Tuesday, 18 October 2016

PUISI KAYA HIKMAH





Salah satu bentuk karya sastra adalah puisi. Saya suka membacanya meskipun sulit memahami makna yang terkandung di dalam sebuah puisi. Kali ini buku kumpulan puisi yang berhasil saya tuntaskan adalah buku karya salah satu penulis senior FLP, M Irfan Hidayatullah, dengan judul “Ada Titik Menari Samar Sekali”.
Membaca puisi-puisi dalam buku ini saya menemukan banyak sekali diksi baru yang asing bagi saya. Keluasan wawasan penulis dalam dunia literasi terlihat dari tulisannya yang kaya diksi. Memang, diperlukan keindahan kata dan kelihaian mengolahnya hingga menjadi sebuah puisi yang patut dilirik oleh penikmat sastra.

Thursday, 13 October 2016

BERANI BICARA GARA-GARA FLP



ForumLingkar Pena, sudah lama sekali saya mengenal komunitas ini. Perkiraan saya sejak duduk di bangku SMA. Waktu itu saya berlangganan majalan remaja islami yang isinya banyak memuat cerpen, yaitu majalah Annida. Dari majalah itu saya mengenal Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Novia Syahidah, Ifa Afiyanti, Boim Lebon, O Solihin, dan lain-lain. Saya tahu FLP sering mengeluarkan buku-buku baru seperti novel atau kumcer (kumpulan cerpen). Sempat juga membeli beberapa buku terbitan FLP. Saya suka buku-buku terbitan FLP, karena selain ceritanya bagus-bagus, juga dapat ilmu yang bermanfaat seputar islam dan literasi darinya.

Dulu saya belum tahu kalau di FLP ada perekrutan kader penuli pemula. Saya baru mengetahuinya sekitar tahun 2014, sedangkan mengenal majalah Annida sekitar tahun 2002. Wah, telat sekali ya!

Suatu hari saya sedang membuka facebook, tak sengaja melihat poster pendaftaran pramuda FLP Jakarta angkata 19. Tak perlu berpikir panjang, saya pun mendaftar. Agak lama menunggu info selanjutnya setelah mendaftar, hingga saya hampir lupa kalau pernah mendaftar FLP. Ditambah lagi persyaratan pembayaran yang belum ditunaikan karena pada waktu itu sedang tak ada uang. Saya pasrah, mungkin panitia tidak memasukkan saya ke dalam list peserta karena belum membayar, pikir saya. 

 Akhirnya saya melupakan perekrutan penulis baru FLP tersebut, hingga suatu hari sebuah chat di whatsapp mengejutkan. Notifikasi sebuah grup baru hinggap di ponsel saya. Ketika saya buka dan ternyata itu adalah grup pramuda 19 FLP Jakarta. Betapa senangnya mengetahui diri ini berada dalam grup tersebut. Ternyata pikiran saya salah tentang panitia FLP yang tidak memasukkan nama saya ke dalam list anggota baru mereka. Sejak saat itu saya begitu antusias menunggu info-info baru dan obrolan teman-teman baru pecinta literasi di grup pramuda FLP.

Bersama teman-teman seangkatan

Sebenarnya saya belum pernah belajar mengenai teori menulis dari mana pun, dan belum pernah membuat tulisan kecuali menulis buku diary saat SMA dulu. Saya hanya suka membaca buku seputar dunia menulis. Namun, sayang sekali semenjak saya bekerja tidak pernah menulis diary lagi, mungkin karna terlalu sibuk dan capeknya. Saya hanya suka sekali membaca cerpen-cerpen yang ada di majalah Annida dan terbesit keinginan bisa menulis seperti para penulis cerpen tersebut.

