Monday, 8 May 2017

Gemari Karyanya, Jangan Penulisnya!

Saya jarang sekali baca novelnya Tere Liye. Novel pertama karya beliau yang saya baca adalah "Bidadari Bidadari Surga" dan itu sudah lama sekali. Nah, kira-kira sekitar tahun lalu saya membaca novel Tere lainnya yang berjudul "Pulang" dan itu baaaguuus banget menurut saya. Saya menyebutnya sebagai "novel rasa film". Bagaimana tidak? Membaca "Pulang" serasa menonton sebuah film action, seru dan menegangkan.

Sejak saat itu, saya jadi tertarik membaca novel Tere Liye lainnya. Sebut saja; Bumi, Bulan, Matahari, Tentang Kamu, Rindu, Berjuta Rasanya, Sepotong Hati Yang Baru. Saya memang belum membaca semua novel karyanya, tapi dari judul yang saya sebut di atas semuanya sangat berkesan, keren dan inspiratif.

Saya pernah bertanya dalam hati "kok bisa sih dia bikin cerita bagus kayak gini? Gimana caranya?" Saya pun mengambil kesimpulan dengan membuat jawaban sendiri. "Pastilah penulisnya adalah seorang yang cerdas, kreatif dan berimajinasi tinggi".

Selama ini saya tidak pernah melihat langsung sosok pencipta Raib, Ali dan Seli ini. Tapi hari ini di event Islamic Book Fair 2017, saya berkesempatan menghadiri bedah buku Tere Liye, Tentang Kamu. Dan saya cukup excited melihatnya. "Ternyata Tere Liye begini orangnya" :D

Tere Liye muncul, naik ke panggung dan mengisi acaranya sendiri tanpa moderator dan ia memoderatori dirinya sendiri. Penampilannya sangat santai, dengan kaus oblong, celana jins tanpa kupluk yang menjadi ciri khasnya.

Mulailah ia menceritakan proses kreatif buku "Tentang Kamu". Ia menyampaikan bahwa ia menulis Tentang Kamu hanya menghabiskan waktu satu bulan. Tapi jangan salah, risetnya sendiri dilakukan selama satu tahun lebih. Dan memang rata-rata novel yang ditulisnya memerlukan waktu satu tahun lebih untuk riset. Salah satu risetnya ia lakukan di sosial media, facebook. Tere sering melakukan survey ke para pembacanya melalui akun tersebut. Jadi, secara tidak langsung pembaca punya andil penting dalam mengembangkan ide ceritanya.

Meskipun judul-judul novelnya kebanyakan mengandung unsur "baper dan galau", kenyataannya saat membaca kisahnya, kita tidak akan menemukan kebaperan tersebut. Yang ada isinya tentang keteguhan, perjuangan hidup, shadow ekonomi, religius, walaupun tak ketinggalan unsur romance-nya.

Tere merupakan penulis produktif yang menulis novel dengan genre bervariasi. Ada soal cinta, keluarga, ekonomi, politik, anak dll. Berbagai genre tersebut mematahkan pemikiran pembaca yang men-cap bahwa Tere Liye adalah penulis roman.

Novelnya yang telah terbit sudah 26  buku. Dan ia membocorkan novel selanjutnya yang akan segera hadir tahun ini adalah "Bintang", lanjutan dari tiga serial sebelumnya Bumi, Bulan dan Matahari. Dan satu bocoran lagi, ia mengatakan serial Raib dkk, tidak akan berhenti sampai di Bintang. Akan ada kisah selanjutnya setelah Bintang.

Tere menyapa audience dengan kata "dek".

"Jadi gini ya, dek"
"Adik-adikku sekalian"
"Kalau mau jadi penulis harus banyak latihan, dek"

Tidak seperti penulis lain yang sudah terkenal, Tere termasuk orang yang tidak suka difoto apalagi diajak selfie. "Gak usah foto foto sama saya. Gak ada gunanya sama sekali," ujarnya.

Ada pertanyaan dari audience begini, "Novel Tere Liye bagus dan kaya diksi. Bagaimana caranya bisa menggunakan diksi yang tepat sehingga membuat tulisan menarik?"

"Latihan," jawabnya.

