Monday, 19 October 2015

Film Serem Tanpa Hantu



foto by premiermagz

“Film serem yang gak ada hantunya” itulah pendapat saya mengenai film 3: Alif Lam Mim. Hey, film serem gak cuma yang ada hantu-hantu gentayangan sepanjang film diputar. Lalu kenapa film 3 ini saya kategorikan film serem? Simple. Itu hanya masalah pribadi saja. Pasalnya saya gak sanggup lihat adegan action yang penuh dengan aksi mematahkan tulang, suara tulang patah yang bikin meringis plus semburan darah yang muncrat kemana-mana, it made me scream all the time, haha…no no, not all the time, only when I saw the martial art’s part. Satu lagi yang bikin serem adalah ide ceritanya. Membayangkan apa yang ada di film ini menjadi kenyataan di masa depan, oh, itu sangat menyeramkan. Kagum banget sama yang bikin ide cerita ini. Thumbs up for you.

 
Walaupun masuk kategori serem versi saya, film ini memiliki tingkat kelayakan yang sangat tinggi untuk ditonton. Ini seharusnya jadi film box office. Tapi kenapa sebentar banget ya bertengger di bioskop? Padahal pemainnya keren-keren, sebut saja Abimana, Rio Dewanto, Agus Kuncoro, Prisia, dan lain lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, hehe..Mungkin kamu dapat menyimpulkan jawabannya sendiri setelah saya utarakan isi filmnya.

Jadi, ini tuh film dengan tema yang sangat sensitif banget di masyarakat kita, yaitu liberalisme. Digambarkan negeri kita akan menjadi negeri yang menganut paham liberal pada tahun 2036. Hey, negeri kita bukan Indonesia seperti sekarang ini, tapi berganti nama menjadi “Libernesia”. Wow banget ya namanya!!!

Di Libernesia, paham yang dianut adalah paham liberal yang membebaskan sebebas-bebasnya dalam segala hal, termasuk bebas dalam menginterpretasikan suatu agama. Akan tetapi kebebasan itu sepertinya hanya berlaku bagi mereka yang mayoritas, sedangkan bagi minoritas jangan harap mendapatkannya. For your info, di sini diceritakan bahwa Islam tidak lagi menjadi mayoritas, sedikit demi sedikit penganutnya mengubah ideologi mereka. Okelah mereka Islam, tapi jangan harap menemukan mereka melaksanakan ibadah dengan khusyuk dan aman di negeri ini. Bahkan untuk shalat saja kamu harus sembunyi-sembunyi,  jika ketahuan, kamu akan dibully habis-habisan.

Ideologi liberal mendefinisikan Islam sebagai agama radikal, ekstrimis, teroris yang harus dibasmi. Negeri yang menganut kebebasan tapi justru melarang warganya memakai atribut keagamaan seperti gamis dan sorban, bahkan mendapatkan tatapan sinis dan yang paling parah adalah label teroris akan melekat pada diri mereka. Jadi kebebasan macam apa yang dimaksud??! Mereka berteriak “kebebasan” ketika mereka menjadi minoritas, begitu menjadi mayoritas, mereka menindas siapa saja yang tidak sepaham dengannya.

Pelajaran yang saya ambil dari film ini adalah ketika Kiai Mukhlis berkata pada Mim, salah satu tokoh utamanya, begini kira-kira kata-kata beliau, “Islam bukan agama pembunuh”. Padahal saat itu Mim yang dengan susah payah menghadapi musuh dengan segala keahlian bela dirinya dapat melumpuhkan dan menaklukkan kekuatan musuh, bahkan Mim berkesempatan menghabisi nyawa musuhnya itu. Namun karena sang Kyai mengeluarkan kata-kata pamungkasnya, Mim pun segera menyadari dan berlalu meninggalkan musuh yang sudah tak berdaya. Itulah indahnya Islam yang diajarkan oleh Nabi Saw. tidak sembarang membunuh musuh yang sudah tak berdaya.

