Friday, 9 December 2016

AKU CEMBURU




Jumat pagi, 2 Desember 2016, hujan turun cukup lebat di wilayah Depok. Aku teringat agenda besar umat Islam hari ini di Jakarta, yaitu Aksi Bela Islam III. Kekhawatiran mulai muncul, bagaimana nanti aksi berjalan jika hujan deras begini? Pikirku. 

Namun, terlintas keyakinan dalam diri bahwa hujan tidak akan menghalangi semangat mereka demi membela Al-qur’an yang telah dinistakan. Hujan yang turun adalah rahmat dariNya. ia adalah tentara Allah yang selalu patuh pada titahNya. Aku berseru dalam hati, “bahkan hujan pun ingin turut serta menjadi saksi bersama jutaan umat Islam dalam aksi super damai ini”.


Dan benar saja, meski hujan melanda umat Islam tetap khusyuk dalam shalatnya, larut dalam doanya, patuh pada qiyadahnya. Hujan menjadi penyegar dalam padatnya lautan manusia, hujan memudahkan mereka untuk berwudhu di kala air sulit dijangkau, hujan menghantarkan doa-doa umat Islam langsung ke hadapanNya. Ialah hujan di hari Jumat yang menjadi tanda-tanda dikabulkannya doa.


Satu hal yang ingin kuungkapkan padamu bahwa “aku cemburu”

Aku cemburu pada mereka yang ditakdirkan Allah turut serta dalam aksi super damai 212 ini. Cemburu melihat semangat mereka, cemburu melihat pengorbanan mereka, cemburu melihat air mata mereka yang bisa merasakan langsung dahsyatnya doa yang dipanjatkan oleh Ustadz Arifin Ilham. Cemburu pada guncangan semangat yang dikobarkan oleh Habib Rizieq, Cemburu pada merdunya suara alunan ayat suci yang dibacakan oleh Ustadz Ali Jaber, cemburu pada kepedulian dan kelembutan Aa Gym yang rela memungut sampah menodai tangan putihnya. Cemburu pada heroiknya orasi Ustadz Bachtiar Nasir.


Aku cemburu, cemburu pada kalian yang punya cerita seru nan mengharukan. Cemburu pada kalian yang dapat mengabadikan momen dahsyat berkumpulnya jutaan umat Islam Indonesia yang cinta pada rabbnya, yang sayang pada nabinya, yang memuliakan kitab sucinya. Cemburu menyaksikan mujahid Ciamis yang rela berjalan kaki berkilo-kilo meter jarak yang harus ditempuh menuju Jakarta. 

Aku cemburu pada paramedis yang dengan senag hati melayani umat Islam yang membutuhkan fasilitas kesehatan. Cemburu pada para pedagang yang suka cita menggratiskan barang dagangannya. Cemburu pada mereka yang tak sempurna raga, tapi sempurna hatinya demi membela rabbnya, agamanya, nabinya, ulamanya.


Aku cemburu pada pemuda yang dengan sigap membersihkan area aksi agar tak ada secuil sampah yang tersisa. Cemburu pada para ibu dan wanita yang membagikan makanan dan minuman secara gratis. Cemburu pada artis-artis yang membiarkan tubuhnya kehujanan, padahal mereka memiliki tempat berteduh ternyaman, mobil teraman yang bisa melindungi mereka dari hujan. Dan itu semua mereka tinggalkan demi agamanya, demi rabbnya, demi nabinya, demi ulamanya. Aku cemburu pada bapak dan ibu polisi yang selalu siap menjaga keamanan dengan senyuman. Aku cemburu pada bapak dan ibu TNI yang siap menolong dengan kasih sayang.



Aku cemburu pada hujan di hari Jumat yang tidak menyapaku, tidak pula membasahi tubuhku dengan rahmatNya.

Semoga kecemburuan ini menjadi tanda bahwa aku berada di sini turut membela agamaku, rabbku, nabiku dan ulamaku. Dengan begitu tak ada lagi cemburu, karena hati dan pikiran ini tetap membersamai mereka yang berkumpul memperjuangkan keadilan di negeri tercinta, Indonesia.  

No comments:

Post a Comment

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu

Judul                : Sunnah Sedirham Surga Penulis              : Salim A. Fillah Penerbit            : Pro-U Media Terbit ...