Lalu Tere melanjutkan, "Gini ya, dek. Menulis itu ibaratnya sama dengan memasak. Contonya begini, coba kalian berikan satu nampan berisi bahan makanan kepada ayah kalian dan bilang padanya, 'wahai ayah jika kau benar mencintai anakmu ini, buatkanlah saya 12 jenis masakan dari bahan-bahan ini'

Sang ayah pun akan melakukannya sesuai dengan yang ia mampu. Tempe digoreng, tahu digoreng. Selesai. Lalu, kacang panjang? Entah harus diapakan.

Tapi lain lagi jika kau bawa nampan berisi bahan makanan tersebut kepada ibumu. 'Wahai ibu bila kau benar mencintai anakmu ini, buatkanlah 12 jenis masakan untukku'. Maka ibu akan membuatkan 12 jenis masakan yang bervariasi seperti yang kau minta.

Mengapa bisa begitu, dek? Mengapa ayah hanya bisa memasak tempe goreng dan tahu goreng. Sedangkan ibu bisa membuat macam-macam jenis masakan? Simply. Jawabannya karna ibu sudah bertahun-tahun melakukannya. Ia sudah terbiasa memasak, jadi mudah sekali baginya untuk membuatkanmu 12 jenis masakan. Sedangkan ayah? Jangankan membuat 12 masakan, membedakan bumbu dapur saja sulit.

Jadi, dek. Menulis pun sama seperti memasak, butuh latihan."

Bedah buku sore itu cukup seru, tak sedikit pernyataan Bang Tere yang mengundang tawa audience membuat ruangan lebih semarak. Dari pertemuan singkat itu saya jadi tau sosok Tere Liye yang mengaku bukan orang yang religius, tapi dalam novelnya mengandung pesan-pesan religius yang begitu berarti.

Harapan Tere pada pembaca novelnya adalah agar bisa menghibur, lalu naik ke level bermanfaat dan naik lagi ke level inspiratif.

O ya, saya bukan penggemar apalagi yang nge-fans berat sama Tere Liye. Saya hanya menyukai karya-karyanya. Dan Tere Liye juga bilang, "Jangan menyukai penulisnya, cukup sukai saja karya-karyanya."

Saturday, 15 April 2017

Diskusi Rempah dan Ilmu Gaib




Sabtu, 15 April 2017, saya berkesempatan menghadiri pameran rempah-rempah. Pameran ini digelar di  Gedung Galeri Pos Indonesia, Kota Tua. Selain pameran, kegiatan ini juga diramaikan dengan acara bincang-bincang dengan tema seputar rempah-rempah.  Tema rempah-rempah ini menarik sekali bagi saya, karena jarang sekali saya temukan sebuah acara diskusi, seminar dan semacamnya yang mengangkat rempah-rempah sebagai tema utama. Ah, mungkin saja pergaulan saya yang kurang luas, sehingga tidak mengetahui kegiatan seperti ini.

Diskusi kali ini menghadirkan pembicara seorang pengajar di Universitas Khairun, Ternate, yaitu Yanuardi Syukur, Msi. Beliau juga merupakan anggota komunitas penulis Forum Lingkar Pena. Tema diskusi hari ini adalah “Rempah dan Ilmu Gaib”.


 
Berbicara tentang rempah tak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia, karena bicara rempah berarti bicara Indonesia. Rempah-rempah itu sendiri menjadi salah satu komoditi yang diperebutkan oleh penjajah pada masa lalu. Sayangnya msyarakat kita belum memaksimalkan potensi rempah-rempah yang ada. Rempah-rempah yang kita tahu secara umum digunakan sebagai bahan penyedap masakan. Padahal lebih daripada itu, rempah dapat digunakan ssebagai perawatan dan pengobatan.

Ilmu gaib lebih banyak disinggung dalam diskusi kali ini. mas Yankur, begitu beliau biasa disapa, banyak menceritakan hal-hal mistis atau gaib yang masih dipercaya oleh masyarakat Indonesia. Setiap daerah memiliki kepercayaan masing-masing yang berkaitan dengan ilmu gaib. Sebagai contoh, masyarakat di beberapa daerah lebih memilih membawa anak mereka yang terserang sakit ke dukun atau para normal daripada ke dokter untuk penyembuhan.

