Thursday, 28 January 2016

Menjadi Percaya Diri dengan Bertanya



Dulu saya termasuk anak rumahan yang jarang sekali pergi keluar selain ke kantor. Karena memang saya tidak punya banyak kegiatan yang mengharuskan pergi keluar rumah. Hari-hari saya sudah disibukkan oleh pekerjaan, Senin sampai Jumat kadang juga sampai Sabtu. Jadi begitu ada hari libur otomatis akan menghabiskannya di rumah, melakukan pekerjaan rumah, istirahat atau nonton DVD. Dengan jarangnya saya keluar rumah, saya jadi tidak banyak tahu jalan maupun tempat-tempat tertentu di Jakarta, padahal saya tumbuh dan besar di kota metropolitan ini.
 
Seiring berjalannya waktu, saya mulai memberanikan diri untuk pergi ke tempat-tempat selain yang biasa saya kunjungi. Tapi kepergian saya ke tempat-tempat tersebut bukan tanpa tujuan. Bergabung dalam beberapa komunitas dan aktif mengikuti berbagai kegiatannya, membuat saya punya alasan atau tujuan mengunjungi berbagai tempat. Tidak semua tempat saya tahu, ada beberapa lokasi yang memang tidak pernah saya kunjungi sebelumnya.

Tuesday, 26 January 2016

Review Film Ketika Mas Gagah Pergi: Fi Sabilillah



Setelah pertemuan lalu si juru dakwah on the street menyelamatkan Gita dari aksi pencopetan, pada pertemuan kali ini Gita memutuskan untuk ikut turun dari bus yang sama dengan yang tumpangi si juru dakwah on the street itu. setelah mengucapkan terima kasih, si juru dakwan pun tidak bisa berlama-lama ngobrol bareng Gita karena harus meneruskan perjalanan. Seketika melompatlah si juru dakwah on the street itu ke atas bus. 

“Mas, namanya siapa?” tanya Gita sedikit berteriak karena bus yang dinaiki si juru dakwah on the street segera melaju.

“Yudi,” jawab si juru dakwah yang juga sambal berteriak.

“Siapa?!” bisingnya jalanan ditambah bus yang sudah semakin menjauh membuat Gita tidak bisa mendengar jelas suara si juru dakwah.

Friday, 22 January 2016

Ulasan Film Ketika Mas Gagah Pergi: Fi Sabilillah





Setelah pertemuan lalu si juru dakwah on the street menyelamatkan Gita dari aksi pencopetan, pada pertemuan kali ini Gita memutuskan untuk ikut turun dari bus yang sama dengan yang tumpangi si juru dakwah on the street itu. setelah mengucapkan terima kasih, si juru dakwan pun tidak bisa berlama-lama ngobrol bareng Gita karena harus meneruskan perjalanan. Seketika melompatlah si juru dakwah on the street itu ke atas bus. 

“Mas, namanya siapa?” tanya Gita sedikit berteriak karena bus yang dinaiki si juru dakwah on the street segera melaju.

“Yudi,” jawab si juru dakwah yang juga sambal berteriak.

Wednesday, 13 January 2016

3M Untuk Sesuatu yang Hebat



Kamu suka baca buku gak? Nggak? Duh, sayang sekali. Oke. Sebelum kamu suka membaca, ada baiknya baca dulu cerita saya. Cerita tentang buku. Hehe.

Jadi saya mulai suka membaca itu dulu waktu SMA. Hah? Telat banget ya? Ya begitulah, haha. Awalnya ada seorang teman laki-laki yang meminjamkan saya buku cerita. Kalau tidak salah itu buku karya Enid Blyton, sayang sekali lupa judulnya. Ketika membaca buku itu, wah ternyata ceritanya seru dan akhirnya saya ketagihan. Keesokan harinya saya pinjam lagi buku lain dari dia. Lama kelamaan saya merasa tidak enak terlalu sering meminjam buku padanya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku sendiri.

Tuesday, 12 January 2016

Puisi Cinta nan Mempesona



 
www.goodreads.com
Mata Ketiga Cinta, oleh Helvy Tiana Rosa adalah buku kumpulan puisi kedua yang saya baca masih dalam rangka menelisik lebih jauh apa itu puisi. Kumpulan puisi ini bertemakan cinta yang ditulis dalam kurun waktu 1985-2011. Sebanyak 42 puisi penuh yang begitu menyentuh, meskipun banyak bait yang tidak saya pahami seutuhnya.

Tema cinta yang diangkat tidak melulu kisah cinta sejoli yang dimabuk asmara. Cinta yang ditampilkan dalam buku ini adalah universal yang disusun dalam diksi cantik sarat makna. Cinta ibu, cinta seorang wanita, cinta Palestina dan yang paling esensial yaitu cinta ilahi. Beberapa puisi yang sangat membekas dalam benak saya di antaranya; Kepada Tuan Teroris, Apakah Sampai Padamu Berita tentang Mahanazi dan Tahajud.

Friday, 8 January 2016

Jangan Mau Transit di Neraka




Wih, judulnya serem ya?

Transit atau singgah biasanya digunakan pada saat melakukan perjalanan. Transit di bandara ini, transit di stasiun itu, transit di terminal sana, transit di halte situ, barulah kita melanjutkan perjalanan lagi menuju tujuan akhir.

Nah, tapi ini kok transit di Neraka? Siapa juga yang mau transit di Neraka? Denger namanya aja gak sanggup, apalagi harus transit!

Tenang kawan, Nabi Muhammad Saw. dalam hadist riwayat Abu Hurairah, bersabda, “Setiap ummatku pasti akan masuk Surga, kecuali yang tidak mau. Sahabat bertanya, ‘Ya, Rasulullah, siapa yang tidak mau?’ Beliau Saw. menjawab, ‘mereka yang menaati aku akan masuk Surga dan yang menentangku, maka dia enggan masuk Surga.”

Thursday, 7 January 2016

Belajar Puisi



Pertama kali belajar menulis saya lebih sering menulis artikel, sama sekali tidak tertarik untuk menulis cerpen, karena saya termasuk orang yang kesulitan dalam berimajinasi. Menurut saya menulis cerpen atau fiksi itu butuh kreativitas dalam berimajinasi. Lalu apa yang akan ditulis jika tidak bisa berimajinasi? Dan saya pun menghindari menulis cerpen.

Namun, lama kelamaan saya perhatikan setiap ada lomba menulis, selalu yang diangkat adalah cerpen. Dulu jarang sekali saya temukan lomba menulis artikel. Dari situ saya berpikir, saya harus bisa menulis cerpen supaya bisa ikut lomba-lomba itu. Akhirnya saya pun mulai memberanikan diri menulis cerpen, mulai membaca lagi buku kumpulan cerpen dan mempelajari bagaimana cara menulisnya dari cerpen-cerpen yang saya baca. Akhirnya sekarang saya telah melahirkan beberapa cerpen, walaupun belum sempurna.

Jadikan Buku Benda Favorit Anak

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar dengan tema “Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca”. Sa...