Showing posts with label Books I Read. Show all posts
Showing posts with label Books I Read. Show all posts

Wednesday, 29 January 2020

Menyelami Kisah Perjuangan Pangeran Diponegoro Melalui Novel Sejarah






Judul                           : Sang Pangeran Dan Janissary Terakhir
Penulis                         : Salim A. Fillah
Penerbit                       : Pro-U Media
Cetakan                       : I, November 2019
Tebal                           : 632 halaman
ISBN                           : 978-623-7490-06-7

“Kekalahan itu ketika ditinggalkan Gusti Allah meskipun kita menang perang ataupun punya banyak kawan serta pengikut. Sebaliknya yang disebut kemenangan adalah tetap bersama Gusti Allah meskipun kita tinggal sendirian atau bahkan binasa dalam peperangan”. (hlm. 443)

Saya begitu excited mendengar terbitnya buku terbaru Ustadz Salim ini. Kenapa? Karena buku-buku beliau yang pernah saya baca sebelumnya merupakan buku dengan genre non-fiksi. Nah, yang membuat saya excited ialah kali ini Ustadz Salim menulis buku fiksi, yaitu sebuah novel sejarah yang mengisahkan tentang Perang Jawa dengan judul “Sang Pangeran dan Janissary Terakhir”. Langsung saja saya mendaftar untuk PO kepada penerbit Pro-U. Ketika saya menerima buku ini, ternyata bukunya tebal dan besar. Saya sudah membayangkan keseruan cerita di setiap babnya.

Novel sejarah ini menceritakan tentang perjuangan Pangeran Diponegoro dalam membebaskan tanah Jawa dari jajahan Belanda. Perang yang berlangsung sejak tahun 1825 hingga 1830 menyisakan kepedihan yang begitu mendalam. Kemenangan dan kekalahan dipergilirkan. Beberapa tahun di awal peperangan, pasukan Pangeran Diponegoro membuat Belanda kualahan. Namun, seiring berjalannya waktu Belanda pun merasa di atas awan.

Seperti kutipan di atas tentang hakikat kalah dan menang, Sang Pangeran dan para pengikutnya pernah mengalami kekalahan. Bahkan Rasulullah pun dipergilirkan antara kemenangan dan kekalahan dalam peperangan memberantas kesyirikan kaum Quraisy. Kekalahan tentu saja membawa pada kesedihan, akan tetapi hal yang paling menyakitkan dari peperangan ialah adanya pengkhianatan yang bertubi-tubi menimpa Sang Pangeran. Kesedihan yang mendalam ketika orang kepercayaan, panglima hebat dalam pasukannya, bahkan kerabat yang memiliki ikatan kekeluargaan dengan Sang Pangeran justru membelot membela penjajah Belanda. Beruntung Sang Pangeran masih memiliki kawan setia dan para Janissary terakhir dari pasukan kekhalifahan Turki Ustmaniyah yang terus berjuang bersama demi tanah air merdeka.

Kehadiran para Janissary terakhir, Nurkandam dan Basah Katib, membuat novel ini semakin menarik. Saya terkesan dengan hubungan mereka yang begitu erat melebihi hubungan sekretaris kepercayaan dan anak pimpinan khalifah Turki Ustmani. Ditambah kisah cinta keduanya dengan wanita pribumi yang rumit. Sayangnya, ada yang berusaha merusak hubungan harmonis tersebut.

Plot atau alur cerita dalam novel ini dibuat maju mundur dari tahun 1821-1837. Awal membaca novel ini saya merasa kesulitan masuk ke dalam ceritanya. Alur yang maju mundur membuat saya bingung dan harus mengingat-ingat waktu kejadian peristiwa yang sedang diceritakan. Meskipun agak membingungkan di awal, semakin dibaca semakin terasa ketegangan, perjuangan, kesetiaan dan kepedihan yang dialami Sang Pangeran dan Janissary Terakhir dalam menghadapi musuh di medan perang.

Dengan ketebalan 632 halaman ini tentunya banyak tokoh yang ditampilkan. Hal ini juga  membuat saya berusaha keras mengingat siapa saja nama tokoh dan perannya dalam cerita ini. Tapi jangan khawatir, di awal pembuka novel ini Ustadz Salim menuliskan daftar nama tokoh plus kedudukannya di dalam cerita. Jadi, pembaca bisa lebih memahami keterkaitan antar tokoh-tokohnya.



