Monday, 9 April 2018

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati



Judul               : Sepotong Roti di Langit Tragedi
Penulis             : Nia Hanie Zen, dkk.
Penerbit           : Iluvia Publishing
Terbit               : Maret, 2018
Tebal               : 124 halaman

Bagi saya, salah satu jenis karya sastra yang rumit adalah puisi. Tak banyak orang yang memahaminya, termasuk saya. Puisi ditulis dengan pemilihan kosakata yang tidak biasa atau unik. Kebanyak puisi yang selama ini saya baca, menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti hingga butuh pemikiran mendalam untuk memahami maknanya. 

Namun, tidak semua puisi ditulis dengan kata-kata yang sulit dipahami. Ada juga puisi yang ditulis dengan kata-kata sederhana dengan makna yang dalam, salah satunya adalah buku yang berjudul Sepotong Roti di Langit Tragedi (SRDLT) yang saya tulis bersama teman-teman pegiat literasi.

Friday, 23 March 2018

Ashabul Kahfi Dalam Teori Relativitas Einstein



Judul                : Ketika Embun Merindukan Cahaya
Penulis              : Hadis Mevlana
Penerbit            : Tinta Medina
Terbit               : Februari 2018
Tebal                : 340 halaman

Saya cukup excited begitu mengetahui akan ada sekuel dari novel Embun Di Atas Daun Maple. Saya penasaran dengan akhir cerita kisah cinta Sofyan dan Kiara dan berharap di novel sekuelnya ini ada jawaban yang memuaskan.

Novel kedua dari Hadis Mevlana ini berjudul Ketika Embun Merindukan Cahaya. Masih sama dengan novel pertamanya yang memiliki tema besar perbandingan agama. Saya masih menikmati keseruan pertanyaan dan pernyataan seputar agama Islam dan Kristen.

Wednesday, 21 March 2018

Cara Allah Menjaga Kita




Orang yang memiliki harta berlimpah, ia harus menjaga harta itu dengan hati-hati jika tidak ingin dicuri. Ia akan merasa was-was dan terus memikirkan hartanya. Hidupnya pun jadi tidak tenang. Lain halnya dengan orang yang berilmu, ilmu yang dimiliki justru yang akan menjaga si pemilik ilmu tersebut. 

Maka sangat penting bagi kita untuk menuntut ilmu, terutama ilmu agama Islam. dengan ilmu agama yang dimiliki, kita dapat melakukan amalan-amalan sesuai dengan tuntunan. Ilmu agama sangat bermanfaat tidak hanya di dunia tapi juga sebagai bekal di akhirat.

Saturday, 17 March 2018

KENALAN SAMA NICHE YUK



para peserta kelas blogger FLP Jakarta bersama Kang Arul

Kamu tahu tidak apa itu niche?

Pertemuan kelas blogger FLP Jakarta minggu lalu bersama Dosen Galau alias Kang Arul, membahas tentang niche. Sebelumnya, saya sudah sering mendengar istilah ini dan sedikit banyak tahu maknanya. 

Nah, sepemahaman saya, niche adalah topik atau lebih tepatnya ciri khas yang akan dibahas di dalam blog kita. Misalnya, kita hobi nyanyi, maka kita akan menulis segalanya tentang menyanyi. Atau jika kita suka mendaki gunung, maka blog kita akan berisi segala sesuatu yang berhubungan dengan pendakian gunung. Satu contoh lagi, jika kita suka membaca buku, maka blog kita akan diisi dengan resensi berbagai buku yang telah dibaca, seperti blog saya ini 😀

Tuesday, 6 March 2018

Ternyata Anak Laki-Laki Juga Butuh Pengawasan Ekstra



 
FLP Jakarta squad bersama Kak Sinyo
Zaman dulu, orang tua selalu was-was jika punya anak perempuan. Mereka bilang, anak perempuan harus ekstra perhatian, harus betul-betul dijaga, salah-salah pergaulan bisa jadi hamil di luar nikah. Kekhawatiran tersebut tidak salah dan sampai sekarang pun orang tua masih menerapkan pengawasan ekstra kepada anak-anak perempuannya.

Lain dulu, lain sekarang. Rupanya zaman telah berubah dan semakin mencengangkan. Bukan hanya anak perempuan yang butuh pengawasan ekstra, anak laki-laki pun sama, malah lebih membahayakan kasusnya bila salah menyikapi. 

