Showing posts with label Self Note. Show all posts
Showing posts with label Self Note. Show all posts

Wednesday, 16 October 2019

Persahabatan Dari Hati


Sahabat

Kata orang, sahabat itu selalu ada di setiap susah maupun senang.
Kata orang, sahabat itu selalu mendukung apa pun yang kita lakukan.
Kata orang, sahabat itu partner in crime paling setia. 

Benarkah begitu? Menurut kamu, apa makna sahabat?

Saya sangat terkesan dengan kisah dua orang ulama besar kita yang diceritakan dalam sebuah buku karya Ustadz Salim A Fillah yang berjudul “Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku”. Kisah dua orang ulama yang bersahabat itu sangat indah. Seperti apakah keindahan persahabatan mereka? Mari simak kisahnya.


Suatu hari Imam Ahmad jatuh sakit. Sebagai seorang sahabat, Imam Syafi’i merasa sedih mendengar berita mengenai sakitnya sahabat beliau. Datanglah Imam Syafi’i menjenguk Imam Ahmad. Setelah melihat keadaan sahabatnya, Imam Syafi’i merasa sangat sedih hingga membuatnya jatuh sakit pula sepulang dari menjenguk Imam Ahmad.

Ketika mendengar hal itu, Imam Ahmad yang belum pulih benar, menguatkan dirinya untuk menjenguk sahabatnya. Ketika Imam Syafi’i melihat kedatangan Imam Ahmad, beliau pun bersyair:

"Saudara terkasih sakit, maka aku pun menjenguknya. Maka sakitlah aku karena sedih atas keadaannya. Kala dirinya sembuh, dia pun datang membesukku. Lalu, aku pun sembuh, karena bahagia melihatnya."


Masyaallah, sungguh persahabatan yang timbul dari pertautan hati. Adakah persahabatan kita menciptakan pertautan hati seperti ini? Ia sakit ketika melihat keadaan kita yang sedang terbaring sakit. Ia juga akan sembuh ketika melihat kita menjenguknya dalam keadaan sehat. Persahabatan dari hati akan menciptakan rasa susah dan senang bersama seperti yang tergambar dari kisah dua ulama di atas.

Lalu, bagaimana dengan kisah persahabatanku? Ah, jika melihat kisah dua ulama di atas, rasanya diri ini belum mejadi sahabat sejati yang mampu menautkan hati. Jika yang dimaksud sahabat itu dilihat dari seringnya bertemu dan menghabiskan waktu bersama, maka saya tidak punya sahabat. Jika yang dimaksud sahabat itu dengan memiliki hobi yang sama dan pergi ke mana pun selalu bersama, maka saya tidak punya sahabat. Jika yang dimaksud sahabata itu saling kenal anggota keluarga masing-masing, maka saya tidak punya sahabat.

Akan tetapi, ada seorang teman yang cukup dekat denganku. Kami memiliki ketertarikan yang sama terhadap buku, kami sering hunting buku bersama dan mengunjungi berbagai pameran buku. Kami juga memiliki ketertarikan terhadap fotografi. Selain hunting buku, kami juga tidak jarang hunting foto bersama. Ia seorang yang tenang dan sederhana, penuh inspirasi dan ide-ide cemerlang. Setiap bersamanya, selalu ada inspirasi baru yang saya dapatkan. Obrolan kami tidak jauh dari buku, buku yang difilmkan dan sedikit tentang fotografi. Dan temanku itu sangat lihai menggunakan kamera ponselnya hingga menghasilkan foto-foto yang keren.

Kami memang tidak sering bertemu, kami juga tidak mengenal anggota keluarga masing-masing dan kami pun tidak selalu memiliki pemikiran yang sama, bahkan perbedaan usia kami pun terpaut jauh. Aku jauh lebih tua di atasnya, tapi kami menjalani pertemanan ini dengan menyenangkan.

Apa pun bentuk pertemanan ini, kami jalani dengan rasa syukur. Yang terpenting dari semuanya adalah sebuah persahabatan jangan sampai keluar dari aturan Allah SWT, senantiasa berada dalam keadaan yang selalu mengingatkan diri kepada Sang Pencipta dan saling menghargai satu sama lain. Semoga kisah persahabatan Imam Ahmad dan Imam Syafi’i di atas dapat memberi pelajaran berharga bagi kita semua hingga tercipta persabahatan yang saling menautkan hati.



Tuesday, 2 July 2019

Enam Amalan Yang Tidak Bisa Lagi Dikerjakan Di Fase Kelima Kehidupan Dunia





Dari lima fase kehidupan ini, sekarang kita sedang berada di fase keempat. Fase ini merupakan fase menjelang akhir zaman yang pada akhirnya menuju fase kelima, fase terakhir dari kehidupan dunia. Fase keempat ini adalah fase bagi kita untuk banyak-banyak melakukan amal sholih, karena di fase kelima nanti tidak ada lagi amal sholih yang bisa kita perbuat.