Novel ini sangat cocok menjadi referensi para pecinta sejarah. Pembaca akan mendapat gambaran tentang sosok Sang Pangeran yang seorang pejuang sekaligus santri yang bijak dan solih. Hubungan erat antara kekhalifahan Turki dan mukmin Nusantara juga digambarkan dengan sangat apik. Satu hal yang cukup mengejutkan saya dapatkan dari novel ini ialah adanya salah satu alasan mengapa Belanda menjajah bumi Nusantara.

Belajar sejarah dengan membaca novel tentu lebih asyik daripada membaca buku sejarah dengan tema yang dianggap berat dan kurang menarik bagi sebagian orang. Walaupun tidak luput dari kekurangan, yaitu adanya beberapa kesalahan ketik, tidak mengurangi esensi dari kisah yang ditampilkan yang membutuhkan riset sekitar dua tahun dalam proses penulisannya ini. Bagi pecinta novel sekaligus penikmat sejarah, novel ini layak menjadi pilihan untuk memuaskan dahaga dengan menyelami kisahnya.  
 
  
  

Thursday, 5 December 2019

Menyelami Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro Dalam Sebuah Novel






“Emas, perak dan permata lebih mudah dihimpun kembali. Tapi kitab-kitab sastra dan pengetahuan jika dicuri, maka butalah peradaban itu.” (hlm. 328)

Biasanya saya itu mikir lama dan panjang untuk membeli sebuah buku terbitan baru. Kenapa? Mahal. Haha. Tapi entah kenapa pesona novel ini begitu menyihir saya (atau lebih tepatnya pesona dari sang penulisnya kali ya 😄). Begitu saya tahu akan ada PO buku ini di penerbitnya, yaitu Pro You Media, saya sangat menanti-nanti postingan PO nya di instagtam. Nah, saat resmi rilis PO, langsung saja saya mengontak nomor yang tertera dan memesan satu bukunya. Pro You menjanjikan buku ini akan dikirim pertengahan November 2019, tapi belum sampai pertengahan November buku ini sudah tiba di alamat saya. Maktuub!

Monday, 2 December 2019

Tuntunan Bagi Muslimah Dalam Meningkatkan Kualitas Diri


Judul : The Great Muslimah
Penulis : Hanny Dewanti & Penulis Muslimah
Penerbit  : Penerbit Ikon
Cetakan  : I, Juli 2019
Tebal : 223 halaman

Menjadi seorang muslimah tidaklah mudah. Ia harus menjadi contoh atau teladan bagi wanita lainnya. Kebanyakan orang menilai bahwa seorang muslimah sudah pasti berakhlak baik, sudah pasti sempurna. Padahal menjadi muslimah adalah proses belajar, belajar untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta, belajar menjaga perilaku, belajar menjaga ucapan, belajar menjaga pergaulan dan lain sebagainya. Dan dalam proses belajar itu selalu ditemukan kendala atau permasalahan yang cukup rumit. 

Friday, 8 November 2019

Kisah Persahabatan Menaklukan Dunia Kerja





Judul      :  Kami (Bukan) Jongos Berdasi
Penulis   : J.S. Khairen
Penerbit : Bukune
Cetakan : I, Oktober 2019
Tebal      : 409 halaman

Pertama kali lihat judul buku ini saya pikir ini adalah sebuah buku non fiksi yang membahas seputar pekerja kantoran atau terkait dunia politik. Saya tidak membaca sebuah tulisan kecil di sampulnya yang bertuliskan "sebuah novel". Ketika melihat tulisan itu saya baru menyadari, "ooh..ini novel?" 😁

Saturday, 27 July 2019

Jatuhnya Presiden Resmi Pilihan Rakyat




Judul               : Air Mata Presiden Mursi
Penulis             : AM. Waskito
Penerbit           : Pustaka Al Kautsar
Terbit               : Juli 2013
Tebal               : 137 halaman

Sangat menyedihkan mengetahui seorang presiden terpilih secara demokratis, solih, hafal Quran dan selalu siap berjuang demi bangsa dan agamanya, secara zalim ditumbangkan atau dikudeta oleh orang-orang yang haus kekuasaan dan darah umat Islam. Dia adalah Presiden Mursi, presiden legal pilihan 51 persen lebih rakyat Mesir pada 2012 lalu yang dikudeta oleh As Sisi, kaki tangan Amerika dan Israel.

