Tuesday, 6 March 2018

Ternyata Anak Laki-Laki Juga Butuh Pengawasan Ekstra



 
FLP Jakarta squad bersama Kak Sinyo
Zaman dulu, orang tua selalu was-was jika punya anak perempuan. Mereka bilang, anak perempuan harus ekstra perhatian, harus betul-betul dijaga, salah-salah pergaulan bisa jadi hamil di luar nikah. Kekhawatiran tersebut tidak salah dan sampai sekarang pun orang tua masih menerapkan pengawasan ekstra kepada anak-anak perempuannya.

Lain dulu, lain sekarang. Rupanya zaman telah berubah dan semakin mencengangkan. Bukan hanya anak perempuan yang butuh pengawasan ekstra, anak laki-laki pun sama, malah lebih membahayakan kasusnya bila salah menyikapi. 

Mengapa demikian? 

Saya cukup terkejut mendengar pemaparan Kak Sinyo tentang homoseksual. Kak Sinyo adalah pegiat Yayasan Peduli Sahabat yang fokus menangani, mendampingi dan mengedukasi orang-orang yang terindikasi LGBT. Beliau juga seorang penulis, salah satu bukunya adalah LGBT (Lu Gue Butuh Tau). Ahad, 4 Maret lalu, Kak Sinyo memenuhi undangan dari FLP Jakarta dalam acara bincang LGBT, yang digawangi oleh Divisi Rohis.

Jadi, Kak Sinyo cerita begini, orang yang memiliki kelainan seksual atau tidak sesuai dengan fitrahnya, seperti homoseksual, sebenarnya sama dengan orang normal (heteroseksual) dalam hal ketertarikan. Laki-laki normal akan tertarik dan bergairah jika ia melihat aurat wanita yang terbuka. Begitu juga dengan kaum yang tidak sesuai dengan fitrah tersebut. Mereka akan terangsang dengan aurat laki-laki yang terbuka. Kaum homo akan “on” jika melihat paha laki-laki yang terbuka. Mereka juga akan “on” jika melihat laki-laki dengan baju ketat yang memperlihatkan otot dan lekuk-lekuk tubuhnya. 

Dari cerita beliau, saya pun tahu bahwa bukan hanya wanita yang harus menutup aurat, laki-laki juga wajib menutup aurat. Tapi kebanyakan laki-laki abai dengan auratnya sendiri, padahal aturan aurat laki-laki sudah diajarkan dalam agama Islam, yaitu di antara pusar sampai lutut. Sebaiknya, laki-laki juga menghindari memakai pakaian ketat, kata Kak Sinyo.

Data yang mencengangkan juga menunjukkan laki-laki terindikasi kuat mengalami kelainan seksual sebanyak 90% dibanding wanita. Jadi yang terindikasi homo bukan hanya mereka yang menyukai sesama jenis, bahkan yang hetero sekali pun bisa terindikasi kelainan ini walaupun ia sudah menikah dan punya anak.

Kak Sinyo juga menjelaskan secara lengkap tentang bagaimana mendeteksi dini apakah anak-anak kita terindikasi menyukai sesama jenis atau tidak. Penyebab terindikasinya seseorang menyukai sesama jenis dapat dideteksi sejak sejak dini, mulai dari masa balita, masa kanak-kanak, hingga masa remajanya. 60% penyebab utamanya adalah faktor lingkungan dan psikologis. Orang tua juga memiliki faktor yang fatal sebagai penyebab terindikasinya anak menyukai sesama jenis. Untuk penjelasan detilnya, teman-teman bisa membaca buku Kak Sinyo yang berjudul LGBT (Lu Gue Butuh Tau).



Salah satu cara mengantisipasi hal tersebut di atas adalah dengan cara menjadi sahabat terbaik bagi anak. Posisikan diri kita sebagai orang tua yang siap menjadi tempat curhat anak. Begitu pun sebaliknya, sebagai orang tua, hendaklah terbuka kepada anak. Jangan sungkan untuk menceritakan kondisi finansial atau apa pun masalah yang sedang dialami orang tua. Dengan begitu anak tidak ragu untuk menceritakan cinta pertamanya, sahabat-sahabatnya, kegiatan sekolah, bahkan ketertarikannya kepada sesama jenis misalnya.

Baik anak laki-laki maupun perempuan memiliki porsi yang sama untuk terus mendapatkan pengawasan ekstra dari orang tua. Inti komunikasi kepada anak harus mengacu pada tiga poin, yaitu jujur, terbuka dan tidak vulgar. Sering orang tua lebih sibuk dengan ponselnya, sehingga pada saat anak bertanya sesuatu atau mengungkapkan sesuatu, orang tua hanya menanggapi sekilas tanpa beralih dari layar ponselnya. Tak jarang juga orang tua menganggap haram hukumnya seorang anak menanyakan hal sensitif seperti “bagaimana ia bisa lahir ke dunia” atau “kenapa ia bisa ada di perut bunda”. 

Orang tua yang kurang memahami bagaimana menghadapi pertanyaan anak yang seperti itu, akan langsung memutus komunikasi bahkan mewanti-wanti si anak untuk tidak menanyakan hal tersebut. Akhirnya si anak pun akan mencari jawaban dari orang lain yang justru akan menjerumuskannya kepada hal yang buruk. 

Kak Sinyo megingatkan agar tidak memutus komunikasi dengan anak. Hendaknya orang tua memandang mata anak, merangkulnya dan beri jawaban sejauh mana yang orang tua pahami, tentunya dengan kata-kata atau bahasa yang tidak vulgar. Untuk memberi jawaban dan memuaskan rasa ingin tahu anak, tentunya butuh ilmu dan penguasaan yang baik dari orang tua. Maka sebagai orang tua, jangan berhenti belajar. Belajar bisa dari mana saja, internet, buku, menghadiri kajian, seminar, diskusi, dll. Dan yang paling utama adalah doa memohon perlindungan bagi anak kita kepada Allah subhanahu wata’ala.

[Tambahan]
Demi memenuhi janji saya di postingan instagram tentang ciri-ciri wanita yang sedang jatuh cinta, berikut ini ciri-ciri yang dimaksud. Walaupun tidak berkaitan dengan tulisan di atas tak apalah, terlanjur janji. Barangkali ada yang penasaran 😂

Ciri-ciri wanita yang sedang jatuh cinta:
1. Bila bertemu orang yang dia suka, perutnya mules, deg-degan, serasa ada kupu-kupu terbang berkeliling di atas kepala
2. Ingin selalu dekat dengan orang yang disukai
3. Selalu ingat dia di mana pun berada, bahkan lihat kecoa pun ingat si dia 
4. Cemburu. Tidak suka melihat orang yang dicintainya berdekatan dengan orang lain.

Udah itu aja! Gak penasaran lagi, kan? Ehm...apakah teman-teman mengalami 4 ciri-ciri di atas? 😊


  

No comments:

Post a Comment

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...