Wednesday, 27 July 2016

What I Got From Hiccup and Toothless

google

Hiccup –nama yang lucu cenderung aneh karena dalam Bahasa Indonesia artinya cegukan :D adalah seorang anak laki-laki yang sama sekali tidak memiliki kemampuan membunuh naga seperti sang ayah yang merupakan seorang Viking handal pembunuh naga. Hiccup justru menjadikan naga sebagai teman dekatnya.

Hiccup tidak mempunyai keahlian berperang melawan naga seperti teman-temannya, tapi ia malah menemukan cara untuk menaklukkan naga dengan cara lain, yaitu dengan menyayangi dan berusaha mengerti perasaan seekor naga.

Dari film “How To Train Your Dragon” ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran.
  • Sesuatu atau seseorang yang tidak kita suka bukan berarti harus dihilangkan atau dimusnahkan dari hidup kita. Sebaliknya, justru kita harus menghadapi sesuatu atau seseorang tersebut dengan hati bukan belati. Pelajari, pahami, dekati dan sayangi ia hingga merasa nyaman dengan keberadaan kita dan akhirnya dapat menjadi teman baik yang akan membela dan membantu di saat kita membutuhkan.
  •     Pada dialog Hiccup dan ayahnya,
Ayah: “They (the dragon)  killed hundreds of us.
Hiccup: “And we killed thousands of them.
Dari dialog itu saya mempelajari bahwa jangan melihat sebuah kesalahan kecil yang orang lain telah lakukan pada kita, tapi lihat dan renungkan kesalahan apa yang telah kita lakukan pada orang lain. Bisa jadi kesalahan kita lebih banyak daripada yang orang lain lakukan.
  •  Ayah Hiccup digambarkan sebagai seorang yang memaksakan kehendak pada anaknya. Ia ingin anaknya menjadi seperti dirinya, seorang Viking yang dapat membunuh ratusan naga dengan sekuat tenaga dan upaya bersama pasukannya. Padahal orangtua tidak seharusnya memaksakan kehendaknya kepada anak-anak mereka. Biarkan anak memilih apa yang ingin ia raih dalam hidup tapi tetap dalam pengawasan dan bimbingan orangtua. Dengan begitu anak merasa mendapatkan kepercayaan dan motivasi dari orangtua, sehingga anak pun dapat berhasil meraih impian dengan semangat dan rasa hormat pada orangtuanya.
  • Belajar menyayangi binatang. Binatang walaupun tidak memiliki akal seperti manusia, mereka tetap memiliki insting yang dapat merasakan energy positif dan negatif di sekitarnya. Binatang tidak anak menyerang manusia apabila ia tidak merasa terganggu dan terancam kehidupannya.
  •  Rela berkorban.
Toothless –satu nama naga yang juga lucu karena artinya ompong :D adalah naga hitam yang menjadi sahabat bagi Hiccup. Ketika Hiccup sedang dalam kesulitan dan bahaya, Toothless segera membantunya, tak peduli dengan bahaya yang juga mengancam dirinya. Toothless telah merasakan kebaikan dan kasih sayang Hiccup sehingga ia rela berkorban menolong sahabatnya.

Itulah beberapa poin yang bisa saya ikat dari menonton film “How To Train Your Dragon”. Semoga kita tidak hanya sekedar menonton saja, tapi juga ada manfaat atau hikmah yang bisa diambil pelajarannya.

Selamat menonton ^_^

6 comments:

  1. Salah satu film favoritku nih. Sayangnya, film yang ke-2 nggak sebagus yang pertama :((

    Mampir ke blogku ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, ada yg ke2 ya? Hihihi..baru tau! Ini aja udah telat banget ya nonton yg pertama :D


      Ok, insyaa Allah nanti mampir. Makasih ya.

      Delete
  2. nice artikel :D

    Happy blogwalking ya, ditunggu kunjungan baliknya di http://www.dzikirsm.web.id/2016/08/takut.html #Happyblogging #blogwalking

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir. Siap berkunjung :)

      Delete
  3. Semakin kesini, film-film animasi dari Dreamworks semakin bagus. Apalagi How to Train Your Dragon 2. Cukup menghibur dan banyak pesan yang bisa diambil.

    ReplyDelete

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...