Friday, 16 February 2018

Sengsara atau Hikmah, Pilih Mana?



pixabay

Berhibur tiada salahnya karena hiburan itu indah
Hanya pabila salah memilihnya membuat kita jadi sengsara (Raihan)

Pernah dengar lirik lagu nasyid di atas? Dinyanyikan oleh grup nasyid asal Malaysia, yaitu Raihan. Saya tidak akan membahas tentang grup nasyid, tapi lebih kepada makna dari lirik lagu itu sendiri.

Hiburan. Satu hal yang cukup penting yang ada dalam hidup kita. Sebagai manusia yang hidup dengan segala hiruk pikuk dunia, mulai dari kehidupan keluarga, pekerjaan, lingkungan dengan berbagai permasalahannya, kita sangat butuh yang namanya hiburan. Setidaknya dengan hiburan yang ada, akan membuat hidup lebih relax dan menyenangkan.


Lalu, apa saja jenis hiburan yang dapat dinikmati? Sebut saja; film, musik, buku, makanan, dan lain-lain. Itu semua jenis hiburan yang mudah didapatkan saat ini. Tentunya kita harus selektif dalam memilih hiburan, karena seperti lirik lagu di atas, jika salah memilih bentuk hiburan malah akan membuat kita sengsara.

Islam itu indah dan mencintai keindahan. Hiburan itu salah satu jenis keindahan yang ada di dunia. Maka hendaknya kita sebagai umat Islam memilih jenis hiburan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Apakah memilih jenis hiburan yang sesuai dengan nilai Islam itu sulit? Sepertinya  tidak. Sebenarnya hiburan yang baik lagi bermanfaat itu banyak, tinggal kembalikan lagi kepada hati, apakah kita rela mengeluarkan uang untuk sebuah hiburan yang baik itu atau hanya untuk pemuas hawa nafsu.

Salah satu jenis hiburan yang digemari, yakni film. Zaman ini banyak sekali jenis film yang beredar, baik di layar kaca maupun layar lebar. Genre film-film tersebut pun beragam. Ada film komedi, drama, misteri, horor, roman, dan lain sebagainya. Tapi apakah kita harus menonton semua jenis film yang ditayangkan tersebut hanya sekadar mencari hiburan? Lagi-lagi jawabannya tidak. Kita cenderung akan menonton film-film yang memang sesuai dengan selera kita.

Memilih jenis film yang akan ditonton harus lebih selektif. Harus ada tujuan atau output yang bisa diraih. Jangan jadikan hiburan hanya sebagai pemuas hawa nafsu. Karna itu justru hanya akan membuang waktu percuma dan pada akhirnya membuat kita sengsara atau merugi. Pilihlah film yang tidak hanya menghibur tapi juga membawa manfaat baru dalam kehidupan kita. Syukur-syukur bila film yang ditonton akan membawa pengaruh meningkatnya ibadah kita yang selama ini merosot.

Sayangnya film-film yang beredar di Indonesia masih didominasi oleh film yang berbau mistis dan percintaan remeh temeh ala remaja zaman sekarang. Bahkan salah satu film horor beberapa waktu lalu berhasil menembus angka jutaan penonton hingga dinikmati sampai mancanegara. Tidak jauh beda dengan film percintaaan remajanya, lebih sering menonjolkan gaya pacaran serta pameran aurat dari para pemainnya. Astagfirullah! 

Sedih mengetahui remaja Indonesia dicekoki film-film horor dan percintaan remeh temeh (pacaran). Film semacam itu menurut saya tidak baik untuk perkembangan karakter remaja. Efek menonton film horor dapat menimbulkan rasa takut, tegang, percaya pada hal-hal mistis atau irasional yang tidak ada tuntunannya dalam Alqur’an. Sedangkan tema percintaan khas remaja efeknya memberi contoh seputar kehidupan orang berpacaran. Tidak hanya pacaran, pengaruh lainnya dari film tersebut adalah gaya berpakaian yang akan dengan mudahnya menjadi trend setter bagi anak muda. Pastinya gaya berpakaian di film-film itu adalah pakaian yang mengumbar aurat dengan berbagai model. 

Tentu tidak semua film yang hadir di Indonesia sejenis film-film yang disebutkan di atas. Tidak sedikit para pekerja atau pembuat film yang memproduksi film bagus berkualitas. Masih ada orang-orang yang peduli dengan pendidikan moral bangsa dengan menyajikan film yang penuh semangat membangkitkan harapan. Masih ada orang-orang yang cemas akan pergaulan anak muda yang semakin tidak terkontrol, sehingga mereka pun memproduksi film khas remaja yang lebih membawa perubahan positif. 

