Friday 18 April 2014

Mengadu PadaNya Yuk!


 
“ Sesungguhnya hanya kepada Allah lah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…” (QS, Yusuf: 86)

Sejak bermunculannya berbagai social media seperti facebook, twitter, path, whatsapp dll, banyak orang yang menjadikannya tempat curhat (termasuk aku, hehe). Kita dapat mengungkapkan apapun yang sedang kita rasakan saat itu. Kita dapat berbagi kesedihan dan kebahagiaan dengan teman-teman di social media.
Aku sendiri sedikit banyak selalu menuliskan apa yang aku rasakan, baik itu sesuatu yang bahagia maupun yang sedih. Senang rasanya jika aku menuliskan sesuatu kemudian ada yang merespon tulisanku. Banyak teman-teman yang mengomentari status-statusku, mulai dari komen-komen yang santai sampai komen yang serius.


Social media juga bisa menjadi tempat kita mengekspresikan perasaan bahagia, sedih, kecewa, mengungkapkan masalah kita. Ya layaknya sebuah buku harian yang dulu menjadi wadah kita untuk menulis. Namun saat ini aku rasa buku harian sudah jarang digunakan sebagai tempat curhat kita karena tersingkirkan oleh keberadaan social media.


Lalu apa hubungannya social media dengan kalimat pembuka pada tulisanku ini? Mari kita baca sekali lagi kalimat pembuka diatas. Sudah? Nah, apakah kita sudah mengadu pada Dia yang menggenggam kehidupan kita? Atau mungkin kita lebih banyak mengadu pada social media? Apakah Allah sudah menjadi satu-satunya tempat kita untuk bergantung? Jawaban pada diri kita masing-masing.

Membaca kalimat pembuka diatas, aku mulai merenung. Apakah selama ini aku sudah mengadukan semua kesusahan dan kesedihanku padaNya? Setelah aku pikir-pikir, sepertinya aku lebih banyak berkutat di social media. Ya Allah ampuni aku. Aku bertekad untuk mengurangi keluh kesahku di social media. Aku akan berusaha untuk tidak selalu berkeluh kesah di sosial media. Walaupun aku belum bisa meninggalkan social media sepenuhnya, tapi aku akan berusaha untuk tidak mengadu padanya. Social media tetap bisa dijadikan tempat berbagi, yaitu berbagi ilmu, pengalaman, info-info penting, nasihat, dll. Jangan jadikan social media tempat untuk berkeluh kesah, meratapi hidup, mengungkapkan kesedihan dan kesusahan.

Ada seorang teman yang berkata padaku bahwa aku tidak pernah kelihatan sedih, selalu cerah dan bahagia. Koq bisa sih? Aku jawab saja, karena aku berprinsip biarlah Allah saja yang tau kesusahan dan kesedihanku, orang lain tidak perlu tau. Aku selalu berpegang pada kalimat itu. Makanya aku berusaha untuk mengurangi menuliskan kesusahan yang aku alami. Bukan hanya di social media, di dunia nyata aku juga jarang sekali menceritakan kesusahan yang aku alami pada teman-temanku. Ehm….memang tidak semua orang bisa seperti itu, karena karakter orang berbeda-beda. Memang karakterku tidak suka menceritakan masalah-masalah yang menimpaku. Tapi ada juga orang lain yang tidak bisa memendam apa yang ada dipikirannya, masalahnya, kesulitannya, dia pasti akan menceritakannya pada orang yang dia anggap dekat.

Aku tidak melarang untuk menceritakan masalah kita kepada orang lain. Ada baiknya kita menceritakan masalah yang sedang kita hadapi dengan harapan kita mendapatkan solusi dari orang lain.  Tapi satu hal yang perlu diingat hanya Allah lah Sang Maha Pemberi Solusi. Jadi jangan sampai Allah menjadi yang kedua yang engkau datangi setelah temanmu ataupun social media.

Yah, ini juga menjadi catatan untuk diriku sendiri. Semoga aku bisa tetap menjadikan Allah yang pertama tempatku berkeluh kesah sebelum yang lain-lainnya.

Yuk mulai kurangi berkeluh kesah di social media! Kembali pada Allah, curhat pada Allah.

2 comments:

  1. Jangan sampai apa yg kita tuliskan di sosmed jadi pembuka aib. Jadi hati2 ya :)

    ReplyDelete

Kumpulan Cerita Menghibur dan Sarat Makna dari Penulis Cilik

  Judul: Papa Idamanku Penulis: Farah Hasanah K. Dinda Rahmadhani, dkk. Penerbit: Indiva Media Kreasi Tebal: 143 halaman Harga: Rp...