Thursday, 9 June 2016

Polusi Jadi Tradisi




Ada tradisi atau kebiasaan yang terjadi di setiap datangnya bulan Ramadhan. Sebut saja pedagang makanan dadakan yang menggelar dagangannya di pinggir jalan. Fenomena ini dapat kita jumpai hampir di setiap sudut jalan. Ada penjual kolak, gorengan, lontong, kue kering, dll. Kemudian muncul pula tradisi petasan yang “special” dinyalakan hanya bulan Ramadhan. Nah, yang kedua inilah yang disebut polusi jadi tradisi.

Mengapa polusi? Ya, petasan menimbulkan polusi suara. Polusi suara adalah suara keras yang sangat mengganggu yang diakibatkan oleh music yang sangat kencang, kendaraan yang lalu lalang dengan suara bising dan petasan yang menimbulkan suara yang cukup mengguncangkan hati, dan suara bising lainnya.



Entah kapan, siapa dan bagaimana kebiasaan bermain petasan ini hadir di setiap Ramadhan tiba. Seolah menjadi tradisi, hal ini otomatis muncul di bulan puasa. Biasanya yang memainkan petasan adalah anak-anak hingga remaja. Mereka akan mulai beraksi sejak tiba waktu shalat Isya hingga tarawih, pun masih berlanjut hingga tengah malam menjelang sahur.

Lucunya hampir di setiap wilayah terjadi hal yang sama. Di daerah mana pun kita singgah, bisa dipastikan anak-anak terlihat asyik memainkan petasan dan mereka pun terhibur karenanya. Ya, bagi mereka ini adalah kesempatan untuk memuaskan diri bermain petasan. Tak peduli apa yang terjadi dengan orang-orang sekitar yang terganggu oleh polusi suara yang mereka timbulkan.

Saya sendiri sangat menyesalkan mengapa tradisi seperti ini selalu ada. Padahal sudah sering saya mendengar berita bahwa setiap Ramadhan tiba, pihak berwajib selalu siap melakukan razia petasan. Polisi mungkin telah melarang peredaran petasan yang sangat meresahkan mayarakat, tapi pada kenyataannya benda yang satu ini masih saja leluasa dijual di mana-mana.

Jadi, apa hasil dari razia dan pelarangan tersebut?

Yang ada hanyalah keresahan yang terjadi akibat suara pekik petasan di lingkungan tempat tinggal kita. Tak bisa dihindari setiap malam-malam Ramadhan telinga kita harus siap disuguhi oleh pekik petasan yang menggelegar. Jangankan di sekitar lingkungan rumah, di sekitar masjid pun berseliweran anak-anak yang sibuk bermain petasan sementara orang dewasa yang ada di masjid melakukan shalat tarawih.

Masjid seharusnya menjadi tempat yang tenang dan nyaman untuk beribadah. Tapi dengan adanya tradisi polusi ini, tak didapat ketenangan ibadah yang diharapkan. Di jalan-jalan, di gang-gang, di lapangan, menjadi tempat yang tak luput dari aksi petasan yang dilakukan oleh anak-anak kita. Suaranya yang sangat memekakan telinga sangat mengganggu ketenangan masyarakat, belum lagi bila ada anak kecil atau bayi di lingkungan tersebut, orangtua yang lanjut usia, orang sakit tak luput dari sasaran. Bahaya? Sudah pasti. Boros? Apalagi.

Lalu, apakah pantas aksi buruk itu dijadikan tradisi? Di mana orangtua yang bertanggungjawab atas kebiasaan buruk anak-anaknya? Di mana pihak berwajib yang katanya sudah mengontrol kehadiran petasan setiap menjelang Ramadhan? Apakah masih berlaku peraturan pelarangan-pelarangan itu? Atau malah hilang entah ke mana?

No comments:

Post a Comment

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu

Judul                : Sunnah Sedirham Surga Penulis              : Salim A. Fillah Penerbit            : Pro-U Media Terbit ...