Mengapa demikian? 

Saya cukup terkejut mendengar pemaparan Kak Sinyo tentang homoseksual. Kak Sinyo adalah pegiat Yayasan Peduli Sahabat yang fokus menangani, mendampingi dan mengedukasi orang-orang yang terindikasi LGBT. Beliau juga seorang penulis, salah satu bukunya adalah LGBT (Lu Gue Butuh Tau). Ahad, 4 Maret lalu, Kak Sinyo memenuhi undangan dari FLP Jakarta dalam acara bincang LGBT, yang digawangi oleh Divisi Rohis.

Jadi, Kak Sinyo cerita begini, orang yang memiliki kelainan seksual atau tidak sesuai dengan fitrahnya, seperti homoseksual, sebenarnya sama dengan orang normal (heteroseksual) dalam hal ketertarikan. Laki-laki normal akan tertarik dan bergairah jika ia melihat aurat wanita yang terbuka. Begitu juga dengan kaum yang tidak sesuai dengan fitrah tersebut. Mereka akan terangsang dengan aurat laki-laki yang terbuka. Kaum homo akan “on” jika melihat paha laki-laki yang terbuka. Mereka juga akan “on” jika melihat laki-laki dengan baju ketat yang memperlihatkan otot dan lekuk-lekuk tubuhnya. 

Dari cerita beliau, saya pun tahu bahwa bukan hanya wanita yang harus menutup aurat, laki-laki juga wajib menutup aurat. Tapi kebanyakan laki-laki abai dengan auratnya sendiri, padahal aturan aurat laki-laki sudah diajarkan dalam agama Islam, yaitu di antara pusar sampai lutut. Sebaiknya, laki-laki juga menghindari memakai pakaian ketat, kata Kak Sinyo.

Data yang mencengangkan juga menunjukkan laki-laki terindikasi kuat mengalami kelainan seksual sebanyak 90% dibanding wanita. Jadi yang terindikasi homo bukan hanya mereka yang menyukai sesama jenis, bahkan yang hetero sekali pun bisa terindikasi kelainan ini walaupun ia sudah menikah dan punya anak.

Kak Sinyo juga menjelaskan secara lengkap tentang bagaimana mendeteksi dini apakah anak-anak kita terindikasi menyukai sesama jenis atau tidak. Penyebab terindikasinya seseorang menyukai sesama jenis dapat dideteksi sejak sejak dini, mulai dari masa balita, masa kanak-kanak, hingga masa remajanya. 60% penyebab utamanya adalah faktor lingkungan dan psikologis. Orang tua juga memiliki faktor yang fatal sebagai penyebab terindikasinya anak menyukai sesama jenis. Untuk penjelasan detilnya, teman-teman bisa membaca buku Kak Sinyo yang berjudul LGBT (Lu Gue Butuh Tau).



Salah satu cara mengantisipasi hal tersebut di atas adalah dengan cara menjadi sahabat terbaik bagi anak. Posisikan diri kita sebagai orang tua yang siap menjadi tempat curhat anak. Begitu pun sebaliknya, sebagai orang tua, hendaklah terbuka kepada anak. Jangan sungkan untuk menceritakan kondisi finansial atau apa pun masalah yang sedang dialami orang tua. Dengan begitu anak tidak ragu untuk menceritakan cinta pertamanya, sahabat-sahabatnya, kegiatan sekolah, bahkan ketertarikannya kepada sesama jenis misalnya.

Baik anak laki-laki maupun perempuan memiliki porsi yang sama untuk terus mendapatkan pengawasan ekstra dari orang tua. Inti komunikasi kepada anak harus mengacu pada tiga poin, yaitu jujur, terbuka dan tidak vulgar. Sering orang tua lebih sibuk dengan ponselnya, sehingga pada saat anak bertanya sesuatu atau mengungkapkan sesuatu, orang tua hanya menanggapi sekilas tanpa beralih dari layar ponselnya. Tak jarang juga orang tua menganggap haram hukumnya seorang anak menanyakan hal sensitif seperti “bagaimana ia bisa lahir ke dunia” atau “kenapa ia bisa ada di perut bunda”. 