Saya termasuk orang yang pendiam, kurang bergaul, apalagi menjadi anak popular di sekolah. Ah, sepertinya mustahil. Saya tidak percaya diri jika berbicara di depan orang banyak. Bukan hanya di depan orang banyak, dalam keluarga pun saya termasuk yang sedikit bicara. Badan akan gemetar hebat bila harus bicara di depan orang banyak. Maka saya putuskan untuk bergabung dengan FLP. Lho? lalu apa hubungannya rasa percaya diri dengan FLP? Harusnya saya mendaftar ke kursus kepribadian, bukan dunia menulis, hehehe.

Saya berpikir tak perlu menjadi orang yang pintar bicara, pidato, ceramah atau apa pun yang berhubungan dengan khalayak ramai. Karena memang saya tak punya keahlian tersebut. Dari situ saya berkesimpulan menulis tidaklah membutuhkan keahlian berbicara. Saya bisa mengungkapkan apa yang ada di pikiran melalui tulisan tanpa harus bergetar di depan banyak orang. Itulah alasan saya bergabung dengan FLP. Saya akan mengasah kemampuan menulis di sana dan mulai menulis apa yang ingin saya sampaikan.

Ternyata dugaan saya salah. Setelah bergabung dengan FLP saya mengetahui bahwa menulis juga memerlukan keahlian berbicara. Karena penulis juga merangkap sebagai pembicara. Apa yang akan dibicarakan? Ya tentunya tulisan kita, buku kita dan apa pun yang kita tulis agar orang lain tahu, kenal dan tergerak untuk membaca dan membeli hasil karya kita. Mau tak mau saya harus memberanikan diri untuk itu. Merasa sudah terlanjur basah bergabung dengan FLP, jadi sekalian saja tenggelam di dalamnya.

Semakin lama berada di dalamnya, saya merasa semakin tenggelam. Ilmu tentang kepenulisan semakin banyak saya dapatkan, kemampuan menulis pun semakin terasah walaupun belum bisa dikatakan mahir. Selain ilmu kepenulisan, saya juga mendapatkan teman baru dan yang paling penting saya bisa bergaul dengan para penulis FLP yang hebat-hebat.

Para penulis keren FLP Jakarta
 
FLP semakin mengisi hari-hari saya. Pelatihan yang diselenggarakan setiap dua pekan sekali selalu menjadi momen yang saya tunggu-tunggu. Pertemuan dilaksanakan setiap hari Minggu, di mana hari itu memang waktu luang saya. Jika tak ada halangan yang berarti bisa dipastikan saya akan hadir di setiap pertemuan. Saya semakin aktif, semakin disibukkan dengan kegiatan FLP. Bukan hanya menulis, tapi beberapa event seperti seminar hingga nonton bareng pun saya ikut berpartisipasi di dalamnya.

nonton bareng film KMGP bersama FLP Jakarta

Tak disangka saya menjadi bagian dari komunitas menulis sekeren FLP. Bangga bisa bergabung dan bergaul dengan para penggiat literasi. Saya menjadi salah satu anggota aktif yang sering menjadi penyemangat teman-teman seangkatan. Saya sering mengingatkan teman-teman jika ada pertemuan berikutnya, juga menyemangati mereka untuk selalu menulis, paling tidak posting tulisan di blog masing-masing dan dishare ke teman-teman lain untuk dibaca dan dikomentari.  Dan saya mulai memberanikan diri untuk berbicara, mengungkapkan pendapat, mengajukan pertanyaan dalam setiap kesempatan yang sebelumnya tidak berani kulakukan di tempat lain. 

FLP telah mengubah diri saya dari seorang yang pendiam menjadi lebih aktif dan sedikit demi sedikit berani berbicara. Tapi tidak sepenuhnya berubah, kadang penyakit itu masih muncul di saat-saat tertentu. Saya yakin semua itu butuh proses, dan saya sedang menjalani proses itu. Harapan saya suatu saat nanti tiba waktunya saya tak gemetar lagi bicara di depan umum dan FLP menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan itu.