Mengapa Presiden Mursi dikudeta?


Jelas visi misi Presiden Mursi membuat kaum sekuler-liberal gerah. Sikapnya yang keras kepala terhadap Israel, penjajah yang masih terus membombardir Palestina, membantai umat muslim di sana dan kaum syiah di Suriah pimpinan Bashar Assad yang terus menerus menumpahkan darah umat muslim sunni, membuat kedua negara tersebut geram kepada Mursi. 

Sejak Presiden Mursi terpilih sebagai presiden, akses bantuan ke jalur Gaza mengalir terus menerus. Presiden Mursi juga merupakan presiden pertama yang berasal dari sipil, sedangkan pemerintahan sebelumnya berkuasa di negeri Firaun itu berasal dari militer yang berkuasa selama lebih dari 30 tahun.

Mursi ingin membebaskan Mesir dari kesewenangan militer, ia juga ingin memberantas korupsi yang marak terjadi di masa kepemimpinan Husni Mubarak. Para pejabat terdahulu khawatir Mursi akan memburu mereka sehingga tidak bisa lagi leluasa menjalani aksi korupnya. 

As Sisi dan sekutunya juga sangat membenci Ikhwanul Muslimin-organisasi yang terus memperjuangkan Islam- di mana Presiden Mursi berasal. Mereka takut akan kebangkitan Islam, takut kehilangan kekuasaan dan sokongan dari Amerika dan Israel. As Sisi mengkudeta Mursi dengan berbagai fitnah yang dilancarkan kepada Mursi yang tidak pernah terbukti kebenarannya. 

Dengan didukung oleh berbagai pihak, seperti Amerika, Israel, Syiah, liberal, Yahudi, Kristen dan yang lebih menyedihkan bahkan negeri Arab yang seharusnya menjadi pembela sesama muslim, dilancarkanlah kudeta tersebut di saat kepemimpinan Mursi baru berusia satu tahun. Mursi terpilih sejak 30 Juni 2012 dan dikudeta pada 3 Juli 2013.

Pasukan militer yang dipimpin As Sisi menangkap Mursi dan para pendukungnya yang mengecam kudeta. Mereka dijebloskan ke penjara, tak sedikit yang syahid pada peristiwa itu. Bahkan kekejian As Sisi semakin menggila pada peristiwa subuh 8 Juli 2013. Mereka melakukan aksi penembakan kepada jamaah salat subuh di depan markas pasukan elit Garda Republik. Jamaah salat subuh itu merupakan demonstran pendukung Mursi tanpa senjata yang sedang berdoa mengadukan kezaliman sambil bercucuran air mata, mereka dibantai, ditembaki oleh militer zalim.

Dalam aksi kudeta ini, militer Mesir mendapat sokongan dana besar dari Amerika. Amerika yang selalu menggembar-gemborkan sistem demokrasi jurtu melukai proses demokrasi itu sendiri. Di sini terlihat bahwa demokrasi yang diagungkannya hanya berlaku untuk dirinya sendiri, tapi jika Islam yang memenagkan demokrasi secara legal malah dihancurkan dengan segala cara. Mungkin inilah demokrasi ala Amerika “demokrasi cowboy”. Demokrasi yang memaksakan kehendak, tidak ikut aturan, menggunakan cara-cara kekerasan, melakukan provokasi.

Politisi Muslim asal Sudan, Dr. Hasan Turabi mengatakan, “Mereka hanya percaya demokrasi untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.” 

Di tengah ramainya para pendukung kezaliman itu, masih ada negara atau tokoh-tokoh Islam yang mengecam kudeta dan tetap mendukung Mursi. Mereka adalah Presiden Turki, Recep Erdogan, para politisi Islam di Tunisia, pemimpin oposisi Sudan, Dr. Hasan Turabi, sekjen Front Ulama Al Azhar, sekjen Persaudaraan Muslim Indonesia, Dekan Fakultas Dakwah Islamiyah Universitas Al Azhar, Ulama besar Ikhwanul Muslimin, Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Imam Masjidil Haram, Guru besar Syariat Islam Universitas Al Imam Muhammad Ibnu Saud, ulama-ulama Al Azhar serta 1700 ulama, dai dan intelektual Saudi menyatakan dukungan kepada presiden sah Mesir, Muhammad Mursi.

