Friday, 22 May 2015

Tiban Yang Penuh Keajaiban



Foto: Google
Malang. Ada apa dengan Malang? Bukan, ia bukanlah sesuatu yang membawa kesengsaraan, melainkan menawarkan kenikmatan yang dicari oleh para traveler. Mengapa kota ini yang ada dalam benak saya untuk dikunjungi? Mungkin karena mendengar cerita dari adik saya yang dulu berkuliah di Malang, dan melihat foto-fotonya yang sangat menarik di tempat-tempat wisata yang ada di sana. Saya jadi iri dan ingin sekali berada di sana. Tapi sampai saat ini saya belum pernah ada kesempatan untuk mengeksplorasi kota tersebut.

Pernah satu waktu saya berkunjung ke kota ini, namun hanya kunjungan singkat beberapa jam saja. Meskipun hanya beberapa jam, saya dapat merasakan bahwa kota ini memang layak menjadi top list bagi para pelancong. Kesan pertama saya waktu itu adalah nyaman. Ya, menurut saya Malang adalah kota yang nyaman. Udara yang sejuk dan lingkungan yang bersih menjadi penilaian utama pada waktu itu.


Pengalaman pertama naik angkutan umum di kota yang terkenal dengan buah apel hijau ini, sangat terasa nikmatnya. Bagaimana tidak? Udara yang sejuk dan angin yang berhembus melalui jendela tidak membuat saya berpeluh. Pun dengan tata kota yang apik dan enak dipandang, pohon-pohon yang cukup rindang serta berbagai bunga yang dapat dinikmati selama perjalanan, membuat saya tidak kuasa untuk berpaling dari jendela mobil.

Baru beberapa jam saja saya sudah jatuh cinta dengan kota ini. Bagaimana jika saya mengeksplorasinya sedikit lebih lama? Sepertinya akan sulit dan berat untuk meninggalkannya. Saya bertekad akan singgah lagi lebih lama di kota dengan ciri khas oleh-olehnya yakni keripik buah. Belum ke Malang namanya jika tidak membawa oleh-oleh yang satu ini. Bermacam jenis buah yang diolah menjadi keripik, ada keripik mangga, salak, apel, nangka, dan masih banyak lagi, menjadi buah tangan wajib yang harus dibawa pulang.

Ada satu tempat yang mengusik rasa penasaran dan ingin sekali saya kunjungi. Salah satu wisata religi yang ada di kota ini yaitu masjid Tiban, yang terletak di Kecamatan Turen, Malang, Jawa Timur. Menurut desus yang tersebar di masyarakat, ada keajaiban yang terdapat pada masjid ini, konon masyarakat sekitar tidak ada yang mengetahui proses pembangunan masjid ini, tiba-tiba sudah berdiri. Masyarakat mempercayai bahwa masjid ini dibangun oleh kekuatan ghaib.

Desas-desus itu dibantah oleh orang yang mengelola masjid ini yang sebenarnya adalah sebuah bangunan pondok pesantren. Pihak pesantren meluruskan anggapan masyarakat yang sama sekali tidak benar itu. Mereka menjelaskan bahwa masjid ini dibangun sendiri oleh para santri dan beberapa warga sekitar. Tapi tetap saja, mitos tentang masjid dengan desain khas campuran Cina, India dan Timur Tengah ini masih populer di masyarakat.

Selain desainnya yang sangat menarik dan artistik, keunikan lain masjid ini adalah bangunannya yang terdiri dari sepuluh lantai. Sepuluh lantai tersebut terdiri dari, ruang pesantren, masjid, kantin dan disediakan juga ruang untuk para pedagang yang menjajakan berbagai sovenir khas. Masjid ini dilengkapi oleh tangga dan lift. Jika kita lelah berkeliling masjid yang penuh dengan berbagai ornament dan kaligrafinya yang indah di setiap lantai, disediakan tempat-tempat duduk yang terbuat dari kayu jati yang dapat digunakan pengunjung untuk rehat sejenak.

Meski pengunjung membutuhkan ekstra tenaga untuk menjelajahi kesepuluh lantai masjid ajaib ini, mereka tetap kuat dan penuh semangat demi menyaksikan keunikan dan keindahannya. Kelelahan akan terbayar dengan kekaguman yang ditampilkan oleh suasana masjid di setiap lantainya. Lingkungan masjid yang berada di perkampungan membuat hawa sejuk semakin terasa, sehingga rasa lelah pun tak ada artinya.

Masjid menjadi tujuan utama jika saya melakukan traveling kemana saja. Saya akan mencari masjid sekitar yang terkenal atau masjid agung yang ada di kota tersebut. Maka dari itu masjid Tiban ini tidak akan saya lewatkan jika nanti tiba saatnya saya datang lagi ke kota Malang. Saya rasa menjelajahi masjid sepuluh lantai ini sangat menantang dan membuat saya semakin excited.

Saya harus membuktikan sendiri kebenaran dari cerita adik saya tentang masjid ini. melihat foto-fotonya, mambuat saya semakin tidak sabar untuk segera ke sana. Tentunya saya tidak akan melewatkan keunikan di setiap lantainya. Mungkin saya akan merasa lelah untuk menelusuri masjid itu, tapi saya tidak akan tahu jika tidak mengalaminya langsung. Jangankan untuk menjelajahi sepuluh lantai masjid, kemana pun perjalanan yang dilakukan pastilah akan menjumpai kelelahan.

Malang dengan segala kesejukan dan kenyamanannya juga memiliki kebiasaan yang unik yang dimiliki oleh masyarakatnya. Warga masyarakatnya sudah dikenal dengan kebiasaan yang gemar membolak-balik kata. Kita ambil saja kata “Malang” sebagai contoh, penduduk akan mengucapkannya dengan membalik katanya menjadi “ngalam”. Terdengar cukup menggelitik bagi telinga kita yang asing dengan bolak-balik kata tersebut. Namun begitulah yang tersebar di kalangan masyarakatnya. 

Kota yang tidak jauh dari Pasuruan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelesir negeri ini. Dengan berbagai jenis wisata yang ditawarkan, seperti wisata alam, wisata religi, wisata belajar dan bermain untuk anak-anak, saya yakin Anda tidak akan melewatkannya dalam list destinasi jalan-jalan Anda.



















No comments:

Post a Comment

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu

Judul                : Sunnah Sedirham Surga Penulis              : Salim A. Fillah Penerbit            : Pro-U Media Terbit ...