Wednesday, 12 October 2016

Berdamai Dengan Bosan

Setiap orang pasti pernah, bahkan mungkin sering mengalami kebosanan dalam hidupnya. Lalu apa yang kamu lakukan dalam menghadapi kebosanan itu?

Sering saya temukan orang yang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya karna alasan bosan. Itu juga pernah saya alami beberapa tahun lalu. Namun, bosan bukan satu-satunya alasan yang membuat saya resign.

Setelah bertahun berlalu dan mengalami beberapa kali pengunduran diri dari pekerjaan, saya pun menyadari satu hal yang berkaitan dengan kebosanan.

Sejatinya bosan tidak untuk dihindari tapi dihadapi. Mengapa harus dihadapi? Karna mungkin suatu saat nanti bosan itu akan datang padamu lagi. Ia akan hadir mengisi harimu lagi. Jadi kamu tak akan bisa menghindar darinya.

Lalu bagaimana cara menghadapinya?

Bosan melanda di saat kita lelah menghadapi aktifitas yang itu itu saja. Rutinitas yang monoton, bertemu dengan dia lagi, kamu lagi, kamu terus.

Bosan melanda mungkin saat hati dan pikiran kita kosong. Terjebak dengan rutinitas yang monoton membuat kamu tak punya kesempatan mengembangkan diri, menikmati gaji, mengisi hati dan menata diri menggali potensi.

Hadapi kebosanan itu dengan berani, ambil posisi dan atur strategi. Kamu bisa berlibur misalnya. Berhenti sejenak dari kegiatan yang kamu anggap membosankan itu. Pergilah ke mana kamu suka. Nikmati setiap jam, menit dan detiknya.

Pergilah silaturrahim ke kerabat yang telah lama tak kau kunjungi. Seberapa pun jauh jaraknya, niatkan untuk menguatkan ikatan persaudaraan karna Allah. Ziarah ke teman dan sahabat yang tlah lama tak kau sapa. Yang paling utama datangilah orangtua yang semakin jauh jaraknya darimu.

Singgahlah, hadirilah tempat di mana malaikat-malaikat berkumpul. Taman surga namanya, tempat di mana orang-orang salih berkumpul mengajak kepada amar ma'ruf, mengkaji Al qur'an, saling nasihat menasihati, mengajak untuk mengingat Allah. Kekosongan hati akan terisi, pikiran akan penuh dengan amunisi, galau tak ada lagi, bosan pun sirna tak kembali.

Lalu kembalilah pada rutinitasmu. Kembalilah dengan senyum, semangat dan percaya diri.

Dan di sinilah saya kembali pada rutinitas yang dulu membosankan. Namun, akan saya hadapi semuanya dengan ikhlas dan sunggu-sungguh seolah memulai semuanya dari nol.


Selamat tinggal bosan!




Sunday, 9 October 2016

MATI SYAHID ALA ABANG SYAHRUL


Abang Syahrul dan Abang Zaid dengan aktifitas paginya, memberi makan kucing :D

Sabtu kemarin jadwalku silaturrahim ke rumah kakak di daerah Bekasi. Lama tak bertemu dengan ponakan-ponakan jagoan yang rupanya kangen juga sama aku (hehee, ciee ada yang kangenin).

“Tanteeee..tante ke mana aja sih? Tante nih pergi pergi terus!” tanya Syahrul, ponakanku yang duduk di bangku kelas 2 SD. Ditanya begitu aku pun tak bisa menjawab, hanya senyum mengembang yang  kulemparkan sebagai jawabannya.

Mulailah Syahrul dan Zaid (4 tahun) bercerita apa saja yang ingin mereka ungkapkan. Mulai dari mainan, lego, gambar, hingga rumah kardusnya. Aku menyimak dengan seksama satu per satu cerita mereka yang sekaligus sibuk dengan mainan yang berserakan memenuhi ruang tamu. Hingga tiba-tiba Syahrul bertanya sesuatu.

Jadikan Buku Benda Favorit Anak

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar dengan tema “Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca”. Sa...