Kini, selama kurang lebih enam tahun dipenjara tanpa mendapat akses kesehatan, tidak boleh dikunjungi oleh keluarga bahkan hanya untuk memegang mushaf Alquran pun dilarang, padahal sejatinya ia telah menghafal Alquran selama 30 tahun. Hingga akhir hayatnya ia habiskan di penjara dan tepat pada tanggal 18 Juni 2019 lalu Allah memanggilnya pulang ke haribaanNya. Masa yang dinantinya, masa di mana ia akan melepas rindu bertemu dengan Dia yang terkasih, Allah Subhanahu Wata’ala.

Dan Allah tidak akan membiarkan hambanya yang solih. Segala kezaliman yang terjadi pada Presiden Mursi pasti akan ada balasan yang dahsyat dari Sang MahaPencipta. Di akhirat nanti semua akan mendapat balasan setimpal atas apa yang telah diperbuat di dunia, semua akan mendapat keadilan dan mendapatkan hak-haknya kembali yang  telah dirampas.

“Akan dikembalikan hak-hak yang dizalimi kepada pemiliknya di Hari Kiamat, sehingga kambing yang tak bertanduk akan diberi kesempatan membalas kambing bertanduk.” HR. Muslim.


Sunday, 23 June 2019

Menikmati Unsur Humor Dalam Sebuah Cerpen



Judul               : Pahlawan Tanpa Tanda Tangan
Penulis             : Boim Lebon, dkk
Penerbit           : Indiva Media Kreasi
Cetakan           : I, April 2019
Tebal               : 160 halaman
ISBN               : 978-602-5701-47-4

Forum Lingkar Pena (FLP) yang didirikan oleh Helvy Tiana Rosa pada tahun 1997, masih menggeliat hingga sekarang. Buktinya, Boim Lebon bersama dengan anggota FLP dari berbagai daerah baru saja meluncurkan buku kumpulan cerpen terbaru mereka. Dalam Musyawarah Nasional FLP 2017 lalu, Bang Boim –sapaan akrab Boim Lebon- menggagas sebuah ide pengumpulan tulisan atau cerpen yang mengandung unsur humor.

Tuesday, 24 July 2018

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu



Judul               : Sunnah Sedirham Surga
Penulis             : Salim A. Fillah
Penerbit           : Pro-U Media
Terbit               : 2017
Tebal               : 268 halaman

Setiap membaca buku yang bergizi, mulai dari tema yang menarik, pemilihan diksi yang beragam sampai fakta-fakta baru yang belum pernah diketahui, selalu membuat saya takjub oleh penulisnya, terharu oleh setiap kisah yang tertulis dan langsung menyadari bahwa diri ini teramat miskin akan ilmu.

Hal itu juga terjadi pada saat saya membaca buku ini. Ditulis oleh penulis sekaligus seorang ustaz yang kebanyakan tulisannya begitu puitis dengan pemilihan diksi yang tidak biasa. Membaca kisah-kisah para sahabat Nabi dan ulama-ulama di masanya membuat saya terpesona, bangga dan haru menjadi satu. Saya pun berpikir “seandainya semua orang membaca buku ini”. 

Monday, 9 July 2018

Peperangan Melawan Master Dragon



Judul               : Pergi
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika
Cetakan           : III, 2018
Tebal               : 455 halaman

Waktu membaca saya adalah di waktu pagi sebelum berangkat kerja, saat istirahat di tempat kerja (kadang-kadang), malam hari pulang kerja dan di hari libur. Ketika membaca sebuah novel yang ceritanya seru dan harus terpotong oleh jam kerja, maka pikiran saya akan melayang menebak-nebak bagaimana kisah selanjutnya, apa yang terjadi dengan tokohnya, bagaimana endingnya. Tak sabar ingin menuntaskan novel itu, tapi apa daya harus menunggu waktu kerja selesai.

Begitu pun saat membaca novel Pergi karya Bang Tere Liye ini. Saya selalu penasaran serangan apa lagi yang akan dilakukan oleh Keluarga Tong, siapa lagi yang jadi korban pembunuh bayaran, apa hubungan Bujang dan Diego. Ya, di setiap bab novel ini selalu menyimpan misteri yang sayang untuk dilewatkan.

