Tuesday, 18 October 2016

PUISI KAYA HIKMAH





Salah satu bentuk karya sastra adalah puisi. Saya suka membacanya meskipun sulit memahami makna yang terkandung di dalam sebuah puisi. Kali ini buku kumpulan puisi yang berhasil saya tuntaskan adalah buku karya salah satu penulis senior FLP, M Irfan Hidayatullah, dengan judul “Ada Titik Menari Samar Sekali”.
Membaca puisi-puisi dalam buku ini saya menemukan banyak sekali diksi baru yang asing bagi saya. Keluasan wawasan penulis dalam dunia literasi terlihat dari tulisannya yang kaya diksi. Memang, diperlukan keindahan kata dan kelihaian mengolahnya hingga menjadi sebuah puisi yang patut dilirik oleh penikmat sastra.
Tema dalam kumpulan puisi ini beragam. Ada yang bertemakan penulis, buku, dzikir, social media, alam, hingga makanan pun tak luput dari goresan pena sang penulis. Simaklah puisi berikut ini:

Takada Puisi pada Perjalanan Kali Ini
Katakata yang sembunyi pada ruang tanya tak kunjung menampakkan diri.
Aku duduk di warung itumenghadapi nasi campur dan segelas kopi.
Asap pada cangkir mengepulkan hening.
Komposisi laukpauk pada piring seperti diatur untuk mencemburuiku.
Telor ceplok di atas nasi, rendang sapi di sisi kiri, tempe kering dan serundeng di sisi kanan, kentang balado tepat di hadapanku bersebrangan dengan seiris tomat yang menindih seiris timun.
Mereka semua begitu indah. Mataku melahapnya.

Takada puisi pada perjalanan kali ini
Tertutupi rasa iri pada segala tatanan yang kualami.
Ya, Tuhan nikmat mana lagi yang akan kudustakan?

(Di tempat tujuan, istriku mungkin akan menyambut dengan senyuman)
2016

Di beberapa puisinya terkandung makna yang membawa kita pada penghambaan pada Ilahi, mengingatkan agar dzikir selalu menghiasi hati. Seperti pada puisi yang ini:

Jangan Kauhentikan Zikir Itu
Bisakah kau uraikan makna siang
Saat kumencaci terik matahari?
Berdiriku di ini waktu mengundang jentikjentik hasrat yang (seakan)
Takmampu kutolak kuelak.

Bisakah kusemaikan kesadaran
pada ladang kerontang kemanusiaan?
Berbaringku di ini fana takmembuat
Bongkah kesombongan rencah dan sirna…
Aku tersedot pusaran kelengahan jiwa pada arus hirukpikuk gelombang
Tubuh dunia.

(Jangan sekalikali kauhentikan zikir itu
Lirih suaramu adalah angin yang menghibur gerah itu)

2015-2016

            Membaca puisi-puisi Bang Irfan dan penulis-penulis lain yang membawa nilai-nilai Islam dalam tulisannya, saya jadi bisa membedakan antara puisi yang bernapaskan Islam dengan puisi yang hanya mengumbar syahwat duniawi. Puisi yang bernapaskan Islam tidak hanya membawa kita pada keluasan wawasan sastra, tapi juga membuat kita merenung dan menyadari bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah satu, yaitu kehidupan bahagia di akhirat kelak.
        Maka menurut saya buku ini sangat coock untuk kita yang ingin mempelajari karya sastra dalam bentuk puisi, sekaligus mendapatkan secercah hikmah dalam menjalani hidup ini.

No comments:

Post a Comment

The Best Place To Escape

Sebelumnya saya sudah pernah datang ke tempat ini dulu semasa kuliah bersama teman-teman. Tapi dulu tidak sampai masuk ke da...