Tuesday, 3 May 2016

KUTEMPUH JAKARTA-BEKASI DALAM 6 JAM




KMGP The Movie merupakan salah satu film yang paling saya tunggu-tunggu. Saya sudah mengetahui kabar mengenai pembuatan film ini sejak lama, sekitar tahun 2011 atau 2012. Lama tak terdengar lagi kabar tentangnya, saya pun berpikir mungkin pembuatan film ini tertunda atau bahkan dibatalkan.

Akhirnya setelah beberapa tahun berlalu, saya mendengar kabar lagi bahwa film Ketika Mas Gagah Pergi akan segera diwujudkan. Semangat saya pun bangkit lagi. Berita mengenai perkembangan film ini selalu saya ikuti di berbagai akun media social miliki bunda Helvy Tiana Rosa atau akun fanpage KMGP The Movie.


Saya juga pernah berkesempatan datang ke acara road show yang diadakan oleh salah satu komunitas pendukung film ini. Melihat langsung para pemain hasil audisi membuat saya terkagum-kagum pada talenta mereka dan juga bangga dengan bunda Helvy Tiana Rosa yang akhirnya berhasil menemukan anak-anak muda berbakat itu.

Mendekati hari perdana pemutaran KMGP The movie di bioskop, saya dan teman-teman begitu excited. Tak sabar ingin melihat aksi para pemain yang terbilang baru di dunia perfilman Indonesia, yang akan memerankan tokoh-tokoh inspiratif dalam film yang juga sangat menginspirasi. 

Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan menonton film ini pada pemutaran hari pertama. Meskipun berdomisili di Bekasi, saya sama sekali tidak keberatan untuk menonton di bioskop yang ada di salah satu mall di Jakarta, karena memang saya ikut nonton bareng teman-teman komunitas FLP Jakarta. Jarak bukan hambatan bagi saya demi menonton film Ketika Mas Gagah Pergi, apalagi di hari-hari pemutaran perdana. 

Saya tidak ingin melewatkan kesempatan menonton di hari pertama agar film berkualitas ini dapat bertahan lama tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Sayang sekali jika film berbobot ini hanya tayang dalam waktu singkat saja, sehingga tidak banyak orang yang mendapatkan energi positif dari filmnya. 

Jarak Bekasi-Jakarta saya tempuh dengan menggebu, mengejar jam tayang yang sebentar lagi akan mulai. Karena dipastikan film ini akan selesai pada malam hari, saya pun memutuskan untuk menginap di rumah seorang teman, di bilangan Jakarta Barat. Dan keesokan harinya merupakan hari yang sangat melelahkan. Bagaimana tidak? Perjalanan pulang dari Jakarta Barat ke Bekasi memakan waktu kurang lebih enam jam yang disebabkan oleh kemacetan yang sangat parah ditambah cuaca terik yang setia menemani selama perjalanan. Saya berpikir dengan waktu selama itu mungkin saya bisa traveling ke salah satu kota di Jawa Tengah. Tapi tak mengapa asal saya puas telah menonton film Ketika Mas Gagah Pergi.

Selama menonton film yang saya rasakan adalah kagum, bahagia, penuh tawa dan juga hikmah. Beberapa scene yang sangat berkesan buat saya diantaranya, adegan Yudi yang diperankan oleh Masaji Wijayanto yang sedang melakukan aksinya berceramah di dalam bus. Yudi menyampaikan sebuah potongan ayat yang berbunyi “fii ahsanitaqwim”, dalam sebaik-baik bentuk. Ya, Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-sebaik bentuk. 

Allah menciptakan dalam bentuk yang paling sempurna, walaupun manusia itu sendiri sering menganggapnya sebuah kekurangan. Ada yang dikaruniai tubuh gemuk, hidung pesek atau badan yang pendek. Sesungguhnya itulah bentuk kita yang terbaik yang Allah berikan. Kebanyakan manusia tidak puas dengan keadaan fisiknya, hingga mereka rela melakukan apa saja untuk mengubah bentuk tubuhnya menjadi bentuk yang mereka anggap lebih sempurna. 