Selain kepercayaan pada ilmu gaib yang terjadi di masyarakat, rupanya ilmu gaib juga ada kaitannya dalam dunia politik. Betapa masih banyak calon pemimpin di daerah-daerah yang mendatangi “orang pintar” agar ia dapat terpilih menjadi gubernur, bupati, dll. Mereka rela menghabiskan uang jutaan untuk dialokasikan kepada “orang pintar” tersebut.

Mungkin kita yang hidup di daerah perkotaan agak sulit mempercayai hal-hal gaib semacam itu. Tapi sejatinya itu ada dan sebagian masyarakat kita pun masih meyakininya. Karna sesungguhnya sesuatu yang tidak terlihat itu bukan berarti tidak ada. Seperti angin yang tidak terlihat tapi dapat kita rasakan, tutur Mas Yankur.

Pada akhirnya masih banyak hal yang perlu dikaji, diteliti dan dipelajari lagi tentang rempah-rempah ini agar lebih popular di masyarakat, sehingga manfaatnnya lebih bisa dirasakan oleh kita semua.


Pameran rempah ini masih akan berlangsung hingga Minggu 16 April 2017. Dengan kegiatan-kegiatan menarik lainnya seperti workshop, kreatifitas dan bincang-bincang seputar rempah-rempah. Jika ingin mendapatkan bibit rempah-rempah, panitia juga menyediakan bibit-bibit yang bisa dibeli di sana.  

Sunday, 26 March 2017

Menulis Sebagai Sarana Dakwah



Judul: ADAB (Aqidah, Dakwah dan Budaya)
Penulis: Ahmad Lamuna, Elenra, Etika Avicenna, Bintu Khansa, Rahmat Zubair,   Arya Noor, Agus Dwi Putra
Diterbitkan oleh: Divisi Rohis FLP Jakarta, 2016




Al-Ilmu shaidun wal kitaabatu qaiduhu, qayyid shuyuudaka bil hibaalil waatsiqah. Ilmu adalah binatang buruan, sedangkan menulis adalah pengikatnya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat”

Mahfuzhat di atas menjadi salah satu alasan saya menulis. Bagi orang yang mudah lupa seperti saya, menulis dapat menjadi sarana pengingat tentang ilmu yang berhasil ditangkap dari mana pun. Saya berusaha untuk menuliskan informasi atau ilmu apa saja dari, misalnya sebuah kajian, seminar, workshop, bedah buku, bahkan dari novel atau buku  yang saya baca.

Sejak bergabung di sebuah komunitas menulis, yakni Forum Lingkar Pena, saya jadi tahu bagaimana membuat tulisan yang baik dan teknik menulis yang benar, serta semakin yakin dengan tujuan saya menulis selain mengikat ilmu. Saya merasa FLP sesuai degan apa yang saya inginkan, karena FLP merupakan gerakan literasi yang membawa nilai Islam di dalamnya.

Friday, 24 March 2017

BERANI BELA ISLAM? BUKTIKAN!





Judul                           : Seberapa Berani Anda Membela Islam?
Penulis                         : Na’im Yusuf
Penerbit                       : Maghfirah, Mei 2016
Tebal                           : 274 halaman

Seberapa berani Anda membela Islam?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, sebaiknya ketahui dulu ciri-ciri atau karakteristik yang harus dimiliki seorang pemberani. Buku ini membahas secara detil karakteristik seorang yang pemberani, serta contoh nyata sikap berani yang ditunjukkan oleh Nabi Saw. dan para sahabat. 

Lalu, apa sajakah karakteristik yang harus dimiliki untuk  menjadi seorang yang pemberani? Penulis menjabarkan tiga belas karakteristik pemberani, yaitu; mencintai masjid, menyeru ke jalan Allah, sungguh-sungguh dan tanggap, bersikap aktif dan bertanggung jawab, bercita-cita tinggi, mulia dan terhormat, berani di atas kebenaran, berani, berjihad dan berkorban, teguh di atas kebenaran, sabar dan membiasakan diri, memenuhi janji dan jujur pada Allah SWT, terakhir tidak mudah putus asa dan pesimis.