Orang tua yang kurang memahami bagaimana menghadapi pertanyaan anak yang seperti itu, akan langsung memutus komunikasi bahkan mewanti-wanti si anak untuk tidak menanyakan hal tersebut. Akhirnya si anak pun akan mencari jawaban dari orang lain yang justru akan menjerumuskannya kepada hal yang buruk. 

Kak Sinyo megingatkan agar tidak memutus komunikasi dengan anak. Hendaknya orang tua memandang mata anak, merangkulnya dan beri jawaban sejauh mana yang orang tua pahami, tentunya dengan kata-kata atau bahasa yang tidak vulgar. Untuk memberi jawaban dan memuaskan rasa ingin tahu anak, tentunya butuh ilmu dan penguasaan yang baik dari orang tua. Maka sebagai orang tua, jangan berhenti belajar. Belajar bisa dari mana saja, internet, buku, menghadiri kajian, seminar, diskusi, dll. Dan yang paling utama adalah doa memohon perlindungan bagi anak kita kepada Allah subhanahu wata’ala.

[Tambahan]
Demi memenuhi janji saya di postingan instagram tentang ciri-ciri wanita yang sedang jatuh cinta, berikut ini ciri-ciri yang dimaksud. Walaupun tidak berkaitan dengan tulisan di atas tak apalah, terlanjur janji. Barangkali ada yang penasaran 😂

Ciri-ciri wanita yang sedang jatuh cinta:
1. Bila bertemu orang yang dia suka, perutnya mules, deg-degan, serasa ada kupu-kupu terbang berkeliling di atas kepala
2. Ingin selalu dekat dengan orang yang disukai
3. Selalu ingat dia di mana pun berada, bahkan lihat kecoa pun ingat si dia 
4. Cemburu. Tidak suka melihat orang yang dicintainya berdekatan dengan orang lain.

Udah itu aja! Gak penasaran lagi, kan? Ehm...apakah teman-teman mengalami 4 ciri-ciri di atas? 😊


  

Wednesday, 28 February 2018

Cara Asyik Menikmati Senja





Sejak purba, senja mati dalam usia muda
Aku hanya mampu menggunting senja
Menyimpannya di sudut hati
Dan membukanya saat aku tak tahu
Bagaimana mengobati penyakit rindu
Akulah sang penghimpun senja
(Puisi “Sang Penghimpun Senja” dari novel Akik dan Penghimpun Senja karya Afifah Afra)

Siapa pun yang menatap senja pasti akan tersihir oleh keindahannya yang begitu mempesona. Di mana pun kau menatapnya, takkan berkurang keindahannya. Pantai, gunung, di atas gedung bahkan di atas loteng rumahmu, senja akan selalu indah dipandang dari berbagai sisi.

Cara menikmati senja bagi setiap orang berbeda-beda. Izinkan saya berbagaia cara asyik menikmati senja versi saya:

Wednesday, 21 February 2018

Memoar Sang Ulama Besar




Judul                            : Buya HAMKA Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama
Penulis                          : Yanuardi Syukur dan Arlen Ara Guci
Penerbit                        : Tinta Medina
Cetakan                       : 1, 2017
Tebal                            : 208 halaman

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan HAMKA merupakan seorang ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia. Ia adalah aktivis Muhammadiyah yang bervisi kebinekaan untuk keutuhan bangsa Indonesia. Kehidupan keluarga HAMKA rupanya tidak semenyenangkan yang saya kira. Ia harus menyaksikan perceraian orang tuanya saat masih kecil. HAMKA kecil juga dikenal sebagai anak nakal yang sering terlibat perkelahian antar siswa sekolah.


Buku biografi “BUYA HAMKA: Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama” ini ditulis oleh kolaborasi antara Yanuardi Syukur dan Arlen Ara Guci dengan membaginya menjadi tiga fase; fase pra penjara, fase penjara dan fase pasca penjara. 

Fase pra penjara secara garis besar menceritakan masa kecil HAMKA, aktivitas organisasi, kegiatan menulis dan hubungannya dengan pemerintahan Soekarno pada masa itu. Selain masa kecil yang sedikit disinggung di awal tulisan ini, saya sangat tertarik dengan kegiatan atau aktivitas menulis HAMKA. Setelah membaca aktivitas menulis dan membacanya, saya menemukan kesamaan dengan beliau seperti yang dikatakan Buya Zas, teman HAMKA.