Ada yang melakukan operasi plastik agar hidungnya menjadi lebih mancung, sedot lemak, cukur alis, sulam bibir, dan lain sebagainya. Hidup kita cenderung tidak bahagia dengan apa yang telah Allah tetapkan. Hidup hanya dipusingkan dengan bentuk tubuh yang dianggap serba kekurangan. Sadarkah kita itu semua dilarang oleh Allah? Salah satu dalil yang melarangnya berbunyi,

Allah melaknat para wanita pembuat tato dan yang meminta dibuatkan tato, para wanita yang mencukur alis mereka dan para wanita yang meminta untuk dicukur alisnya, dan para wanita yang mengikir gigi mereka, dengan tujuan mempercantik diri serta mengubah ciptaan Allah Ta’ala” (HR. Muslim)

Lalu apa yang harus kita lakukan bila bentuk fisik tidak sesuai dengan yang diharapkan?  Bersyukurlah! Ya, karena dengan bersyukur Allah akan menambah nikmatNya. Hidup akan lebih tenang dan bahagia. Bersyukurlah maka kita akan bahagia. Jangan terpuruk dan sibuk dengan kondisi yang tidak sesuai harapan. Tapi sibukkanlah diri kita dengan meningkatkan ibadah kepadaNya.

Fi ahsanitaqwim, satu kata yang penuh makna yang dihadirkan dalam film KMGP ini cukup membuat saya sadar akan keadaan diri sendiri yang jauh dari sempurna, baik secara fisik maupun amal ibadah. Namun Allah telah menciptakan saya dalam sebaik-baik bentuk, maka yang harus saya lakukan adalah bersyukur dan terus meningkatkan amal ibadah. Karena Allah tidak melihat keadaan fisik melainkan amal ibadah yang kita lakukan.

Satu lagi pesan yang membekas di benak saya, yaitu kalimat yang diucapkan oleh Mas Gagah yang diperankan oleh Hamas Syahid Izzudin, “Jika kita tidak setuju dengan suatu kebaikan yang belum kita pahami, setidaknya cobalah untuk menghargainya”.

Di era sekarang ini kita mudah sekali melihat berbagai komentar tidak baik atau cibiran pada sebuah kebaikan yang terjadi pada orang lain. Apalagi jika perubahan itu terjadi pada sisi spiritual seseorang. Orang yang hijrah menuju sebuah kebaikan, setidaknya mereka telah berusaha untuk menaati syari’at yang telah Allah tetapkan. Mereka hanya ingin mencapai ridho Allah, agar kehidupannya di dunia lebih terarah dan mendapatkan akhir hidup yang bahagia. Namun, pihak-pihak yang tidak mengerti atau tidak mau mengerti, menilai semua itu hanya kedok, pencitraan, sok alim, sok pintar, sok menggurui.

Sikap seperti itu sebaiknya jangan dibiarkan bersemayam dalam diri kita. Cobalah untuk menghargai apa yang orang lain yakini. Toh, hijrahnya seseorang tidak merugikan kita. Selama orang itu berubah ke arah yang lebih baik, hendaknya beri dukungan, doa dan harapan agar yang bersangkutan selalu istiqomah di jalan yang telah dipilih.

Saya yakin banyak orang yang terbuka pikirannya setelah menonton film KMGP. Pesan-pesan yang diselipkan begitu terasa nyata dalam kehidupan kita. Masih banyak sekali hikmah lain yang diselipkan dalam film ini, misalnya tentang Palestina. Walaupun scene ini dihadirkan hanya dalam beberapa menit saja, semangat akan kepedulian pada Palestina begitu dalam.

Film-film seperti ini sangat diperlukan bagi masyarakat kita. Karena aktivitas membaca di Indonesia masih sangat rendah. Lagipula aktivitas menonton film lebih digemari daripada membaca. Jadi pesan yang tidak tersampaikan dalam buku bisa tersampaikan melalui filmnya.

Tidak puas dengan menonton hanya sekali, maka begitu ada kesempatan menonton untuk yang kedua kalinya tidak saya sia-siakan. Selain itu pada kesempatan yang pertama, saya agak terlambat beberapa menit, jadi tidak tahu adegan-adegan apa yang saya lewatkan pada menit-menit awal. Dan akhirnya pada kesempatan kedua saya pun dapat menontonnya secara lengkap, tak ada yang terlewatkan, hehe.

Saya menunggu hikmah apa lagi yang akan dihadirkan dalam KMGP The Movie 2. Dan saya harap tidak lama lagi kami, sahabat Mas Gagah dapat menyaksikan kisah inspiratif lainnya.






















2 comments:

  1. Semoga film2 Islami makin berjaya dan menjadi salah satu ladang dakwah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Yuk dukung terus film2 Islam bermutu!

      Delete

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...