Saturday, 7 July 2018

Mendeteksi Jejak Haram Pada Makanan dan Minuman Kita



Judul                : Waspada Jejak Haram Yang Mengintai
Penulis              : Riawani Elyta & Risa Mutia
Penerbit            : Bhuana Ilmu Populer, 2017
Tebal                : 127 halaman

Bicara mengenai halal haram bukan sekadar makanan dan minuman yang terbebas dari babi dan alkohol, tapi juga harus diperhatikan cara pengolahan, cara penyembelihan hewannya, alat-alat yang digunakan dan sumber rezeki yang diperoleh. Sebagai muslim kita harus mengonsumsi makanan halal dan thayyib. Untuk halal dan haram, kita sudah banyak tahu informasi mengenainya, tapi masih sedikit orang yang mengetahui apa yang dimaksud dengan thayyib atau baik.

Tidak semua makanan halal itu thayyib. Thayyib meliputi zat yang terkandung di dalam makanan apakah membawa manfaat bagi kesehatan atau malah membawa penyakit. Thayyib juga termasuk bagaimana cara mengelola dan menyajikan makanan. Halal dan thayyib adalah kesatuan tak terpisahkan, tidak cukup halal atau sekadar baik saja (hlm. 8), keduanya harus ada dalam setiap makanan yang kita konsumsi.

Monday, 9 April 2018

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati



Judul               : Sepotong Roti di Langit Tragedi
Penulis             : Nia Hanie Zen, dkk.
Penerbit           : Iluvia Publishing
Terbit               : Maret, 2018
Tebal               : 124 halaman

Bagi saya, salah satu jenis karya sastra yang rumit adalah puisi. Tak banyak orang yang memahaminya, termasuk saya. Puisi ditulis dengan pemilihan kosakata yang tidak biasa atau unik. Kebanyak puisi yang selama ini saya baca, menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti hingga butuh pemikiran mendalam untuk memahami maknanya. 

Namun, tidak semua puisi ditulis dengan kata-kata yang sulit dipahami. Ada juga puisi yang ditulis dengan kata-kata sederhana dengan makna yang dalam, salah satunya adalah buku yang berjudul Sepotong Roti di Langit Tragedi (SRDLT) yang saya tulis bersama teman-teman pegiat literasi.

Friday, 23 March 2018

Ashabul Kahfi Dalam Teori Relativitas Einstein



Judul                : Ketika Embun Merindukan Cahaya
Penulis              : Hadis Mevlana
Penerbit            : Tinta Medina
Terbit               : Februari 2018
Tebal                : 340 halaman

Saya cukup excited begitu mengetahui akan ada sekuel dari novel Embun Di Atas Daun Maple. Saya penasaran dengan akhir cerita kisah cinta Sofyan dan Kiara dan berharap di novel sekuelnya ini ada jawaban yang memuaskan.

Novel kedua dari Hadis Mevlana ini berjudul Ketika Embun Merindukan Cahaya. Masih sama dengan novel pertamanya yang memiliki tema besar perbandingan agama. Saya masih menikmati keseruan pertanyaan dan pernyataan seputar agama Islam dan Kristen.

Wednesday, 21 February 2018

Memoar Sang Ulama Besar




Judul                            : Buya HAMKA Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama
Penulis                          : Yanuardi Syukur dan Arlen Ara Guci
Penerbit                        : Tinta Medina
Cetakan                       : 1, 2017
Tebal                            : 208 halaman

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan HAMKA merupakan seorang ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia. Ia adalah aktivis Muhammadiyah yang bervisi kebinekaan untuk keutuhan bangsa Indonesia. Kehidupan keluarga HAMKA rupanya tidak semenyenangkan yang saya kira. Ia harus menyaksikan perceraian orang tuanya saat masih kecil. HAMKA kecil juga dikenal sebagai anak nakal yang sering terlibat perkelahian antar siswa sekolah.


Buku biografi “BUYA HAMKA: Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama” ini ditulis oleh kolaborasi antara Yanuardi Syukur dan Arlen Ara Guci dengan membaginya menjadi tiga fase; fase pra penjara, fase penjara dan fase pasca penjara. 

Fase pra penjara secara garis besar menceritakan masa kecil HAMKA, aktivitas organisasi, kegiatan menulis dan hubungannya dengan pemerintahan Soekarno pada masa itu. Selain masa kecil yang sedikit disinggung di awal tulisan ini, saya sangat tertarik dengan kegiatan atau aktivitas menulis HAMKA. Setelah membaca aktivitas menulis dan membacanya, saya menemukan kesamaan dengan beliau seperti yang dikatakan Buya Zas, teman HAMKA.