Wednesday, 22 March 2017

Jangan Bepergian Kecuali ke Tiga Tempat Ini



Bagi kita yang menyukai traveling atau memiliki mimpi bisa pergi ke luar negeri, pasti akan dengan mudah menyebutkan negara mana yang menjadi impian kita untuk dikunjungi. Amerika, Prancis, Jepang, Dubai, Turki, dan negara-negaraa tujuan wisata lainnya. Bagi mereka yang mendapat ujian dengan kelebihan harta, akan dengan mudah mewujudkan keinginan untuk traveling ke mana pun mereka mau. 
 
Tapi, tahukah kita bahwa ada tiga tempat yang wajib dikunjungi oleh umat Islam selagi ia hidup di dunia?

Rasulullah Saw. bersabda: 

“Jangan sering-sering bepergian, kecuali ke tiga tempat ini, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa.”

Hadist lainnya berbunyi,

Monday, 20 March 2017

MISTERIUSNYA PARIS TETAP ROMANTIS




Judul                   : Paris Aline
Penulis                 : Prisca Primasari
Penerbit                : Gagas Media, 2012
Tebal                    : 212 halaman

Kesan pertama baca novel ini, lucu. Bukan, ini bukan novel komedi. Tapi sejak bab awal, tengah hingga akhir, penulis berhasil membuat pembaca tertawa- meski tidak sampai terbahak. Narasi segar diselipi humor, dialog renyah serta frase jenaka menjadi bumbu sedap dalam novel Prisca yang -sekali lagi- misterius sekaligus romantis.

Penulis yang sangat piawai dalam memilih setting lokasi di luar negeri, kali ini memilih Paris sebagai latar lokasi sekaligus judul novelnya. Aline si tokoh utama adalah seorang mahasiswi Universitas Sorbonne yang juga bekerja di restoran Bistro Lombok, sebuah restoran Indonesia di Paris. Aline adalah pencinta anime dan cuku mahir menggambar karakter anime. 

Tuesday, 14 March 2017

MUSCAB FLP JAKARTA 2017



Dari setiap event yang digelar apa pun itu jenisnya, ada satu momen yang paling seru dan dinanti-nanti. Momen apakah itu?

Momen itu adalah foto-foto. Yup! Menurutku itulah momen yang paling dinanti. Momen di mana semua orang bebas mengekspresikan gaya demi terekam sempurna dalam kamera. Acara paling seru di saat semua berkumpul dengan wajah ceria tak lupa senyum merekah, siap diabadikan.

Sunday, 12 February 2017

Kisah Misteri Romantis Si Mata Ungu




Judul                           : Purple Eyes
Penulis                         : Prisca Primasari
Penerbit                       : Inari, Mei 2016
Tebal                           : 142 halaman

Membaca  awal bab buku ini saya langsung teringat oleh film yang tayang di stasiun TV swasta, yang tidak sengaja saya tonton. Judul filmnya yang saya ingat adalah Percy Jackson. Diceritakan bahwa Percy Jackson datang mengunjungi Neraka padahal dia masih hidup. Misinya pergi ke Neraka adalah untuk menyelamatkan ibunya yang ditawan oleh Dewa Penghuni Neraka.

Berbeda dengan Percy Jackson, buku ini justru menceritakan Dewa Kematian yang turun ke dunia dalam rangka mencabut nyawa seorang pembunuh berantai. Hades, si Dewa Kematian menjalankan misinya ke bumi bersama seorang asistennya yang bernama Lyre. Lyre adalah seorang gadis Inggris berusia 24 tahun yang meninggal pada tahun 1895.

Saturday, 11 February 2017

Memetik Hikmah Dari Kisah Abu Thalhah



“Kehangatan iman ketika mempelajari sirah Nabi dan sahabat, dapat kita rasakan begitu membuka lembaran-lembaran sejarah orang-orang mulia tersebut. Apalagi jika kita hidup di zaman mereka?” ~Khalid Basalamah~

Mempelajari sirah sahabat selalu memberikan motivasi dan inspirasi. Perjalanan hidup dan perjuangan mereka dalam Islam sangat menarik dan patut dicontoh. Saya merangkum beberapa fadhilah atau keutamaan sari seorang sahabat, yaitu Abu Thalhah.

