Monday, 30 March 2015

Yuk Dakwah Lewat Tulisan!

Pelatihan menulis dari Forum Lingkar Pena pada pertemuan pertama ini membahas tentang "Wawasan Islam", yang disampaikan oleh Ahmad Lamuna dari Divisi Rohis FLP Jakarta. Saya mencoba untuk sedikit berbagi atau menyampaikan kembali apa yang saya dapatkan dari materi yang disampaikan. Semoga barakah dan manfaat. Aamiin.
 
Materi dibuka dengan pertanyaan yang diajukan kepada para peserta, “Apa itu Islam?”

Sebagai umat Islam pastinya kita memiliki definisi masing-masing tentang Islam. Begitu pertanyaan itu muncul, mungkin sebagian dari kita bingung untuk mendefinisikan Islam. Kita tahu dan paham mengenai hal itu, tapi terkadang sulit untuk mengungkapkannya dalam kata-kata. Kita (khususnya saya) membutuhkan waktu untuk berfikir sejenak dan merangkai kata-kata yang pas dalam mendifinisikan kata “Islam” itu sendiri.

Menurut Ahmad Lamuna, Islam itu agama yang sempurna dan universal. Sejalan dengan pendapat beliau, Islam menurut saya adalah selain sempurna yang memang telah Allah sampaikan kepada Nabi Kita Muhammad SAW dalam wahyu-Nya, QS: Al-Maidah (3) yang berbunyi pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu untukmu, Islam juga agama yang menyeluruh. Islam mengatur seluruh permasalahan dalam hidup kita, mulai dari politik, ekonomi, social, lingkungan hidup, dll. 

Dalam pengertian secara umum Islam adalah Rahmatan lil’aalamiin, yang bermakna kasih sayang Allah kepada seluruh alam yang meliputi manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan hidup.

Setelah berislam ada tanggung jawab yang harus kita tunaikan yaitu dakwah. Apa itu dakwah?

Dakwah adalah aktifitas mengajak manusia kepada Allah yang dilakukan melalui hikmah dan nasihat yang baik. Atau amar ma’ruf nahi munkar, mengajak pada kebaikan dan menjauhi keburukan.

Dakwah bukan hanya tugas seorang ustadz, guru, ulama, atau kiai saja, tapi itu merupakan tugas kita semua yang mengaku beragama Islam. Meskipun kita tidak memiliki predikat sebagai seorang pengemban dakwah seperti ulama atau kiai, kita wajib untuk berdakwah. Sampaikanlah walau satu ayat. Sampaikan apa yang kita tau tentang Islam walaupun seayat saja.

Misalnya kita tau shalat lima waktu itu wajib hukumnya, menutup aurat wajib bagi muslimah, maka sampaikanlah itu kepada siapa saja yang kita kenal. Bagaimana cara menyampaikannya? Salah satunya adalah dengan menulis.

Gunakan kemampuan kita menulis untuk berdakwah. Dakwah melalui tulisan lebih efektif karena tulisan kita dapat dibaca oleh semua orang dimanapun berada. Dan bila jatah hidup kita telah habis di dunia, tulisan kita akan tetap hidup selamanya.

Sebagai seorang penulis kita harus mempunyai visi. Visi seorang penulis adalah untuk memperbaiki masyarakat. Seperti yang kita semua tahu kemunkaran banyak terjadi dimana-mana, perbuatan maksiat dan dosa yang seolah sudah menjadi hal biasa di kalangan masyarakat kita sudah begitu mengkhawatirkan. Inilah saatnya kita mewujudkan visi kita untuk memperbaiki lingkungan masyarakat kita dengan menulis. 

Jangan sampai kita mempersholeh diri kita sendiri dan cuek atau masa bodoh dengan orang lain. Karena sejatinya bila kita ingin menjadi orang yang sholeh dan mendapatkan rahmat-Nya berupa Surga, kita harus mengajak orang lain untuk juga menjadi sholeh seperti kita dan meraih Surga-Nya bersama-sama. 

Ketahuilah bahwa siksa dan azab Allah tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim, tapi juga menimpa orang-orang yang beriman. Seperti yang telah Allah tuliskan dalam surat Al-anfal:25 yang berbunyi dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaannya. Maka marilah menyeru kebenaran, menyeru kebaikan, menyeru ke jalan Allah sebelum Allah menimpakan azabnya pada kita.