Namun, sekali lagi, sayangnya, orang Indonesia sedikit sekali yang sadar dan mendukung film-film baik seperti itu. Film horor dan tema pacaran masih menjadi primadona di kalangan remaja. Maka, mulailah dari diri kita sendiri. Mulailah memilih hiburan yang tidak hanya memuaskan hawa nafsu dan sedang hits, tapi pilih hiburan yang membawa manfaat dan pelajaran dalam hidup. Kita pun dapat mengajak remaja untuk turut menonton film-film baik dengan berbagai cara yang saat ini popular, yaitu media sosial. 

Dalam mencari hiburan pun hendaknya tidak berlebihan dan meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT. Jangan sampai hiburan tersebut membuat kita lalai pada perintah Allah, seperti salat. Hanya karna mengejar jam tayang film, kita rela mengabaikan waktu salat. Tentu saja hal itu sangat tidak sesuai dengan nilai Islam dan malah akan membawa kepada sengsara di akhirat.





Monday, 8 May 2017

Gemari Karyanya, Jangan Penulisnya!

Saya jarang sekali baca novelnya Tere Liye. Novel pertama karya beliau yang saya baca adalah "Bidadari Bidadari Surga" dan itu sudah lama sekali. Nah, kira-kira sekitar tahun lalu saya membaca novel Tere lainnya yang berjudul "Pulang" dan itu baaaguuus banget menurut saya. Saya menyebutnya sebagai "novel rasa film". Bagaimana tidak? Membaca "Pulang" serasa menonton sebuah film action, seru dan menegangkan.

Sejak saat itu, saya jadi tertarik membaca novel Tere Liye lainnya. Sebut saja; Bumi, Bulan, Matahari, Tentang Kamu, Rindu, Berjuta Rasanya, Sepotong Hati Yang Baru. Saya memang belum membaca semua novel karyanya, tapi dari judul yang saya sebut di atas semuanya sangat berkesan, keren dan inspiratif.

Saya pernah bertanya dalam hati "kok bisa sih dia bikin cerita bagus kayak gini? Gimana caranya?" Saya pun mengambil kesimpulan dengan membuat jawaban sendiri. "Pastilah penulisnya adalah seorang yang cerdas, kreatif dan berimajinasi tinggi".

Selama ini saya tidak pernah melihat langsung sosok pencipta Raib, Ali dan Seli ini. Tapi hari ini di event Islamic Book Fair 2017, saya berkesempatan menghadiri bedah buku Tere Liye, Tentang Kamu. Dan saya cukup excited melihatnya. "Ternyata Tere Liye begini orangnya" :D

Tere Liye muncul, naik ke panggung dan mengisi acaranya sendiri tanpa moderator dan ia memoderatori dirinya sendiri. Penampilannya sangat santai, dengan kaus oblong, celana jins tanpa kupluk yang menjadi ciri khasnya.

Mulailah ia menceritakan proses kreatif buku "Tentang Kamu". Ia menyampaikan bahwa ia menulis Tentang Kamu hanya menghabiskan waktu satu bulan. Tapi jangan salah, risetnya sendiri dilakukan selama satu tahun lebih. Dan memang rata-rata novel yang ditulisnya memerlukan waktu satu tahun lebih untuk riset. Salah satu risetnya ia lakukan di sosial media, facebook. Tere sering melakukan survey ke para pembacanya melalui akun tersebut. Jadi, secara tidak langsung pembaca punya andil penting dalam mengembangkan ide ceritanya.

Meskipun judul-judul novelnya kebanyakan mengandung unsur "baper dan galau", kenyataannya saat membaca kisahnya, kita tidak akan menemukan kebaperan tersebut. Yang ada isinya tentang keteguhan, perjuangan hidup, shadow ekonomi, religius, walaupun tak ketinggalan unsur romance-nya.

Tere merupakan penulis produktif yang menulis novel dengan genre bervariasi. Ada soal cinta, keluarga, ekonomi, politik, anak dll. Berbagai genre tersebut mematahkan pemikiran pembaca yang men-cap bahwa Tere Liye adalah penulis roman.

Novelnya yang telah terbit sudah 26  buku. Dan ia membocorkan novel selanjutnya yang akan segera hadir tahun ini adalah "Bintang", lanjutan dari tiga serial sebelumnya Bumi, Bulan dan Matahari. Dan satu bocoran lagi, ia mengatakan serial Raib dkk, tidak akan berhenti sampai di Bintang. Akan ada kisah selanjutnya setelah Bintang.

Tere menyapa audience dengan kata "dek".

