Bersyukurlah, maka kau akan bahagia! Mengungkapkan rasa syukur lewat menulis dan membaca ^0^
Wednesday, 16 October 2019
Persahabatan Dari Hati
Tuesday, 2 July 2019
Enam Amalan Yang Tidak Bisa Lagi Dikerjakan Di Fase Kelima Kehidupan Dunia
Friday, 16 February 2018
Sengsara atau Hikmah, Pilih Mana?
![]() |
| pixabay |
Monday, 8 May 2017
Gemari Karyanya, Jangan Penulisnya!
Saya jarang sekali baca novelnya Tere Liye. Novel pertama karya beliau yang saya baca adalah "Bidadari Bidadari Surga" dan itu sudah lama sekali. Nah, kira-kira sekitar tahun lalu saya membaca novel Tere lainnya yang berjudul "Pulang" dan itu baaaguuus banget menurut saya. Saya menyebutnya sebagai "novel rasa film". Bagaimana tidak? Membaca "Pulang" serasa menonton sebuah film action, seru dan menegangkan.
Sejak saat itu, saya jadi tertarik membaca novel Tere Liye lainnya. Sebut saja; Bumi, Bulan, Matahari, Tentang Kamu, Rindu, Berjuta Rasanya, Sepotong Hati Yang Baru. Saya memang belum membaca semua novel karyanya, tapi dari judul yang saya sebut di atas semuanya sangat berkesan, keren dan inspiratif.
Saya pernah bertanya dalam hati "kok bisa sih dia bikin cerita bagus kayak gini? Gimana caranya?" Saya pun mengambil kesimpulan dengan membuat jawaban sendiri. "Pastilah penulisnya adalah seorang yang cerdas, kreatif dan berimajinasi tinggi".
Selama ini saya tidak pernah melihat langsung sosok pencipta Raib, Ali dan Seli ini. Tapi hari ini di event Islamic Book Fair 2017, saya berkesempatan menghadiri bedah buku Tere Liye, Tentang Kamu. Dan saya cukup excited melihatnya. "Ternyata Tere Liye begini orangnya" :D
Tere Liye muncul, naik ke panggung dan mengisi acaranya sendiri tanpa moderator dan ia memoderatori dirinya sendiri. Penampilannya sangat santai, dengan kaus oblong, celana jins tanpa kupluk yang menjadi ciri khasnya.
Mulailah ia menceritakan proses kreatif buku "Tentang Kamu". Ia menyampaikan bahwa ia menulis Tentang Kamu hanya menghabiskan waktu satu bulan. Tapi jangan salah, risetnya sendiri dilakukan selama satu tahun lebih. Dan memang rata-rata novel yang ditulisnya memerlukan waktu satu tahun lebih untuk riset. Salah satu risetnya ia lakukan di sosial media, facebook. Tere sering melakukan survey ke para pembacanya melalui akun tersebut. Jadi, secara tidak langsung pembaca punya andil penting dalam mengembangkan ide ceritanya.
Meskipun judul-judul novelnya kebanyakan mengandung unsur "baper dan galau", kenyataannya saat membaca kisahnya, kita tidak akan menemukan kebaperan tersebut. Yang ada isinya tentang keteguhan, perjuangan hidup, shadow ekonomi, religius, walaupun tak ketinggalan unsur romance-nya.
Tere merupakan penulis produktif yang menulis novel dengan genre bervariasi. Ada soal cinta, keluarga, ekonomi, politik, anak dll. Berbagai genre tersebut mematahkan pemikiran pembaca yang men-cap bahwa Tere Liye adalah penulis roman.
Novelnya yang telah terbit sudah 26 buku. Dan ia membocorkan novel selanjutnya yang akan segera hadir tahun ini adalah "Bintang", lanjutan dari tiga serial sebelumnya Bumi, Bulan dan Matahari. Dan satu bocoran lagi, ia mengatakan serial Raib dkk, tidak akan berhenti sampai di Bintang. Akan ada kisah selanjutnya setelah Bintang.
Tere menyapa audience dengan kata "dek".
"Jadi gini ya, dek"
"Adik-adikku sekalian"
"Kalau mau jadi penulis harus banyak latihan, dek"
Tidak seperti penulis lain yang sudah terkenal, Tere termasuk orang yang tidak suka difoto apalagi diajak selfie. "Gak usah foto foto sama saya. Gak ada gunanya sama sekali," ujarnya.
Ada pertanyaan dari audience begini, "Novel Tere Liye bagus dan kaya diksi. Bagaimana caranya bisa menggunakan diksi yang tepat sehingga membuat tulisan menarik?"
"Latihan," jawabnya.
