Thursday, 1 September 2016

BAHASA, AGAMA DAN PUISI




Judul buku : Embun di atas Daun Maple
Penulis       : Hadis Mevlana
Penerbit     : Tinta Medina, 2014
Halaman    : 286 halaman

Saya termasuk orang yang jarang membaca novel atau hasil karya fiksi lainnya. Entah mengapa setiap kali berkunjung ke toko buku, saya selalu tersangkut di rak bagian buku-buku non fiksi hingga akhirnya memutuskan membeli beberapa darinya. buku-buku tersebut bisa berupa buku motivasi pengembangan diri, buku teori menulis, agama, motivasi bisnis, traveling, dll.

Namun beberapa waktu lalu saya merasa ingin sekali membaca sebuah karya fiksi berupa novel. Akhirnya saya hubungi seorang teman yang hobi membaca novel agar meminjamkan novelnya kepada saya. Kami sepakat akan saling meminjamkan buku pada pertemuan nanti. Belum lagi kami bertemu, saya mendapat kabar dari kakak bahwa ada paket yang datang untuk saya. langsung saja saya membuka paket itu dan betapa bahagianya mendapat sebuah novel plus tanda tangan penulis di halaman depan.


Allah mengabulkan keinginan saya untuk membaca novel dengan mendatangkan sebuah novel ber-cover putih bertaburan daun Maple merah, kuning dan hijau. Embun di atas Daun Maple judul novel itu. Dari judulnya saya menebak pasti seting lokasinya di luar negeri. Dan benar saja novel ini berseting di Kanada yang terkenal dengan daun Maple-nya. Novel 286 halaman ini ditulis oleh Hadis Mevlana, seorang Sarjana Ekonomi Islam. 

Bertolak belakang dengan background pendidikan penulis, novel ini justru menceritakan tentang perbandingan agama. Perbandingan agama antara Islam dan Kristen Orthodox diceritakan dengan begitu ringan dan seru. Meskipun memiliki tema yang lumayan berat, ceritanya sangat asyik untuk dinikmati. Keseruan diskusi-diskusi yang dilakukan oleh Kiara, Sofyan, Felix, Fritz, Olivia, Zahra dan Eva membuat saya betah membacanya. Tidak hanya sekadar membaca sebuah cerita, tapi saya mendapatkan sebuah pengetahuan baru, terutama tentang agama Islam dan isi Al-qur’an.

Membaca novel ini kita akan mendapatkan tiga poin penting yang mendominasi dalam setiap ceritanya. Apa saja tiga poin tersebut?

Bahasa

Dari pengamatan saya yang pernah membaca beberapa novel dengan setting luar negeri, pasti akan kita temukan bahasa asing yang berasal dari negeri di mana seting lokasi diambil. Penulis novel Embun di atas Daun Maple mengambil lokasi di Kanada, yang mana negara tersebut memiliki dua bahasa resmi, yaitu Inggris dan Perancis. Sudah pasti dalam dialog-dialognya penulis akan menyelipkan bahasa-bahasa asing tersebut. Hal ini sangat baik untuk menambah wawasan kebahasaan pembaca. Setidaknya kita mengenal sedikit bahasa-bahasa yang ada di dunia. 

Akan tetapi satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh penulis maupun calon penulis jika ingin menggunakan bahasa asing dalam novelnya adalah tata bahasa. Pastikan tata bahasa yang digunakan tepat sesuai dengan bahasa aslinya, karena bahasa merupakan aspek yang cukup krusial dalam dunia kepenulisan. Hal ini berlaku untuk bahasa apa pun, baik bahasa asing maupun bahasa daerah. 

Selain Kanada, penulis juga memilih seting lokasi di wilayah Indonesia, yakni Teluk Kuantan, Riau. Bahasa daerah Teluk Kuantan digunakan Sofyan, tokoh utama novel ini, untuk berkomunikasi dengan Omak (ibu) dan Aini (adiknya) yang berada di kampung halamannya.

Secara tidak langsung novel ini kaya akan bahasa.

Agama

Seperti yang tuliskan di atas, tema novel ini adalah tentang perbandingan agama Islam dan Kristen Orthodox. Meski begitu, penulis menyampaikan pandangannya dengan begitu halus tanpa saling menyudutkan agama apa pun. Perbandingan agama didapat dari diskusi-diskusi yang dilakukan tokoh-tokohnya. Kiara (Kristen Orthodox) diceritakan begitu haus akan penjelasan-penjelasan tentang ajaran Islam dari Sofyan. Pertanyaan-pertanyaan Kiara terkesan unik, sederhana sekaligus rumit, sebab saya pun tak sampai memikirkan hal-hal yang ditanyakan Kiara, apalagi bisa menjawabnya.

Selain mengutip ayat-ayat Al-qur’an, penulis juga menyertakan bait-bait Alkitab. Penulis juga tidak lupa menyelipkan pesan tentang pentingnya shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki, hukum waris dalam Islam mengapa laki-laki mendapatkan bagian lebih banyak dari kaum wanita, keistimewaan wanita ketika datang masa menstruasi, tentang sejarah Nabi Ibrahim, dsb. 

Bagi sebagian orang yang tidak tertarik membaca buku-buku agama karena menganggap buku agama merupakan buku dengan tema yang berat, novel Embun di atas Daun Maple ini bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan ilmu tentang Islam yang dibalut dalam sebuah cerita.

Puisi
 
Salah satu jenis karya sastra yang sering dimunculkan dalam novel ini adalah puisi. Saya tebak penulisnya adalah penikmat puisi, bahkan bukan hanya penikmat tapi juga penyair yang lihai merangkai kata-kata indah menjadi untaian puisi.

Pembaca akan menemukan puisi yang bertaburan di hampir setiap bab-babnya. Puisi-puisinya begitu menyentuh, romantis, sesekali mengharukan. Saya rasa penulisnya berhasil membuat pembaca menikmati dan mengagumi puisi-puisinya, sama halnya Kiara yang mengagumi puisi-puisi Sofyan.  

Baiklah, saya kutipkan salah satu puisi yang manis menurut saya, puisi tentang iman.


Iman bukan sekadar pernyataan cinta sebatas lidah bersyahadat

Ia meminta hati luruh dalam taat penuh syahdu

Ia menagih kesungguhan gerak tubuh tanpa mengeluh

Ia membutuhkan ilmu sehingga tiap detik laksana pengantin yang merasakan madu


Setidaknya tiga poin di atas yang bisa saya simpulkan dari novel yang mendapatkan nominasi Buku Islam Terbaik kategori Fiksi Dewasa dalam Islamic Book Award 2016 ini. Selain membahas mengenai perbandingan agama, di buku ini juga terdapat kisah cinta yang unik yang jalan ceritanya tak terduga. Diceritakan Sofyan sering menerima buket bungan mawar putih di depan apartemennya, tapi ia tak tahu siapa yang mengirim buket bunga itu. Pengirimnya sengaja dibuat misterius, membiarkan pembaca menebak sendiri siapa pelakunya. Baiklah silakan baca sendiri novelnya untuk mengetahui kisah lengkapnya.
  

No comments:

Post a Comment

The Best Place To Escape

Sebelumnya saya sudah pernah datang ke tempat ini dulu semasa kuliah bersama teman-teman. Tapi dulu tidak sampai masuk ke da...