Tuesday, 26 May 2015

Udah Sharing Aja!



“Hey, kalian gak salah? Itu beneran aku yang menang? Coba dicek lagi deh, jangan-jangan salah nyebut nama?” Jerit hatiku tidak menyangka suatu lomba menulis cerpen menyebut namaku sebagai pemenangnya.

Aku bertanya-tanya dalam hati, kok bisa menang ya? Padahal menurutku, tulisan yang aku kirim itu biasa saja, tidak ada yang unik apalagi istimewa. Aku yakin sekali tulisan teman-teman pasti lebih bagus. Karena memang aku sering membaca tulisan-tulisan mereka di blog masing-masing, dan memang bagus menurutku. Malah aku berpikir, kapan ya bisa membuat tulisan bagus seperti itu?

Itulah rencana Allah, takdir yang sudah ditulis olehNya tak ada yang bisa mengelak. Kalau Allah bilang menang ya menang, kalau Allah bilang kalah, masa kita mau nangis-nangis guling-gulingan di lantai, hehe.


Sesuatu yang kita harapkan untuk menang tenyata gak menang, eh yang gak diharapkan malah menang. Itulah guys, Allah yang punya kuasa. Dia yang Maha Tau apa yang terbaik untuk hambaNya. Pak Arya Noor, ketua FLP Jakarta bilang, “Tulisan kita itu relatif. Kadang kita bilang jelek, malah dimuat di media atau menang lomba. Kadang kita bilang bagus malah gak dimuat.” Kata-kata Pak Arya itu sedang terjadi padaku sekarang. :)

Jadi kesimpulannya adalah jangan meremehkan kemampuan diri sendiri, karena sesuatu yang menurut kita biasa saja atau tak bernilai, buat orang lain belum tentu seperti itu. Tapi juga jangan berbangga hati, jangan kepedean, ada Allah yang menentukan apa saja yang akan terjadi pada kita. Ah, itu mah #NoteToMyself banget :D

Guys, I’ll tell you something. 

Kalau mau jadi penulis, ikutilah lomba menulis sebanyak-banyaknya sesuai kemampuan kita. Menurutku lomba menulis itu adalah wadah kita untuk uji nyali alias uji kemampuan menulis. Kalau menang, itu adalah bukti eksistensi kita di dunia menulis. setidaknya pengakuan kepada diri sendiri ternyata kita bisa. Tentunya tidak lantas berbangga diri dan besar hati. Karena masih ada ujian-ujian lain selain memenangkan lomba tersebut. Tapi kalau kalah, jangan lantas kita jadi down mengutuk diri sendiri dengan statement yang melemahkan seperti, “Ternyata aku memang tidak bisa menulis”, “Tulisanku jelek, makanya gak menang”, “Duuh,,emang gak bakat nulis nih. Males ah”, dan kalimat-kalimat negatif lainnya.

You know what?

Kata-kata negatif itu akan terekam di otak kita dan secara tidak sadar kita akan mengiyakan atau menyetujui kalau kita memang tidak bisa. Bukan hanya dalam hal menulis, apapun itu jika yang ada dipikiran kita sesuatu yang negatif, mestakung alias semesta mendukung. Artinya semesta atau lingkungan sekitar kita akan mendukung pikiran negatif tersebut dan akhirnya akan membentuk kita sesuai dengan apa yang dipikirkan. Sebaliknya, kalau yang ada dalam pikiran kita adalah sesuatu yang positif, optimis dan semangat, semesta juga akan menggiring kita menuju hal-hal positif tersebut. Percaya gak? Percaya aja deh ya,,,soalnya kata para motivator-motivator sih begitu, hehe.

Eits, jangan salah. Motivator atau trainer yang ngomong begitu, itu karena mereka yakin dan percaya bahwa Allah itu sesuai dengan prasangka hambaNya. Allah akan menuntun kita menuju ke arah yang baik sesuai apa yang kita pikirkan. Sebaliknya, jika kita berprasangka buruk, secara tidak sadar kita akan menuju ke arah itu.

Jadi, ubahlah mindset kita yang selama ini kurang baik menjadi lebih lebih oke. Siaaapp?? Haha…udah kayak motivator aja gue. Sebenernya itu buat penyemangat diri sendiri sih. Karena aku memang butuh semangat dan motivasi. Berhubung gak ada yang nyemangatin, yowis lah semangatin diri sendiri aja, hiks.

Kalau ada lomba-lomba nulis gitu biasanya kita tergiur oleh reward yang akan diberikan, iya kan? Ngaku deh! Soalnya aku juga gitu #eh…Apalagi kalau reward-nya adalah sejumlah uang yang lumayan besar. Wah, gak bakal nolak deh untuk ikutan. Gak salah memang kalau kita mengharapkan hadiah-hadiah itu, tapi satu hal, jangan jadikan itu sebuah tujuan utama. Seperti yang udah ditulis di atas, jadikan ajang lomba ini sebagai wadah uji nyali, uji kemampuan menulis. hadia-hadiah yang ada itu hanyalah efek samping dari usaha-usaha yang telah kita lakukan. 

Yang paling penting nih, menulislah sesuatu yang bermanfaat. Bermanfaat buat kita dan juga buat orang lain yang membacanya. Seorang penulis senior yang tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam mengolah kata, Pipit Senja, mengatakan, 

“Menulislah yang baik dan benar serta mencerahkan. Kelak kita akan diminta pertanggungjawaban setiap tulisan kita.” 

Wuiih,,,serem juga ya guys, bayangin aja cuma gara-gara tulisan, kita harus bertanggung jawab. Iya kalau tulisan kita baik, pastinya kita tidak akan mengelak dari tanggung jawab. Lah, kalau tulisan kita menyesatkan, apa sanggup kita mempertanggungjawabkan semua di hadapanNya? Iiihh, gak kebayang. Cuma karena tulisan, urusannya Surga Neraka bro. Think about it!

Hey, jangan ciut gitu! Masa gara-gara dibilang Surga Neraka jadi gak mau nulis lagi? Yuk, cek ulang niat kita, re-install motivasi kita. Apakah selama ini tulisan kita sudah baik dan jujur? Atau malah masih sering menulis hal yang sia-sia? Belum terlambat kok untuk mengubah itu semua. Jangan nunggu entar, besok, minggu depan, bulan depan. Tapi sekaraaaaanngg!! #oops maaf khilaf :D

Jangan kira yang nulis ini sudah baik ya guys, tapi memang butuh memotivasi diri sendiri sekaligus berbagi dan memotivasi teman-teman semua, boleh kan? Hehe. Now, I’ll tell you my secret. Sebenernya ya, aku tuh masih banyaaaaakk banget kekurangan dalam hal menulis. Ilmu yang kupunya masih cetek banget, gak ada apa-apanya deh dibanding kalian. Menang lomba sampai jadi sebuah buku itu semata-mata karena Maha Pemurahnya Allah. Allah udah baik banget ngasih kesempatan sama aku sampai punya buku antologi. So, nikmat yang mana lagi yang kamu dustakan?

Happy writing. Happy reading. Keep on learning. ^^






No comments:

Post a Comment

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu

Judul                : Sunnah Sedirham Surga Penulis              : Salim A. Fillah Penerbit            : Pro-U Media Terbit ...