"Jadi gini ya, dek"
"Adik-adikku sekalian"
"Kalau mau jadi penulis harus banyak latihan, dek"

Tidak seperti penulis lain yang sudah terkenal, Tere termasuk orang yang tidak suka difoto apalagi diajak selfie. "Gak usah foto foto sama saya. Gak ada gunanya sama sekali," ujarnya.

Ada pertanyaan dari audience begini, "Novel Tere Liye bagus dan kaya diksi. Bagaimana caranya bisa menggunakan diksi yang tepat sehingga membuat tulisan menarik?"

"Latihan," jawabnya.

Lalu Tere melanjutkan, "Gini ya, dek. Menulis itu ibaratnya sama dengan memasak. Contonya begini, coba kalian berikan satu nampan berisi bahan makanan kepada ayah kalian dan bilang padanya, 'wahai ayah jika kau benar mencintai anakmu ini, buatkanlah saya 12 jenis masakan dari bahan-bahan ini'

Sang ayah pun akan melakukannya sesuai dengan yang ia mampu. Tempe digoreng, tahu digoreng. Selesai. Lalu, kacang panjang? Entah harus diapakan.

Tapi lain lagi jika kau bawa nampan berisi bahan makanan tersebut kepada ibumu. 'Wahai ibu bila kau benar mencintai anakmu ini, buatkanlah 12 jenis masakan untukku'. Maka ibu akan membuatkan 12 jenis masakan yang bervariasi seperti yang kau minta.

Mengapa bisa begitu, dek? Mengapa ayah hanya bisa memasak tempe goreng dan tahu goreng. Sedangkan ibu bisa membuat macam-macam jenis masakan? Simply. Jawabannya karna ibu sudah bertahun-tahun melakukannya. Ia sudah terbiasa memasak, jadi mudah sekali baginya untuk membuatkanmu 12 jenis masakan. Sedangkan ayah? Jangankan membuat 12 masakan, membedakan bumbu dapur saja sulit.

Jadi, dek. Menulis pun sama seperti memasak, butuh latihan."

Bedah buku sore itu cukup seru, tak sedikit pernyataan Bang Tere yang mengundang tawa audience membuat ruangan lebih semarak. Dari pertemuan singkat itu saya jadi tau sosok Tere Liye yang mengaku bukan orang yang religius, tapi dalam novelnya mengandung pesan-pesan religius yang begitu berarti.

Harapan Tere pada pembaca novelnya adalah agar bisa menghibur, lalu naik ke level bermanfaat dan naik lagi ke level inspiratif.

O ya, saya bukan penggemar apalagi yang nge-fans berat sama Tere Liye. Saya hanya menyukai karya-karyanya. Dan Tere Liye juga bilang, "Jangan menyukai penulisnya, cukup sukai saja karya-karyanya."

Wednesday, 12 October 2016

Berdamai Dengan Bosan

Setiap orang pasti pernah, bahkan mungkin sering mengalami kebosanan dalam hidupnya. Lalu apa yang kamu lakukan dalam menghadapi kebosanan itu?

Sering saya temukan orang yang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya karna alasan bosan. Itu juga pernah saya alami beberapa tahun lalu. Namun, bosan bukan satu-satunya alasan yang membuat saya resign.

Setelah bertahun berlalu dan mengalami beberapa kali pengunduran diri dari pekerjaan, saya pun menyadari satu hal yang berkaitan dengan kebosanan.

Sejatinya bosan tidak untuk dihindari tapi dihadapi. Mengapa harus dihadapi? Karna mungkin suatu saat nanti bosan itu akan datang padamu lagi. Ia akan hadir mengisi harimu lagi. Jadi kamu tak akan bisa menghindar darinya.

Lalu bagaimana cara menghadapinya?

Bosan melanda di saat kita lelah menghadapi aktifitas yang itu itu saja. Rutinitas yang monoton, bertemu dengan dia lagi, kamu lagi, kamu terus.

Bosan melanda mungkin saat hati dan pikiran kita kosong. Terjebak dengan rutinitas yang monoton membuat kamu tak punya kesempatan mengembangkan diri, menikmati gaji, mengisi hati dan menata diri menggali potensi.

Hadapi kebosanan itu dengan berani, ambil posisi dan atur strategi. Kamu bisa berlibur misalnya. Berhenti sejenak dari kegiatan yang kamu anggap membosankan itu. Pergilah ke mana kamu suka. Nikmati setiap jam, menit dan detiknya.

Pergilah silaturrahim ke kerabat yang telah lama tak kau kunjungi. Seberapa pun jauh jaraknya, niatkan untuk menguatkan ikatan persaudaraan karna Allah. Ziarah ke teman dan sahabat yang tlah lama tak kau sapa. Yang paling utama datangilah orangtua yang semakin jauh jaraknya darimu.