Mengapa kita wajib berdakwah?

Pertama, sudah jelas sekali Allah menurunkan wahyu yaitu Al-qur’an untuk kita pelajari, pahami dan amalkan, dan juga berbagai hadist Nabi SAW yang menjadi rujukan kita untuk berdakwah. Kedua, hikmah dari ulama Imam Syafi’I yang mengatakan bahwa “Ilmu adalah binatang buruan, sedangkan menulis adalah pengikatnya. Maka ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Dan yang terakhir adalah melihat kondisi masyarakat yang semakin menurun dari segi aqidah, pendidikan, akhlaq dan wawasannya tentang Islam, di situlah kita wajib berdakwah.

Untuk berdakwah kita membutuhkan bekal. Bagaimana kita akan menyampaikan dan mendakwahkan Islam kalau diri kita sendiri tidak yakin tentangnya? Bagaimana orang lain akan melaksanakan sholat jika sholat kita masih bolong-bolong. Bagaiman orang akan menutup aurat dengan sempurna, jika kita sendiri belum merasakan nyamannya memakai jilbab.

Ahmad Lamuna mengatakan bahwa dakwah itu ibarat MLM. Sebagai penggiat MLM, kita harus merasakan atau memakai dulu produk yang kita jual, setelah itu kita dapat mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama. Masih terkait system MLM, semakin banyak orang yang kita ajak untuk memakai produk kita, semakin banyak pula bonus-bonus yang akan kita dapatkan.

Sama halnya dengan berdakwah. Semakin sering kita mengajak orang pada kebaikan, lalu orang itu melaksanakan kebaikan itu, maka pahala kebaikan kita pun semakin mengalir. Begitupun sebaliknya, jika mengajak orang pada keburukan dan orang itu melaksanakannya, bukan pahala yang didapat melainkan dosa yang terus mengalir.

Lalu apa bekal kita untuk berdakwah? Iman, ilmu, amal dan akhlaq.

Kita beriman meyakini Islam dengan sebaik-baiknya, menambah wawasan dengan ilmu agama, mengamalkan ilmu yang telah didapat ke dalam kehidupan sehari-hari dan akhirnya menghasilkan akhlaq yang baik di dalam lingkungan masyarakat kita. Itulah bekal yang harus kita miliki. 

Terakhir dari Ahmad Lamuna “Jalan CINTA para penulis”

C: Cukuplah Allah sebagai tujuan. Niat kita untuk menulis apa? Ingat! Amal itu tergantung niatnya. Niatkan semua hanya karena Allah semata.

I: Inspirasi datang. Jangan dibuang! Di mana dan kapan saja inspirasi menghampirimu, jangan sia-siakan. Ikatlah inspirasi dengan menuliskannya di ponsel, tablet, ipad atau buku catatan.

N: Nulis, nulis, nulis. Jangan tunda-tunda lagi! Segeralah menulis. Jika kau masih bingung apa yang harus ditulis. Maka tulis saja “Saya bingung harus menulis apa” dan biarkan kata demi kata yang ada dalam pikiranmu mengalir.

T: Teruslah berlatih tanpa mengenal letih. Kamu tidak akan bisa menjadi penulis tanpa latihan. Latihan itu butuh proses yang panjang, maka sabarlah menjalaninya.

A: Abadikan karya pada tempatnya. Satu tulisan yang telah kau selesaikan, segera abadikan dengan mempublikasikannya ke dalam blog pribadi, Koran, majalah, media online atau buku.

Demikian sharing yang dapat sampaikan untuk teman-teman semua. Semoga apa yang saya tulis ini dapat sedikit mencerahkan pikiran kita untuk selalu semangat berdakwah melalui tulisan.

Happy reading. Happy writing ^^

3 comments:

  1. terima kasih sdh berbagi, nia. sangat membantu mreka yg gak dpt materi. keep sharing, ya.

    ReplyDelete
  2. syukron nia... karena saya tidak hadir jadi tulisan ini sangat membantu.. Barakallah mba =)

    ReplyDelete
  3. Terima kasih Afilin dan mba Nenshi. Mari saling berbagi.

    Happy writing ^^

    ReplyDelete

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...