Tuesday, 26 April 2016

EYD yang Hilang




Saya tidak terlalu suka membaca buku terjemahan. Tapi bukan berarti tidak pernah membacanya. Kenapa saya jarang baca buku terjemahan? Karena dari beberapa buku terjemahan yang pernah saya baca terasa membosankan, mungkin itu pengaruh dari gaya bahasa atau cara menerjemahkan yang kurang bisa saya pahami. Dari situ saya mengambil kesimpulan, buku-buku yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia lebih berbobot dan mengasyikkan. Itu sih menurut saya pribadi, hehe.

Beberapa hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan novel terjemahan yang berjudul “Will Grayson”, hasil duet John Green dan saya-lupa-siapa-penulis-satunya. Sebelum membaca buku ini, seorang teman sudah memperingati saya bahwa buku ini agak membosankan dan dia tidak mengerti jalan ceritanya. Tapi saya berpikir, boleh jadi bagi teman saya buku ini membosankan, belum tentu saya berpendapat yang sama. Oleh karna itu saya memutuskan untuk tetap membacanya.


Setelah membaca beberapa bab awal, ternyata apa yang teman saya katakana tentang buku ini, benar adanya. Saya tidak paham dengan cerita yang dituliskan. Tapi sekali lagi, saya memutuskan untuk tetap membacanya.

Buku ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki SMA yang gay. Tokoh utamanya bernama Wiil Grayson, dan yang menariknya ada dua Will Grayson yang diceritakan dalam novel ini. Dua orang yang berbeda dengan nama yang sama. Jika bicara tentang tema, saya kurang suka dengan tema novel ini. Jadi saya tidak akan menuliskan jalan cerita yang lebih panjang. Tapi saya akan membahas mengenai gaya penulisan dalam novel ini.

Bagi saya novel ini aneh bila dilihat dari segi EYD. Pasalnya selama ini buku yang saya baca semua tersusun sesuai dengan kaidah penulisan yang saya pahami itu benar. Misalnya, huruf kapital di awal kalimat, nama orang, nama kota, dll. Dialog diapit oleh tanda kutip. Juga keefektifan sebuah kalimat. Tapi sepertinya semua kaidah itu tidak berlaku di novel ini.

Jadi, keanehan yang saya temukan begini, bab satu ditulis sesuai EYD, bab dua tanpa EYD, dan begitu seterusnya, bergantian hingga bab akhir. Bab yang tidak sesuai dengan EYD ditulis tidak menggunakan huruf kapital di awal kalimat pun dengan nama orang, dialog tidak menggunakan tanda petik (“   “), melainkan titik dua (:) setelah nama tokoh yang sedang berbicara.

Aku:
Maura:

Begitu juga dengan penggunaan kata penghubung seperti “dan”. Dalam sebuah kalimat yang tertulis beberapa nama orang, ditulis dalam bentuk Erik dan Mary dan Greta. Sedangkan yang saya pahami selama ini, kata “dan” bisa diganti dengan “koma”, menjadi Erik, Mary dan Greta. Bagi saya model penulisan seperti ini aneh, dan baru saya temukan dalam novel ini. Saya jadi bertanya-tanya, apakah di setiap negara mempunyai aturan EYD yang berbeda atau disamakan semua dengan merujuk satu sumber?

Bila teman-teman ada yang mengetahui jawaban dari pertanyaan saya di atas, bolehkah dibagi ilmunya?

Terima kasih ^^

No comments:

Post a Comment

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu

Judul                : Sunnah Sedirham Surga Penulis              : Salim A. Fillah Penerbit            : Pro-U Media Terbit ...