan wisata lainnya. Bagi mereka yang mendapat ujian dengan kelebihan harta, akan dengan mudah mewujudkan keinginan untuk traveling ke mana pun mereka mau. 
 
Tapi, tahukah kita bahwa ada tiga tempat yang wajib dikunjungi oleh umat Islam selagi ia hidup di dunia?

Rasulullah Saw. bersabda: 

“Jangan sering-sering bepergian, kecuali ke tiga tempat ini, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa.”

Hadist lainnya berbunyi,

Jadikan Buku Benda Favorit Anak

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar dengan tema “Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca”. Sa...