Singgahlah, hadirilah tempat di mana malaikat-malaikat berkumpul. Taman surga namanya, tempat di mana orang-orang salih berkumpul mengajak kepada amar ma'ruf, mengkaji Al qur'an, saling nasihat menasihati, mengajak untuk mengingat Allah. Kekosongan hati akan terisi, pikiran akan penuh dengan amunisi, galau tak ada lagi, bosan pun sirna tak kembali.

Lalu kembalilah pada rutinitasmu. Kembalilah dengan senyum, semangat dan percaya diri.

Dan di sinilah saya kembali pada rutinitas yang dulu membosankan. Namun, akan saya hadapi semuanya dengan ikhlas dan sunggu-sungguh seolah memulai semuanya dari nol.


Selamat tinggal bosan!




Wednesday, 27 July 2016

What I Got From Hiccup and Toothless

google

Hiccup –nama yang lucu cenderung aneh karena dalam Bahasa Indonesia artinya cegukan :D adalah seorang anak laki-laki yang sama sekali tidak memiliki kemampuan membunuh naga seperti sang ayah yang merupakan seorang Viking handal pembunuh naga. Hiccup justru menjadikan naga sebagai teman dekatnya.

Hiccup tidak mempunyai keahlian berperang melawan naga seperti teman-temannya, tapi ia malah menemukan cara untuk menaklukkan naga dengan cara lain, yaitu dengan menyayangi dan berusaha mengerti perasaan seekor naga.

Dari film “How To Train Your Dragon” ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran.

Wednesday, 13 July 2016

Apa Kabar Sampah Pelastik?



Pertama kali mendengar ada program pelastik berbayar beberapa bulan lalu, aku begitu semangat dan sangat mendukung. Tapi terbesit juga rasa kecewa, mengapa harga pelastik belanja di supermarket hanya dikenakan harga 200 rupiah. Itu harga yang menurutku tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi masyarakat. Harga segitu terlalu murah sehingga masyarakat tidak keberatan kehilangan uang seharga dua buah permen. Mengapa harga tidak diaptok sedikit lebih tinggi? 500 atau 1000 rupiah misalnya. Dengan harga sebesar itu, masyarakat akan pikir panjang untuk membayar sebuah pelastik ketika berbelanja. Jadi, tujuan pemerintah dalam mengurangi sampah pelastik pun ada sedikit titik cerah.

Thursday, 16 June 2016

5 Problems With Social Media


Gambar dari google


Siapa sih yang gak tau sosmed alias sosial media?

Makhluk yang satu ini emang tenar banget di jaman sekarang. Sebut saja facebook, twitter, whatsapp, bbm, Instagram, path, blog, daaaan masih banyak lagi. Kamu pasti punya akun di semua sosmed yang saya sebutkan itu, kan? Ada sebagian orang yang hanya memiliki akun di beberapa sosmed saja, tapi ada juga yang saking eksisnya dia buat akun di seluruh sosmed. Apalagi kalau ponsel baru, waaah, kesempatan yang bagus banget buat eksis di semua sosmed.

Apa sih fungsi sosmed?

Sunday, 12 June 2016

Jadi, Siapa yang Bertanggungjawab?



Pengalaman hari ini benar-benar mengerikan. Pasalnya saya menyaksikan sendiri apa yang selama ini saya dengar dari Bunda Elly Risman tentang bahaya pornografi pada anak. Saya ingat Bunda Elly pernah bilang bahwa sasaran pornografi terbesar adalah anak laki-laki.

Hari ini saya ditakdirkan untuk datang ke sebuah warnet untuk keperluan print dan scan. Saya jarang sekali datang ke warnet, bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Karena memang di rumah tersedia laptop dan mesin printer, jadi saya tidak perlu keluar untuk urusan print out. Tapi hari ini qadarullah kertas di rumah habis sehingga memaksa saya untuk pergi ke warnet.

Thursday, 9 June 2016

Polusi Jadi Tradisi




Ada tradisi atau kebiasaan yang terjadi di setiap datangnya bulan Ramadhan. Sebut saja pedagang makanan dadakan yang menggelar dagangannya di pinggir jalan. Fenomena ini dapat kita jumpai hampir di setiap sudut jalan. Ada penjual kolak, gorengan, lontong, kue kering, dll. Kemudian muncul pula tradisi petasan yang “special” dinyalakan hanya bulan Ramadhan. Nah, yang kedua inilah yang disebut polusi jadi tradisi.

Mengapa polusi? Ya, petasan menimbulkan polusi suara. Polusi suara adalah suara keras yang sangat mengganggu yang diakibatkan oleh music yang sangat kencang, kendaraan yang lalu lalang dengan suara bising dan petasan yang menimbulkan suara yang cukup mengguncangkan hati, dan suara bising lainnya.

