Sunday, 12 February 2017

Kisah Misteri Romantis Si Mata Ungu




Judul                           : Purple Eyes
Penulis                         : Prisca Primasari
Penerbit                       : Inari, Mei 2016
Tebal                           : 142 halaman

Membaca  awal bab buku ini saya langsung teringat oleh film yang tayang di stasiun TV swasta, yang tidak sengaja saya tonton. Judul filmnya yang saya ingat adalah Percy Jackson. Diceritakan bahwa Percy Jackson datang mengunjungi Neraka padahal dia masih hidup. Misinya pergi ke Neraka adalah untuk menyelamatkan ibunya yang ditawan oleh Dewa Penghuni Neraka.

Berbeda dengan Percy Jackson, buku ini justru menceritakan Dewa Kematian yang turun ke dunia dalam rangka mencabut nyawa seorang pembunuh berantai. Hades, si Dewa Kematian menjalankan misinya ke bumi bersama seorang asistennya yang bernama Lyre. Lyre adalah seorang gadis Inggris berusia 24 tahun yang meninggal pada tahun 1895.


Hades dan Lyre menyamar sebagai manusia dan mengganti nama mereka. Lyre memberikan usul untuk nama pengganti Hades yaitu Halstein, sedangkan Lyre sendiri mengganti namanya menjadi Solveig. Mereka mendatangi sebuah rumah di Norwegia, rumah salah seorang korban pembunuhan berantai.

Di rumah tersebut hanya tinggal seorang pemuda yang adiknya baru saja meninggal akibat pembunuhan berantai yang sadis. Si pembunuh mengincar orang-orang yang berjalan sendirian di malam hari dan mulai menghabisinya. Untuk memuaskan hobinya membunuh orang, ia juga mengoleksi lever korban-korbannya.

Halstein dan Solveig berhasil meyakinkan Ivarr- kakak dari Nikolai, korban pembunuhan- bahwa mereka datang dari Inggris untuk memesan seribu buah boneka troll yang akan mereka gunakan sebagai souvenir dalam pagelaran teater A Doll’s House di London dua bulan lagi. Ivarr pun menyanggupi pesanan mereka dan akan segera memproduksinya. Selama waktu itu pula Halstein dan Solveig akan stay di  Norwegia.

 
Walaupun pembunuhannya terkesan sadis, ini bukan novel misteri ala detektif, juga bukan novel yang menceritakan tentang pembunuhan yang berdarah-darah. Saya kategorikan novel ini sebagai novel misteri romantis. Selain kisah misteri pembunuhan berantai, kisah romantis dimunculkan antara Solveig dan Ivarr. Selama misinya di dunia, Halstein memerintahkan Solveig untuk mendekati Ivarr demi membangkitkan rasa dendam Ivarr kepada pembunuh adiknya.

Solveig terpaksa melakukannya padahal ia tidak menyukai sikap Ivarr yang dingin dan kaku. Tapi demi memenuhi perintah sang Dewa Kematian, Solveig pun menuruti. Seiring berjalan waktu serta hubungan Solveig dan Ivarr yang semakin mencair, mereka merasakan perasaan yang berbeda. Ivarr mulai merasa nyaman dengan kehadiran Solveig, pun sebaliknnya.

Selama interaksi keduanya, Ivarr merasa ada yang aneh dari Solveig. Sesuatu yang aneh yang tidak mungkin ia temui pada orang yang hidup di zaman ini. Yang paling membuat Ivarr terkejut adalah ketika ia mengetahui bahwa Solveig tidak pernah tahu kisah terkenal dari negaranya, Inggris, tentang seorang anak penyihir yang ada tanda sambaran petir di dahinya, Harry Potter, bahkan seluruh dunia tahu Harry Potter.

Tentu saja Solveig tidak tahu tentang Harry Potter, karena ia sudah meninggal di abad 19. Tapi tentu saja Ivarr tidak mengetahui hal itu. Karena, baik Solveig maupun Halstein tidak pernah memberitahu dari mana asal mereka sesungguhnya.

Solveig sangat menyukai mata Ivarr yang berwarna biru keunguan. Sampai sampai ia menulis puisi dengan judul Purple Eyes. Suatu hari tak sengaja Ivarr menemukan puisi itu dalam buku catatan Solveig, ia pun tersenyum membca puisi yang ia yakin ditujukan untuknya. Dari buku itu pula akhirnya misi Halstein dan Solveig terungkap. Hingga pada akhirnnya Ivarr tahu kalau Solveig tidak berasal dari dunianya.

Sebelumnya saya pernah membaca beberapa novel karya Prisca Primasari, tapi itu dulu sudah lama sekali. Dan hingga sekarang saya belum pernah membaca novel karyanya lagi. Meskipun saya tidak membaca karya Prisca, saya cukup mengikuti update novel-novel karyanya. Dan saya kagum padanya yang terus menelurkan karya-karya baru. 

Dari novel-novelnnya yang saya baca, ada ciri khas dari seorang Prisca, yakni novelnya selalu bersetting di luar negeri. Dan Prisca sangat piawai menuliskan setting luar negeri meskipun ia belum pernah mengunjungi negeri yang menjadi setting lokasi dalam novelnnya. Prisca menggambarkan lokasi dalam novelnya dengan detil dan apik, seolah pembaca dapat merasakan suasana yang digambarkan.

Tidak hanya suasana kota yang digambarkan, tapi juga detil atau ciri khas dari negara atau kota tersebut. Seperti novel ini yang bersetting di Trondheim, Norwegia, Prisca mengenalkan sungai Nidelven, teh rasa lavendel, tanaman mistletoe, dsb. Saya seolah membaca novel terjemahan yang ditulis oleh penulis luar negeri, karena memang selain lokasi, nama tokoh dan istilah-istilah yang digunakan terasa asing. Saya rasa hal itu menjadi nilai jual dari sebuah karya tulis yang membutuhkan keunikan sendiri untuk menarik pembaca.

Akhirnya sebagai penutup, saya akan menyampaikan sedikit kutipan yang saya tangkap dari kisah ini,


"Membenci itu melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih" (hlm. 117)


No comments:

Post a Comment

Gemari Karyanya, Jangan Penulisnya!

Saya jarang sekali baca novelnya Tere Liye. Novel pertama karya beliau yang saya baca adalah "Bidadari Bidadari Surga" dan itu su...