Lalu Tere melanjutkan, "Gini ya, dek. Menulis itu ibaratnya sama dengan memasak. Contonya begini, coba kalian berikan satu nampan berisi bahan makanan kepada ayah kalian dan bilang padanya, 'wahai ayah jika kau benar mencintai anakmu ini, buatkanlah saya 12 jenis masakan dari bahan-bahan ini'
Sang ayah pun akan melakukannya sesuai dengan yang ia mampu. Tempe digoreng, tahu digoreng. Selesai. Lalu, kacang panjang? Entah harus diapakan.
Tapi lain lagi jika kau bawa nampan berisi bahan makanan tersebut kepada ibumu. 'Wahai ibu bila kau benar mencintai anakmu ini, buatkanlah 12 jenis masakan untukku'. Maka ibu akan membuatkan 12 jenis masakan yang bervariasi seperti yang kau minta.
Mengapa bisa begitu, dek? Mengapa ayah hanya bisa memasak tempe goreng dan tahu goreng. Sedangkan ibu bisa membuat macam-macam jenis masakan? Simply. Jawabannya karna ibu sudah bertahun-tahun melakukannya. Ia sudah terbiasa memasak, jadi mudah sekali baginya untuk membuatkanmu 12 jenis masakan. Sedangkan ayah? Jangankan membuat 12 masakan, membedakan bumbu dapur saja sulit.
Jadi, dek. Menulis pun sama seperti memasak, butuh latihan."
Bedah buku sore itu cukup seru, tak sedikit pernyataan Bang Tere yang mengundang tawa audience membuat ruangan lebih semarak. Dari pertemuan singkat itu saya jadi tau sosok Tere Liye yang mengaku bukan orang yang religius, tapi dalam novelnya mengandung pesan-pesan religius yang begitu berarti.
Harapan Tere pada pembaca novelnya adalah agar bisa menghibur, lalu naik ke level bermanfaat dan naik lagi ke level inspiratif.
O ya, saya bukan penggemar apalagi yang nge-fans berat sama Tere Liye. Saya hanya menyukai karya-karyanya. Dan Tere Liye juga bilang, "Jangan menyukai penulisnya, cukup sukai saja karya-karyanya."
Wednesday, 12 October 2016
Berdamai Dengan Bosan
Setiap orang pasti pernah, bahkan mungkin sering mengalami kebosanan dalam hidupnya. Lalu apa yang kamu lakukan dalam menghadapi kebosanan itu?
Sering saya temukan orang yang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya karna alasan bosan. Itu juga pernah saya alami beberapa tahun lalu. Namun, bosan bukan satu-satunya alasan yang membuat saya resign.
Setelah bertahun berlalu dan mengalami beberapa kali pengunduran diri dari pekerjaan, saya pun menyadari satu hal yang berkaitan dengan kebosanan.
Sejatinya bosan tidak untuk dihindari tapi dihadapi. Mengapa harus dihadapi? Karna mungkin suatu saat nanti bosan itu akan datang padamu lagi. Ia akan hadir mengisi harimu lagi. Jadi kamu tak akan bisa menghindar darinya.
Lalu bagaimana cara menghadapinya?
Bosan melanda di saat kita lelah menghadapi aktifitas yang itu itu saja. Rutinitas yang monoton, bertemu dengan dia lagi, kamu lagi, kamu terus.
Bosan melanda mungkin saat hati dan pikiran kita kosong. Terjebak dengan rutinitas yang monoton membuat kamu tak punya kesempatan mengembangkan diri, menikmati gaji, mengisi hati dan menata diri menggali potensi.
Hadapi kebosanan itu dengan berani, ambil posisi dan atur strategi. Kamu bisa berlibur misalnya. Berhenti sejenak dari kegiatan yang kamu anggap membosankan itu. Pergilah ke mana kamu suka. Nikmati setiap jam, menit dan detiknya.
Pergilah silaturrahim ke kerabat yang telah lama tak kau kunjungi. Seberapa pun jauh jaraknya, niatkan untuk menguatkan ikatan persaudaraan karna Allah. Ziarah ke teman dan sahabat yang tlah lama tak kau sapa. Yang paling utama datangilah orangtua yang semakin jauh jaraknya darimu.
Singgahlah, hadirilah tempat di mana malaikat-malaikat berkumpul. Taman surga namanya, tempat di mana orang-orang salih berkumpul mengajak kepada amar ma'ruf, mengkaji Al qur'an, saling nasihat menasihati, mengajak untuk mengingat Allah. Kekosongan hati akan terisi, pikiran akan penuh dengan amunisi, galau tak ada lagi, bosan pun sirna tak kembali.
Lalu kembalilah pada rutinitasmu. Kembalilah dengan senyum, semangat dan percaya diri.
