Friday, 23 March 2018

Ashabul Kahfi Dalam Teori Relativitas Einstein



Judul                : Ketika Embun Merindukan Cahaya
Penulis              : Hadis Mevlana
Penerbit            : Tinta Medina
Terbit               : Februari 2018
Tebal                : 340 halaman

Saya cukup excited begitu mengetahui akan ada sekuel dari novel Embun Di Atas Daun Maple. Saya penasaran dengan akhir cerita kisah cinta Sofyan dan Kiara dan berharap di novel sekuelnya ini ada jawaban yang memuaskan.

Novel kedua dari Hadis Mevlana ini berjudul Ketika Embun Merindukan Cahaya. Masih sama dengan novel pertamanya yang memiliki tema besar perbandingan agama. Saya masih menikmati keseruan pertanyaan dan pernyataan seputar agama Islam dan Kristen.


Salah satu kisah yang dijelaskan di novel ini yang menurut saya cukup menarik adalah bagaimana Sofyan menjelaskan tentang Ashabul Kahfi kepada teman-temannya. Bahkan penjelasannya dilengkapi dengan rumus fisika yang memusingkan itu. 

Fritz, salah satu teman diskusi Sofyan, meragukan kisah tujuh pemuda Ashabul Kahfi yang ada di Al-Qur’an. Ia mengaitkannya pada logika yang mustahil. Mana mungkin ada orang yang tidur bertahun-tahun. Fritz mengatakan itu hanyalah cerita legenda dan mitos saja (hlm. 84).

Jika pernyataan itu datang kepada saya, dengan mudah saya akan menjawab, “Itulah kuasa Allah. Mudah sekali bagiNya untuk menidurkan seseorang selama bertahun-tahun. Hanya dengan kun fayakun, maka semua terjadi atas kehendaNya.” 

Tapi tidak dengan Sofyan, ia tidak memberikan jawaban seperti yang saya pikirkan. Dengan teori relativitas Einstein dan dilatasi waktunya, Sofyan menjelaskan kisah Ashabul Kahfi secara ilmiah (hlm.94). Saya pun baru tahu bahwa ayat Al-Qur’an pun bisa dikaitkan dengan teori fisika. Masyaallah.

Bait-bait puisi masih menjadi warna yang manis dalam novel ini. Mereka hadir dalam setiap carik kertas bersama setangkai mawar putih misterius yang sering muncul di depan pintu apartemen Sofyan.

Felix, teman satu apartemen Sofyan, yakin Zahralah yang meletakkan bunga itu. Karena Felix berhasil menyalin video dari CCTV apartemen ke ponselnya. Sofyan pun yakin bukan Zahra yang mengiriminya mawar dan bait-bait puisi itu.
Misteri bunga mawar putih itu akhirnya terungkap di akhir cerita. Orang itu datang dan mengakuinya langsung kepada Sofyan pada acara wisuda mahasiswa tahun akhir University of Saskatchewan.

Ending ceritanya sendiri membuat saya menebak-nebak apa yang akan terjadi. Syukurlah, apa yang saya pikirkan rupanya tidak terjadi pada endingnya. Saya justru akan kecewa kalau ending yang ada dalam benak saya itu benar berjadi.

Sebagai pembaca, saya melihat beberapa kata atau kalimat yang saya rasa kurang perlu dalam penulisannya. Selain beberapa kesalahan ketik, dalam novel ini juga terlalu sering muncul onomatopoeia atau imitasi suara, seperti; suara derit pintu, suara barang jatuh, suara tombol lift.

Meski begitu, novel ini layak untuk menjadi koleksi bacaan yang menghibur dan menambah wawasan.



4 comments:

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu

Judul                : Sunnah Sedirham Surga Penulis              : Salim A. Fillah Penerbit            : Pro-U Media Terbit ...