Friday, 22 April 2016

UNTUK BUMI




Hey, kalian tau gak kalau hari ini adalah hari bumi? Yup, setiap tanggal 22 April, warga bumi merayakan hari bumi. 

Kenapa sih harus ada hari bumi?

Hari bumi bertujuan untuk mengembalikan kesadaran kita betapa pentingnya menjaga dan melestarikan bumi yang kita huni ini. Tidak hanya tangga 22 April saja sih kita harus menjaga bumi, setiap saat hendaknya kita selalu memperhatikan bumi yang sudah semakin tua ini.

Sebagai penghuni bumi sudah semestinya kita menjaga dan memelihara kelestarian bumi. Lalu bagaimana caranya menjaga bumi?

Berikut beberapa poin yang bisa kita lakukan untuk menjaga bumi tetap aman dan nyaman kita tinggali.

Friday, 8 January 2016

Jangan Mau Transit di Neraka




Wih, judulnya serem ya?

Transit atau singgah biasanya digunakan pada saat melakukan perjalanan. Transit di bandara ini, transit di stasiun itu, transit di terminal sana, transit di halte situ, barulah kita melanjutkan perjalanan lagi menuju tujuan akhir.

Nah, tapi ini kok transit di Neraka? Siapa juga yang mau transit di Neraka? Denger namanya aja gak sanggup, apalagi harus transit!

Tenang kawan, Nabi Muhammad Saw. dalam hadist riwayat Abu Hurairah, bersabda, “Setiap ummatku pasti akan masuk Surga, kecuali yang tidak mau. Sahabat bertanya, ‘Ya, Rasulullah, siapa yang tidak mau?’ Beliau Saw. menjawab, ‘mereka yang menaati aku akan masuk Surga dan yang menentangku, maka dia enggan masuk Surga.”

Sunday, 13 December 2015

Perlukah Nilai Moral Dalam Sebuah Tulisan



Setiap penulis memiliki tujuan atau motivasi yang berbeda dalam menulis. Ada yang berpendapat menulis adalah sarana berdakwah menyampaikan kebaikan, ada juga yang berargumen bahwa menulis itu adalah art yang bertujuan untuk menghibur pembaca atau untuk memuaskan diri sendiri. Penulis yang menyatakan bahwa menulis adalah sarana dakwah, biasanya akan menyelipkan hikmah atau pelajaran dalam setiap tulisannya. Sedangkan bagi penulis yang berpendapat menulis adalah seni, sebagian tidak terlalu memusingkan apakah tulisannya mengandung nilai-nilai moral atau tidak. 
 
Saya sendiri sependapat dengan penulis yang menjadikan menulis sebagai ladang dakwah. Tergabung dalam komunitas yang memiliki visi misi berdakwah melalui tulisan, membentuk mind set bahwa saya harus menulis sesuatu yang bisa membawa manfaat bagi pembaca. Bukan hanya sekedar menulis atau menghibur pembaca, tapi saya berharap pembaca dapat mengambil nilai positif dari tulisan tersebut. Meskipun sulit, bukan berarti tidak bisa. Hanya butuh latihan dan membaca banyak referensi.

Wednesday, 2 December 2015

7 Teknik Pembuka Tulisan



Terlanjur berjanji pada seorang gadis untuk menuliskan ini. Jadi, ia bertanya pada saya bagaimana caranya menulis cerpen. Lebih tepatnya sih, dia minta diajarkan membuat cerpen yang baik. Duh, kenapa juga gadis itu minta diajarkan oleh saya? Lha, wong saya juga masih belajar ;(

Tapi boleh ya, sekedar berbagi sedikit ilmu yang pernah saya tahu. Berharap ilmu ini tidak menguap begitu saja dan semoga dapat membawa manfaat bagi kita semua, terutama yang mencintai dunia literasi.

Begini, gadis itu mengajukan pertanyaan, hal apa yang harus dipelajari lebih dulu untuk membuat cerpen? 

Monday, 16 November 2015

Semua Gara-Gara Kamu





Berapa lama waktu tercepat kamu membaca sebuah buku? Aku? Novel tercepat yang aku baca seingatku sih, Laskar Pelangi yang memakan waktu dua hari dengan mengurung diri di kamar. Ah, tapi itu belum ada apa-apanya dibanding dua orang teman yang melahap sebuah novel hanya dalam hitungan jam. 

Sebut saja Aini, novel tercepat yang ia baca adalah novel terbitan Gagas Media yang dilahapnya hanya dalam waktu dua jam saja. Udah gitu bacanya sambil nyender di pintu yang rusak malam-malam pula, sampai ibunya berkomentar, “Udah malam. Waktunya tidur. Tidur sana!” Dan Aini pun tetap melanjutkan bacaannya. Hayo, Aini, dengarkan kata mama! 