“HAMKA bisa membaca selama dua tiga jam dan mencatat di kertas apa pun yang dekat dengannya- seperti bungkus rokok- lalu mengantongi catatan tersebut.” (hlm. 39)


Bedanya adalah saya tidak pernah mencatat di bungkus rokok, tapi saya sengaja menyiapkan selembar kertas khusus untuk mencatat apa pun dari buku yang dibaca 😀

Sejak muda, HAMKA sudah aktif menulis. Tulisannya rutin muncul di surat kabar dan majalah. Ia juga pernah menjadi wartawan dan editor di majalah Pedoman Mayarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam. Dalam hal membaca, HAMKA merupakan pembaca segala jenis karya mulai dari tasawuf, sejarah, filsafat dan moralitas. Pengaruh dari bacaan-bacaan tersebut cukup signifikan bagi perkembangan wawasan dan kemampuan menulisnya. 

Beberapa karya fenomenal telah berhasil ia terbitkan, di antaranya; Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, Tasawuf Modern hingga Tafsir Al-Azhar yang berhasil ditulisnya selama di dalam penjara. Masih banyak lagi karya tulis HAMKA yang ternyata jumlahnya mencapai 118 karya. 

Fase kedua, yaitu penjara. Kisah dipenjarakannya HAMKA cukup menyedihkan. Pasalnya ia dijebloskan ke penjara oleh sahabatnya sendiri, Soekarno. Alasan tidak masuk akal pun dibuat untuk meloloskan niat memenjarakan HAMKA. Ia dituduh ingin membunuh Soekarno dan berkhianat bersekongkol dengan Malaysia. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, HAMKA tetap menjalani kurungan selama dua tahun.

Membaca fase penjara ini, saya jadi teringat dengan peristiwa yang berkaitan dengan ulama yang ditangkap yang terjadi saat ini. Rupanya kasus HAMKA masih relevan dengan zaman sekarang, di mana para ulama dituduh, ditangkap dan dipenjara dengan alasan menyebarkan kebencian atau kasus lainnya.

Saya menilai, tidak semua orang dipenjara itu bersalah. Mereka justru dipaksa mengaku bersalah atas apa yang tidak dilakukan. Seperti kasus HAMKA dan ulama-ulama saat ini. Meskipun di dalam penjara HAMKA tetap mampu menghasilkan karya. Salah satunya buku Tafsir Al-Azhar yang ditulisnya selama di penjara.

Fase terakhir, yaitu pasca penjara. Keluar dari penjara HAMKA tetap menjalani aktivitasnya seperti dulu; ceramah, menulis, mengajar dan mengurus organisasi. HAMKA dilantik menjadi ketua umum MUI pada 27 Juli 1975. Selama memimpin MUI, HAMKA melakukan kebijakan intern maupun ekstern. Ia juga merumuskan fatwa-fatwa terkait urusan agama Islam. Salah satu fatwa yang membuat resah pemerintah adalah diharamkannya umat Islam untuk turut merayakan Natal bersama. Bahkan mentri agama saat itu mendesak HAMKA untuk mencabut fatwa tersebut.

HAMKA tidak rela merusak aqidahnya dengan mencabut larangan tersebut. Daripada ia harus mencabut fatwa larangan merayakan Natal bagi umat Islam, ia justru memilih mundur dari jabatan ketua MUI. 

Keteladanan yang dapat diambil dari sosok ulama besar ini adalah sifatnya yang tidak mendendam dan ringan hati. Ia tidak mendendam pada Soekarno yang telah memenjarakannya, justru tetap menganggap Soekarno sebagai sahabatnya. Begitu pun dengan Pramudya Ananta Toer dan M. Yamin yang memusuhinya karena perbedaan pemikiran. HAMKA memaafkan mereka tanpa rasa dendam sedikit pun.

HAMKA bukan hanya ulama yang berpengaruh di masanya, hingga sekarang pun ia menjadi panutan dan inspirasi bagi umat Islam. Banyak mutiara hikmah yang telah ditorehkannya ke dalam karya tulis yang masih dicetak dan ditulis kembali oleh penulis-penulis Indonesia pada masa sekarang. Membaca biografi Buya HAMKA seperti meraup ilmu langsung dari sumbernya. Penulis buku ini berhasil menuliskan sebuah memoar yang ringan namun sarat makna.