Kesan yang mendalam lainnya yang saya tangkap ada dalam peran Lam sebagai seorang jurnalis yang memiliki idealisme tinggi, yang selalu berusaha untuk menyampaikan berita sesuai fakta. Kata-katanya yang terekam dalam memori saya yaitu ketika masa kecilnya belajar di pondok pesantren dia menyatakan cita-citanya, “Aku ingin menjadi penulis yang menulis tentang kebenaran”. Itu sesuatu yang keren yang harus dilakukan oleh seorang penulis. Dan saya akan merekamnya dalam memori sampai kapan pun agar saya dapat membuat tulisan tentang kebenaran someday.

Film action sekaligus dakwah ini tidak melulu berisi adegan perkelahian, tapi ada bumbu romance-nya juga lho. Nah, bagian ini dimainkan oleh Alif yang jatuh cinta pada Laras alias Nayla. Kisah cinta yang cukup rumit di antara keduanya, bahkan tidak seharusnya mereka jatuh cinta. Perasaan cinta yang ada di antara mereka justru akan membuat misi liberalisme yang sudah dirancang sedemikian rupa olek pihak berwenang kacau bahkan gagal. “Virus cinta adalah virus yang mematikan”, begitu kata pemeran Ayah Laras dalam film ini. O ya, Alif dan Laras punya mantra sakti, mau tau? Nih, dia mantranya, “Fight and never lose hope”. Saya rasa mantra itu sangat cocok kita adopsi untuk menjalani hidup lebih positif dan tetap berjuang.

Bicara tentang visualisasi masa depannya, film ini lumayan ok, kerenlah. Aku sampe mikir, apa iya di masa depan nanti wujud gadget bakalan kayak gitu?

Selain adegan fighting and romance, di film ini juga ada bagian yang menguras air mata. Di beberapa scene film ini sukses membuat air mata saya menganak sungai alias nangis sebenar-benarnya nangis. Saya cukup sering menonton film yang berhasil meneteskan airmata sebelumnya, tapi film 3: Alif Lam Mim ini bukan hanya meneteskan air mata bahkan banjir air mata. Sekarang saya tau kenapa kalau nonton bioskop lampunya dimatikan, karena supaya kalau ada adegan sedih dan nangis gak ada yang melihat, hahaha… 

One more thing, you can also learn English while watching this movie because it provides English subtitle. Cool, hah? :D

Nonton film ini selain oke banget tambah seru kalau nontonnya rame-rame alias nobar alias nonton bareng. Eh iya, apa definisi nobar buat kamu? Oke, saya bantu jawab. Nobar itu pergi ke bioskop bareng, beli tiket bareng, masuk teater bareng dan duduknya di satu area yang sama. Tapi nobar versi saya dan teman-teman pramuda beda. Nobar ala kita, perginya sendiri-sendiri, beli tiket sendiri, masuk teater sendiri (malah ada yang telat banget :D), duduknya juga tersebar dimana-mana, haha…tapi tetep nobar kok, karena kita masih dalam satu taeter yang sama :D


Pasukan Nobar


7 comments:

  1. Seru nobarnya, tapi napa mesti sendiri-sendiri, mbak
    Aku belum nonton film ini, malah baru tahu. Kudet banget ini, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi...
      seru banget lho filmnya. Keren deh pokoknya :)

      Delete
  2. penasaran sama film ini, beneran worth buat di tonton kah? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. I recommend this movie 100%. Kudu mesti ditonton! Gak bakal nyesel deh. Buruan nonton sebelum turun dari bioskop! :)

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Bentar lagi dicopot kayaknya, karena medianya sepi-sepi aja. Yuk yang belum nonton, segera nonton. Recommended banget nih film :D

    http://rumahnulis.blogspot.co.id/2015/10/review-3-alif-lam-mim.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sayang banget film sebagus ini gak bertahan lama di bioskop ;(

      Delete

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...