Tuesday, 23 June 2015

Menemukan Mas Gagah

Dukung Film KMGP
Kisah Ketika Mas Gagah Pergi sedikit banyak ceritanya mirip dengan kisahku. Sejak aku duduk di bangku SMP, kakakku sudah menyuruhku untuk memakai jilbab. Bukan hanya kakakku tapi juga ibuku turut mendesak untuk memenuhi perintah Allah Swt itu. Tapi waktu itu aku tidak mengindahkan keinginan mereka. Entah mengapa aku merasa malu jika harus memakai jilbab ke sekolah. Pasalnya teman-teman tidak ada yang mengenakan pakaian takwa itu. Sebenarnya bukan tidak ada sama sekali, tapi sedikit sekali yang menggunakannya, bisa dihitung dengan jari, mungkin sekitar satu atau dua anak saja yang mengenakannya. Meski begitu kakak dan ibuku tetap sabar dan terus berusaha untuk mengingatkanku.

Thursday, 11 June 2015

Siapa Temanmu?

Guys, berteman itu jangan pilih-pilih. Eits, kata siapa? Justru berteman itu harus pilih-pilih. Pilihlah teman yang baik-baik agar kita tertular kebaikannya. Pilh teman yang solih agar kita tertular kesolihannya. Pilih teman yang pintar agar kita tertular kepintarannya (tapi kalau gak pernah belajar, ya jangan harap bisa pintar, hehe).

Ingat! Berteman dengan penjual minyak wangi akan kecipratan wanginya. Berteman dengan pandai besi akan kecipratan apinya. So, mau berteman dengan penjual minyak wangi atau pandai besi? The choice is yours.

Eh, tapi ada nih yang bilang kalau berteman dengan orang tidak baik justru akan menjadi ladang dakwah kita agar teman kita itu berubah menjadi baik. Jangan pede dulu guys. Kalau iman kita belum kuat, jangan coba-coba deh. Yang ada nanti, bukannya teman kita yang berubah menjadi baik malah kita yang ikutan dia jadi gak baik. Bahaya kan urusannya kalau begitu?

Nabi Isa ‘alaihissalam pernah bilang gini, “Bertemanlah dengan orang-orang yang pemikirannya dapat membuat kamu selalu ingat kepada Allah, dengan orang yang perkataannya dapat membuat gairah ibadahmu meningkat dan dengan orang yang amalannya dapat memperdalam kecintaanmu terhadap akhirat.”

Nah, teman yang kayak gitu tuh yang wajib kita temenin, hehe. Berteman dengan orang solih insyaa Allah akan membawa kita menuju kesolihan. Ingat gak doa orang tua kita dulu sewaktu kita kecil? Kedua orang tua kita selalu mendoakan agar kita menjadi anak yang solih dan solihah. Doa orang tua itu akan terwujud salah satunya dengan berteman dengan orang-orang solih. Masa sih kita gak mau mewujudkan doa dan harapan orang tua?

Terus juga dalam memilih teman jangan pilih-pilih guys. Lho kok beda sama pernyataan di atas? Katanya harus pilih-pilih teman, eh sekarang disuruh jangan pilih-pilih? Jadi yang mana yang benar? Hehe. Maksdunya jangan pilih-pilih teman gini ya. Misalnya kita hanya mau berteman dengan mereka yang anak orang kaya saja atau kita cuma mau berteman dengan mereka yang cantik dan ganteng saja. Nah, yang kayak gitu jangan dijadikan patokan dalam memilih teman. Bertemanlah dengan siapa saja, miskin atau kaya, cantik atau tidak, pintar atau tidak. Semua boleh kok jadi teman kita.

Yang harus dijadikan patokan dalam memilih teman adalah berdasarkan tingkat kesolihannya, pemahaman agamanya dan kedekatannya kepada Allah. Seperti kata ulama nih guys, “Bertemanlah dengan salah satu dari dua macam orang ini. Pertama, orang yang dapat mengajarkan urusan agama kepadamu sehingga kamu dapat mengambil manfaat darinya. Kedua, orang yang mau belajar darimu tentang urusan agamanya.”

Nah, gimana guys, udah tau kan sekarang bagaimana memilih teman yang baik? Jadi, siapa temanmu?
 

#NulisRandom2015 #Day9




Monday, 8 June 2015

Mau Kirim Naskah Ke Media? Simak Dulu Tips Ini

Tips mengirim naskah ke media dari Bang Palris Jaya, seorang cerpenis yang karyanya sudah malang melintang di berbagai media.

