Monday, 20 March 2017

MISTERIUSNYA PARIS TETAP ROMANTIS




Judul                   : Paris Aline
Penulis                 : Prisca Primasari
Penerbit                : Gagas Media, 2012
Tebal                    : 212 halaman

Kesan pertama baca novel ini, lucu. Bukan, ini bukan novel komedi. Tapi sejak bab awal, tengah hingga akhir, penulis berhasil membuat pembaca tertawa- meski tidak sampai terbahak. Narasi segar diselipi humor, dialog renyah serta frase jenaka menjadi bumbu sedap dalam novel Prisca yang -sekali lagi- misterius sekaligus romantis.

Penulis yang sangat piawai dalam memilih setting lokasi di luar negeri, kali ini memilih Paris sebagai latar lokasi sekaligus judul novelnya. Aline si tokoh utama adalah seorang mahasiswi Universitas Sorbonne yang juga bekerja di restoran Bistro Lombok, sebuah restoran Indonesia di Paris. Aline adalah pencinta anime dan cuku mahir menggambar karakter anime. 


Konflik dimulai saat Aline merasa muak melihat laki-laki yang ia sukai yang dipanggil dengan sebutan ubur-ubur, menyatakan cinta pada waniita lain. Padahal mereka merupakan partner kerja Aline di restoran yang sama. Melihat kondisi yang sangat tidak nyaman di tempat kerjanya, Aline memutuskan untuk cuti selama tujuh hari untuk menangkan diri dan menerima kenyataan bahwa ubur-ubur telah menjadi milik wanita lain. Dalam masa cutinya, Aline justru  mendapatkan kejutan-kejutan yang pada akhirnya membawa ia bertemu dengan jodohnya.

Sena yang terkesan misterius tiba-tiba hadir dalam kehidupan Aline. Pecahan porselen mahal mempertemukan mereka di sebuah tempat dengan suasana magis nan menakutkan bagi Aline, yaitu di Place de la Bastille pukul 12 malam. Aline tak bisa menolak pertemuan itu. Dengan rasa takut dan was-was, Aline terpaksa memenuhi keinginan pemuda misterius itu.

Porselen tersebut sangat berharga bagi Sena. Maka dia bermaksud untuk membalas kebaikan Aline dengan memberikan kesempatan padanya untuk mengajukan tiga buah permintaan, dan Sena akan berusaha memenuhi permintaan Aline apa pun itu. Aline pun telah mengajukan dua permintaan yang sesungguhnya tidak benar-benar terpenuhi. Namun, permintaan ke tigalah yang akhirnya terwujud di akhir cerita yang indah tapi tetap jenaka.

Di balik anggapan Aline yang menilai dirinya sendiri sebagai orang yang tidak percaya diri, tidak pintar, dan tidak berbakat, ada seseorang yang justru merasakan kehadiran Aline memberi warna dalam hidupnya. Dialah Kak Ezra, tetangga satu flat dengan Aline yang berkuliah di kampus yang sama. Aline tidak menyadari perasaan Kak Ezra yang mengaguminya, Aline justru terlanjur menaruh hati pada Sena, laki-laki misterius yang baru saja ia kenal.

Novel renyah, lucu nan misterius ini cukup ampuh menjadi teman seperjalanan. Jumlah halaman yang tidak terlalu tebal, mampu saya selesaikan dalam satu hari saja. Novel ini menjadi salah satu judul yang harus saya baca dalam program #bacabukuprisca. 

Setiap membaca novel, saya berusaha mengambil pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Setidaknya beberapa pesan yang bisa saya ambil dari novel ini adalah:


   Jangan terlalu fokus pada kekurangan pada diri, karena  manusia diciptakan sepaket dengan kekurangan dan kelebihan. Walaupun kita menilai diri ini banyak kekurangannya, belum tentu orang lain melihat hal itu sebagai kekurangan. Seperti Aline yang menilai dirinya banyak kekurangan, ternyata orang-orang di sekitarnya justru melihat banyak kelebihan yang tidak ia sadari.



     Hubungan keluarga,  adik dan kakak yang diceritakan antara Sena dan kakak peremuannya. Mereka tinggal berjauhan dan cukup lama tak saling bertemu. Hal itu tidak membuat hubungan mereka renggang, malah semakin erat hubungan kasih sayang antara kakak beradik itu. Hal ini mengingatkan saya sendiri yang tinggal berjauhan dari saudara.



    Bekerjalah dengan sepenuh hati dan ikhlas. Jangan hanya semangat dan sungguh-sungguh menuntaskan pekerjaan jika ada atasan atau bos saja. Sedangkan jika bos tak ada, kita serasa bebas melakukan pekerjaan dengan tidak bertanggungjawab. Bagian ini terlihat pada teman-teman sekerja Aline di restoran Bistro Lombok yang tidak maksimal dalam melayani pelanggan, terutama pada soal rasa masakan.

 

    Terakhir, dari novel ini saya mengenal yang namanya vinyet. Menurut KBBI V, vi.nyet /vinyet/ : goresan atau potret kecil pada bidang tepi sekeliling halaman buku. Sedangkan penulis menjelaskan, vinyet adalah sejenis fiksi mini yang kebanyakan hanya berupa fragmen (hlm. 60). Sejujurnya saya belum paham bagaimana bentuk tulisan vinyet. Heeem, sepertinya saya harus mencari tahu hal itu ;)


Akhirnya saya pun memberikan rate lima bintang untuk novel ini di Goodreads. Setelah saya perhatikan, ternyata banyak terstimoni yang juga memberikan lima bintang. Yah, novel ini pantas mendapatkannya. Cerita menarik, plot yang asyik, setting yang memukau dan tokoh-tokoh yang pas di setiap karakternya.
 


No comments:

Post a Comment

The Best Place To Escape

Sebelumnya saya sudah pernah datang ke tempat ini dulu semasa kuliah bersama teman-teman. Tapi dulu tidak sampai masuk ke da...