Wednesday 5 August 2015

Bank BNI Yang Nyaman Bikin Ketagihan

Sejak kecil nama Bank BNI sudah sangat akrab ditelinga karena memang saat itu ibuku adalah salah satu nasabah di bank tersebut. Aku sering melihat ibu mengeluarkan buku tabungan BNI-nya dan sering menyebut-nyebut nama bank itu setiap akhir atau awal bulan. Ibuku  adalah  ibu  rumah tangga yang tidak mempunyai penghasilan sendiri. Kami sekeluarga mengandalkan  nafkah dari bapak yang bekerja jauh di negeri seberang. Setiap bulan bapak pasti mengirim uang pada kami di Indonesia, dan ibu mengambilnya melalui Bank BNI.

Dulu aku sering melihat ibu pergi ke bank setiap awal bulan, sesekali aku pun diajaknya. Dan inilah kesempatanku untuk melihat isi di dalam  gedung  yang bernama bank. Ternyata gedung Bank BNI yang aku kunjungi begitu besar dan dingin, orang-orang yang datang berpakaian rapi, berjas dan kemeja rapi khas orang kantoran. Suasana Bank BNI yang nyaman membuatku senang berada di sana.

Seiring aku tumbuh besar, kadang-kadang ibu menyuruhku pergi ke Bank BNI untuk mengecek apakah uang yang dikirim bapak sudah masuk atau belum. Sebelumnya aku tidak pernah pergi ke bank sendirian dan aku bingung apa yang harus dilakukan di sana. Ibu menyuruhku karena memang lokasi Bank BNI dekat dengan sekolahku yaitu di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. jadi sebelum masuk sekolah aku sempatkan mampir ke Bank BNI terlebih dahulu. Ibu mempercayaiku untuk pergi ke bank sendirian mengingat aku sudah duduk di bangku SMP yang sudah bisa untuk pergi sendiri menurut ibuku.

Aku sering mendengar ibu mengatakan kata-kata “cek” atau “cek saldo” namun aku tidak paham  apa maksud dari kata-kata itu. Dan  suatu hari aku disuruh untuk mengecek uang yang masuk ke bank. Ibu tau kalau aku bingung, beliau berkata “kasih buku tabungan ke Mba nya, bilang aja cek mba.”. Dan aku  pun  melaksanakan apa yang ibu perintahkan meskipun aku tidak mengerti apa maksudnya.

Pertama kali datang ke bank sendirian itu rasanya was-was, khawatir dan bingung. Aku merasa semua orang memandang ke arahku dan berkata “Ngapain ini anak kecil dateng ke bank?” hehe. Aku melakukan hal yang sama seperti semua orang yang ada di bank, antri. Aku berdiri dengan  sabar di antrian yang panjang sampai akhirnya tiba giliranku menuju teller. Sesampaiku di teller, aku mengikuti saran ibu, menyerahkan buku tabungan dan berkata “cek mba”, sang teller ternyata sudah paham maksudku lalu mengambil buku tabungan yang aku pegang sambil tersenyum  ramah. Tidak perlu menunggu waktu lama, sang teller kembali dan berkata “sudah masuk”, lalu menyerahkan buku tabungan padaku, tidak lupa tersenyum. Meskipun aku tidak begitu mengerti, tapi aku mengambil kesimpulan sendiri bahwa uang kiriman sudah masuk lalu aku tersenyum bahagia dan ingin segera mengabarkannya ke ibu.

Pulang dari Bank BNI yang nyaman, aku berpikir ternyata pergi ke bank itu mudah sekali. Tinggal serahkan buku tabungan lalu bilang saja “cek” dan selesai. Yah, itu pikiran seorang anak kecil yang belum paham betul aktifitas di bank selain cek saldo.

Segera aku kabarkan kalau uang kiriman sudah masuk pada ibu begitu sampai di rumah. Ibu terlihat sumringah mendengar kabar dariku. Mengetahui uang kiriman sudah masuk, aku pun memiliki permintaan pada ibu agar membelikanku sebuah tempat pinsil yang baru. Senang rasanya ketika ibu mengiyakan dan aku bahagia akan memiliki tempat pinsil baru yang aku suka. pengalaman pertama pergi ke Bank BNI itu membuatku jadi ketagihan untuk pergi ke sana, karena jika uang kiriman sudah masuk aku bisa minta dibelikan sesuatu pada ibu, hehe.

Bank BNI menjadi bank pertama yang aku kunjungi sewaktu kecil. Dan sekarang usianya sudah mencapai 69 tahun. Wah, bank ini sudah cukup tua ternyata, tapi tentu saja semakin dicintai oleh masyarakat Indonesia yang masih setia menjadi nasabahnya sejak dulu. 

Selamat ulang tahun ke-69 Bank BNI. Semoga semakin berjaya dan semakin memudahkan masyarakat untuk bertransaksi kapan pun dimana pun.

#DirgahayuBNIke69
#69TahunBNI



No comments:

Post a Comment

Kumpulan Cerita Menghibur dan Sarat Makna dari Penulis Cilik

  Judul: Papa Idamanku Penulis: Farah Hasanah K. Dinda Rahmadhani, dkk. Penerbit: Indiva Media Kreasi Tebal: 143 halaman Harga: Rp...