1. Tentukan jenis majalah yang akan dituju. Jika kamu ingin mengirim naskah ke majalah remaja misalnya, buatlah konflik semenarik mungkin yang terjadi dalam kehidupan khas remaja.

2. Jangan terlalu memaksakan idealisme pribadi untuk dimasukkan ke dalam cerita. Buatlah cerita sesuai dengan karakter media yang di tuju.

3. Cukup kirim satu naskah ke satu media. Jangan mengirim satu naskah yang sama ke media-media yang berbeda.

4. Biasanya media yang professional akan mengabarkan apakah naskah kita diterima atau tidak melalui pemberitahuan via e-mail. Namun ada juga media yang tidak mengabarkan mengenai hal ini. Jadi di sini penulislah yang harus aktif bertanya. Bisa bertanya via e-mail, telpon atau datang langsung ke penerbit.

5. Batas waktu diterima atau tidaknya naskah adalah 3 bulan. Jika setelah tiga bulan tidak ada kabar, penulis boleh menarik naskahnya dari media tersebut. Nah, penarikan naskah pun harus ada pemberitahuan dari penulis ke media bahwa naskah yang dikirim akan ditarik. Kirim e-mail ke media yang bersangkutan yang menyatakan bahwa naskah akan ditarik. Setelah naskah ditarik, penulis boleh mengirimkannya lagi ke media yang berbeda.

6. Alangkah lebih baik mengirim naskah dalam dua versi. Versi print out dan e-mail. Karena ada beberapa editor yang malas membaca naskah via e-mail.

7. Jika mengirim naskah via e-mail, penulis dapat melakukannya sebanyak tiga kali. Jaga-jaga kalau e-mail tidak masuk ke redaksi.

8. Yang paling penting dari semua poin di atas. Sebelum mengirim naskah pastikan tehnik penulisan sudah sesuai dengan EYD. Ada beberapa editor yang sangat tegas mengenai hal ini. Jadi meskipun penulis merasa tulisan sudah bagus, tapi kalau tehnik penulisan masih banyak kesalahan, editor tidak akan mentolerir hal itu. jadi jangan malas membaca ulang naskah dan lakukan pengeditan sebaik mungkin.

Semoga poin-poin di atas dapat diperhatikan dengan baik oleh para penulis, khususnya penulis pemula seperti saya. Sehingga terhindar dari penolakan yang tidak diharapkan. Jika ada tips-tips lain yang dirasa kurang, silakan ditambahkan. Selamat menulis. selamat berkarya.

(Rangkuman materi dari pertemuan Pramuda FLP. Minggu, 7 Juni 2015)

Tuesday, 26 May 2015

Udah Sharing Aja!



“Hey, kalian gak salah? Itu beneran aku yang menang? Coba dicek lagi deh, jangan-jangan salah nyebut nama?” Jerit hatiku tidak menyangka suatu lomba menulis cerpen menyebut namaku sebagai pemenangnya.

Aku bertanya-tanya dalam hati, kok bisa menang ya? Padahal menurutku, tulisan yang aku kirim itu biasa saja, tidak ada yang unik apalagi istimewa. Aku yakin sekali tulisan teman-teman pasti lebih bagus. Karena memang aku sering membaca tulisan-tulisan mereka di blog masing-masing, dan memang bagus menurutku. Malah aku berpikir, kapan ya bisa membuat tulisan bagus seperti itu?

Itulah rencana Allah, takdir yang sudah ditulis olehNya tak ada yang bisa mengelak. Kalau Allah bilang menang ya menang, kalau Allah bilang kalah, masa kita mau nangis-nangis guling-gulingan di lantai, hehe.

Saturday, 16 May 2015

Orphan



What crossed your mind when you see that word?

Orphan atau yatim piatu dalam Bahasa Indonesia, adalah sebutan bagi mereka yang telah ditinggal mati oleh kedua atau salah satu dari orang tuanya. 

Rasulullah adalah seorang yatim dan mencintai anak yatim. Kita dianjurkan utuk  memelihara dan menyayangi anak yatim. Jangan sesekali membuatnya bersedih hati, karena Rasul tidak suka itu. Mari kita simak bukti cinta Sang Nabi kepada anak yatim berikut ini.

Dikisahkan pada suatu hari ketika Raslulullah saw. berangkat untuk melaksanakan shalat Ied, dalam perjalanan beliau melihat seorang anak dengan pakaian kumal sedang menangis. Padahal disekeliling anak itu banyak anak-anak lain yang sedang bermain riang gembira. Rasulullah segera mendekati anak tersebut.

Cara Memupuk Kegemaran Membaca Sejak Kecil Hingga Dewasa

  Sebelum kita membahas cara memupuk kegemaran membaca, mari kita flashback sedikit ke masa di mana kita berada di fase belajar membaca d...