Monday, 8 January 2018

Petualangan Mengejar Buku




Judul                : Buku Ini Tidak Dijual
Penulis              : Henny Alifah
Penerbit            : Indiva Media Kreasi
Terbit               : Maret, 2015
Tebal                : 192 halaman

Padi terkejut mendapati rak bukunya kosong melompong. Ingin marah, teriak dan mengungkapkan rasa kesal kepada ayah, tidak kuasa ia lakukan. Masih tersimpan ingatan tidak diperbolehkannya seorang anak berkata kasar kepada orang tua. Padi pun akhirnya lemah lunglai terduduk di depan pintu dan bergumam, “buku ini tidak dijual, buku ini tidak dijual, buku ini tidak dijual”.


Gading, anak Padi, yang sedikit banyak memiliki andil dalam proses penjualan buku-buku koleksi ayahnya merasa bersalah telah membantu kakek memasukkan buku-buku itu ke dalam karung untuk dijual ke tukang loak. Tak sanggup mendengar perdebatan ayah dengan kakeknya, Gading ingin menembus kesalahan dengan mengejar mobil pick up yang membawa buku-buku ayahnya.

Bersama Kingkin, sepupunya, Gading pergi menyusuri desa hingga kecamatan dan kabupaten desanya. Beberapa peristiwa terjadi selama dalam perjalanan mengejar lima karung buku ayahnya. Gading hampir mati demi mendapatkan kembali buku-buku ayahnya. Sementara Kingkin harus berhadapan dengan perampok karena pulang larut malam dan melewati jalanan sepi yang menjadi sasaran aksi perampok.

Dalam pencarian kembali buku-buku ayahnya, Gading merasa penasaran mengapa ayahnya sangat mencintai buku-buku itu. Bahkan buku-buku pelajan, koran dan majalah yang sudah tua masih disimpannya. Sementara kakek sudah jengah dengan rumahnya yang dipenuhi tumpukan buku-buku yang dirinya sendiri pun sudah tak sanggup membaca karena penglihatannya sudah mulai kabur.

Rasa penasaran Gading akhirnya terjawab. Ia baru tahu mengapa ayahnya sangat menginginkan buku-buku itu kembali. Ternyata ada satu rahasia yang selama ini tidak diketahui Gading dan Kakek. Satu rahasia itu membuat kakek menyesal telah berbuat sekehendaknya.

Keseruan novel ini baru terasa di bab-bab menjelang akhir. Dari awal saya sudah penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi pada buku-buku Padi yang dijual kakek. Dengan sabar saya menyelesaikan membaca novel ini sampai akhir, dan ternyata ending tidak mengecewakan. Novel ini unik dengan tema yang jarang saya temui. Novel dengan “buku” sebagai tema besarnya ini awalnya saya pikir adalah sebuah buku non fiksi, ternyata saya salah.

Ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna, novel ini sangat cocok untuk mengisi waktu santai sambil minum teh atau kopi. Karakternya tidak banyak, sehingga pembaca tidak perlu pusing dengan siapa-siapa saja tokoh yang ada dalam cerita. Bersetting adat jawa, dialog-dialog dalam novel ini diselingi dengan bahasa Jawa dan disertai terjemahan pada footnote.

Ada kutipan menarik dari buku ini yang sedikit banyak saya setuju.


“Orang yang pandai itu bukan mereka yang banyak menyandang gelar akademik. Tetapi orang yang pandai adalah mereka yang banyak membaca buku”

Bagi saya yang menyukai membaca, saya bukanlah orang yang pandai, sama sekali bukan. Sebaliknya, saya hanyalah orang bodoh yang berusaha mencuri ilmu sebanyak-banyaknya dari buku-buku yang saya baca. Bahkan karena bodohnya, hanya sedikit yang berhasil menetap lama di otak saya. Maka dari itu, saya harus terus membaca, membaca dan membaca, agar yang sedikit itu setidaknya dapat bertambah.

Cara Memupuk Kegemaran Membaca Sejak Kecil Hingga Dewasa

  Sebelum kita membahas cara memupuk kegemaran membaca, mari kita flashback sedikit ke masa di mana kita berada di fase belajar membaca d...