Berikut sifat-sifat mulia dari Abu Thalhah yang bisa kita pelajari dan teladani:

Monday, 6 February 2017

Peduli Lingkungan Dalam Sebuah Cerpen




Judul                           : Wak Ali & Manusia Lumpur
Penulis                         : Taufan E. Prast, Zaenal Radar T, Andi Tenri Dala F, dkk
Diterbitkan oleh           : FLP Jakarta, 2016
Tebal                           : 181 halaman

Sejak resmi jadi anggota FLP Jakarta, akhirnya saya bisa memiliki karya tulis bersama anggota FLP Jakarta lintas generasi alias dari berbagai angkatan.

Yup, Alhamdulillah buku itu hadir dengan judul Wak Ali & Manusia Lumpur.  Jadi, ide pertama kali datang dari seorang  senior untuk membuat sebuah buku kumpulan cerpen. Sejak tercetus ide itu, kami mulai mencari satu tema yang akan diangkat dalam kumcer ini. ada yang mengusulkan tema cinta, jodoh, parenting, orangtua, dll. Setelah melewati tahap perenungan, hehe, terpilihlah tema tentang lingkungan.

Friday, 3 February 2017

Baby Sitter Keliling Eropa




Judul          : AU Pair Backpacking Keliling Eropa dengan Menjadi  Baby Sitter
Penulis       : Icha Ayu
Penerbit     : Stiletto Book, 2012
Tebal         : 232 halaman
Genre        : Non-Fiksi Traveling

Saya selalu suka dengan buku yang bertema traveling, baik dalam negeri maupun luar negeri. Setiap ada kesempatan pergi ke toko buku, rak khusus yang memajang buku-buku traveling tidak pernah luput dari jejak saya. Sesekali saya membeli buku-buku itu, kalau pun tidak membeli, saya bertahan cukup lama menyusuri setiap judulnya, melihat covernya yang menarik, membaca daftar isi, mengamati gambar-gambar menakjubkan dalam bukunya dan kepo dengan penulisnya yang beruntung bisa menjelajahi banyak tempat.

Wednesday, 25 January 2017

Jelajahi Eksotisnya Sumatra Barat





Judul                : Don’t Stop Exploring West Sumatra
Penulis              : Fisra Afriyanti
Penerbit            : Elex Media Komputindo, 2016
Tebal                : 304 halaman

Pertama kali lihat kalender setiap pergantian tahun, apa yang kamu cari? Let me guess. Pasti pada nyari tanggal merah alias hari libur, kan? Ayo ngaku! Karena saya juga begitu. Hehehe. Setiap ada long weekend ini hati kayaknya bahagiaaa banget. Buru-buru deh nyusun rencana liburan.

Siapa sih yang gak suka liburan? Heem, semua orang sepertinya sangat menggemari kegiatan yang satu ini. dengan kemudahan yang ada saat ini, kita dapat melakukan perjalanan liburan sesuai dengan keinginan. Informasi tentang travelling dapat diakses dengan mudah dan cepat melalui ponsel pintar yang sudah menjadi benda sejuta umat. Selain internet, kita juga bisa mendapatkan informasi seputar travelling melalui buku.

Thursday, 12 January 2017

KAYA TUJUH TURUNAN




Judul               : Crazy Rich Asians
Penulis             : Kevin Kwan
Penerbit           : Gramedia, 2016
Tebal               : 469 halaman

Rachel Chu dan ibunya adalah orang Cina daratan yang bermigrasi ke New York dari sejak Rachel kecil hingga ia dewasa. Rachel adalah seorang lulusan ekonomi yang kini mengajar di salah satu universitas di New York, memiliki karier bagus, cerdas dan wajah cantik membuat Nicholas Young, teman sejawatnya, jatuh cinta.

Nick mengajak Rachel menghabiska liburan musim panas ke negeri asalnya, Singapura, sekaligus memperkenalkan Rachel pada keluarganya. Nick adalah keturunan Cina yang kaya raya. Seluruh keluarganya, mulai dari nenek, sepupu, paman dan bibinya hingga kedua orangtuanya merupakan orang Cina kaya yang menguasai dunia bisnis se-Asia. Selain keluarga, Nick juga memiliki teman-teman yang sama kaya dan suksesnya.

Gemari Karyanya, Jangan Penulisnya!

Saya jarang sekali baca novelnya Tere Liye. Novel pertama karya beliau yang saya baca adalah "Bidadari Bidadari Surga" dan itu su...