“HAMKA bisa membaca selama dua tiga jam dan mencatat di kertas apa pun yang dekat dengannya- seperti bungkus rokok- lalu mengantongi catatan tersebut.” (hlm. 39)


Bedanya adalah saya tidak pernah mencatat di bungkus rokok, tapi saya sengaja menyiapkan selembar kertas khusus untuk mencatat apa pun dari buku yang dibaca 😀

Sejak muda, HAMKA sudah aktif menulis. Tulisannya rutin muncul di surat kabar dan majalah. Ia juga pernah menjadi wartawan dan editor di majalah Pedoman Mayarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam. Dalam hal membaca, HAMKA merupakan pembaca segala jenis karya mulai dari tasawuf, sejarah, filsafat dan moralitas. Pengaruh dari bacaan-bacaan tersebut cukup signifikan bagi perkembangan wawasan dan kemampuan menulisnya. 

Beberapa karya fenomenal telah berhasil ia terbitkan, di antaranya; Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, Tasawuf Modern hingga Tafsir Al-Azhar yang berhasil ditulisnya selama di dalam penjara. Masih banyak lagi karya tulis HAMKA yang ternyata jumlahnya mencapai 118 karya. 

Fase kedua, yaitu penjara. Kisah dipenjarakannya HAMKA cukup menyedihkan. Pasalnya ia dijebloskan ke penjara oleh sahabatnya sendiri, Soekarno. Alasan tidak masuk akal pun dibuat untuk meloloskan niat memenjarakan HAMKA. Ia dituduh ingin membunuh Soekarno dan berkhianat bersekongkol dengan Malaysia. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, HAMKA tetap menjalani kurungan selama dua tahun.

Membaca fase penjara ini, saya jadi teringat dengan peristiwa yang berkaitan dengan ulama yang ditangkap yang terjadi saat ini. Rupanya kasus HAMKA masih relevan dengan zaman sekarang, di mana para ulama dituduh, ditangkap dan dipenjara dengan alasan menyebarkan kebencian atau kasus lainnya.

Saya menilai, tidak semua orang dipenjara itu bersalah. Mereka justru dipaksa mengaku bersalah atas apa yang tidak dilakukan. Seperti kasus HAMKA dan ulama-ulama saat ini. Meskipun di dalam penjara HAMKA tetap mampu menghasilkan karya. Salah satunya buku Tafsir Al-Azhar yang ditulisnya selama di penjara.

Fase terakhir, yaitu pasca penjara. Keluar dari penjara HAMKA tetap menjalani aktivitasnya seperti dulu; ceramah, menulis, mengajar dan mengurus organisasi. HAMKA dilantik menjadi ketua umum MUI pada 27 Juli 1975. Selama memimpin MUI, HAMKA melakukan kebijakan intern maupun ekstern. Ia juga merumuskan fatwa-fatwa terkait urusan agama Islam. Salah satu fatwa yang membuat resah pemerintah adalah diharamkannya umat Islam untuk turut merayakan Natal bersama. Bahkan mentri agama saat itu mendesak HAMKA untuk mencabut fatwa tersebut.

HAMKA tidak rela merusak aqidahnya dengan mencabut larangan tersebut. Daripada ia harus mencabut fatwa larangan merayakan Natal bagi umat Islam, ia justru memilih mundur dari jabatan ketua MUI. 

Keteladanan yang dapat diambil dari sosok ulama besar ini adalah sifatnya yang tidak mendendam dan ringan hati. Ia tidak mendendam pada Soekarno yang telah memenjarakannya, justru tetap menganggap Soekarno sebagai sahabatnya. Begitu pun dengan Pramudya Ananta Toer dan M. Yamin yang memusuhinya karena perbedaan pemikiran. HAMKA memaafkan mereka tanpa rasa dendam sedikit pun.

HAMKA bukan hanya ulama yang berpengaruh di masanya, hingga sekarang pun ia menjadi panutan dan inspirasi bagi umat Islam. Banyak mutiara hikmah yang telah ditorehkannya ke dalam karya tulis yang masih dicetak dan ditulis kembali oleh penulis-penulis Indonesia pada masa sekarang. Membaca biografi Buya HAMKA seperti meraup ilmu langsung dari sumbernya. Penulis buku ini berhasil menuliskan sebuah memoar yang ringan namun sarat makna.

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...