Dan di sinilah saya kembali pada rutinitas yang dulu membosankan. Namun, akan saya hadapi semuanya dengan ikhlas dan sunggu-sungguh seolah memulai semuanya dari nol.
Selamat tinggal bosan!
Wednesday, 27 July 2016
What I Got From Hiccup and Toothless
Wednesday, 13 July 2016
Apa Kabar Sampah Pelastik?
Thursday, 16 June 2016
5 Problems With Social Media
![]() |
| Gambar dari google |
Sunday, 12 June 2016
Jadi, Siapa yang Bertanggungjawab?
Thursday, 9 June 2016
Polusi Jadi Tradisi
Friday, 22 April 2016
UNTUK BUMI
Friday, 8 January 2016
Jangan Mau Transit di Neraka
Sunday, 13 December 2015
Perlukah Nilai Moral Dalam Sebuah Tulisan
Wednesday, 2 December 2015
7 Teknik Pembuka Tulisan
Monday, 16 November 2015
Semua Gara-Gara Kamu
Tuesday, 23 June 2015
Menemukan Mas Gagah
![]() |
| Dukung Film KMGP |
Thursday, 11 June 2015
Siapa Temanmu?
#NulisRandom2015 #Day9
Monday, 8 June 2015
Mau Kirim Naskah Ke Media? Simak Dulu Tips Ini
1. Tentukan jenis majalah yang akan dituju. Jika kamu ingin mengirim naskah ke majalah remaja misalnya, buatlah konflik semenarik mungkin yang terjadi dalam kehidupan khas remaja.
2. Jangan terlalu memaksakan idealisme pribadi untuk dimasukkan ke dalam cerita. Buatlah cerita sesuai dengan karakter media yang di tuju.
3. Cukup kirim satu naskah ke satu media. Jangan mengirim satu naskah yang sama ke media-media yang berbeda.
4. Biasanya media yang professional akan mengabarkan apakah naskah kita diterima atau tidak melalui pemberitahuan via e-mail. Namun ada juga media yang tidak mengabarkan mengenai hal ini. Jadi di sini penulislah yang harus aktif bertanya. Bisa bertanya via e-mail, telpon atau datang langsung ke penerbit.
5. Batas waktu diterima atau tidaknya naskah adalah 3 bulan. Jika setelah tiga bulan tidak ada kabar, penulis boleh menarik naskahnya dari media tersebut. Nah, penarikan naskah pun harus ada pemberitahuan dari penulis ke media bahwa naskah yang dikirim akan ditarik. Kirim e-mail ke media yang bersangkutan yang menyatakan bahwa naskah akan ditarik. Setelah naskah ditarik, penulis boleh mengirimkannya lagi ke media yang berbeda.
6. Alangkah lebih baik mengirim naskah dalam dua versi. Versi print out dan e-mail. Karena ada beberapa editor yang malas membaca naskah via e-mail.
7. Jika mengirim naskah via e-mail, penulis dapat melakukannya sebanyak tiga kali. Jaga-jaga kalau e-mail tidak masuk ke redaksi.
8. Yang paling penting dari semua poin di atas. Sebelum mengirim naskah pastikan tehnik penulisan sudah sesuai dengan EYD. Ada beberapa editor yang sangat tegas mengenai hal ini. Jadi meskipun penulis merasa tulisan sudah bagus, tapi kalau tehnik penulisan masih banyak kesalahan, editor tidak akan mentolerir hal itu. jadi jangan malas membaca ulang naskah dan lakukan pengeditan sebaik mungkin.
Semoga poin-poin di atas dapat diperhatikan dengan baik oleh para penulis, khususnya penulis pemula seperti saya. Sehingga terhindar dari penolakan yang tidak diharapkan. Jika ada tips-tips lain yang dirasa kurang, silakan ditambahkan. Selamat menulis. selamat berkarya.
(Rangkuman materi dari pertemuan Pramuda FLP. Minggu, 7 Juni 2015)
Tuesday, 26 May 2015
Udah Sharing Aja!
Saturday, 16 May 2015
Orphan
Cara Memupuk Kegemaran Membaca Sejak Kecil Hingga Dewasa
Sebelum kita membahas cara memupuk kegemaran membaca, mari kita flashback sedikit ke masa di mana kita berada di fase belajar membaca d...
-
Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar dengan tema “Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca”. Sa...
-
Terlanjur berjanji pada seorang gadis untuk menuliskan ini. Jadi, ia bertanya pada saya bagaimana caranya menulis cerpen. Lebih tepa...
-
Judul : The Great Muslimah Penulis : Hanny Dewanti & Penulis Muslimah Penerbit : Penerbit Ikon Cetakan : I, Juli 2019...







