Tuesday, 13 January 2015

Kajian MTW: Menuju Indonesia Lebih Baik Tanpa Miras


Uni Fahira Idris bersama MC

“Coba cek dompet masing-masing! Ada ga foto Ibu di dompet Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian?” Dalam sekejap seluruh jamaah pagi itu mengecek dompetnya masing-masing.

“Bagi yang menyimpan foto Ibunya di dompet, silakan maju ke depan! Saya punya hadiah.” Segera para jamaah bersemangat maju ke depan untuk mendapatkan hadiah.

“Wah, beruntung sekali mereka yang menyimpan foto Ibunya dalam dompet”, pikirku. Sayang sekali aku tidak menyimpan foto Ibuku di dalam dompet. Aku menaruhnya di buku agendaku, dan tidak membawanya pada kajian ini. “Ya udah gak papa. Belum rejeki”. Hehe.


Pembukaan yang cukup menarik dari Fahira Idris, salah satu anggota DPR RI, pengusaha dan aktivis, dalam kajian Majelis Ta’lim Wirausaha kemarin, tepatnya 11 Januari 2015 di Masjid Al-Azhar, Cakung, Jakarta Timur. Aku terpesona oleh cara Uni, begitu Ia biasa disapa, mengawali presentasinya. Dalam hatiku terbesit rasa kagum oleh mereka para pengusaha yang begitu dermawan dan selalu maksimal dalam bersedekah. Ingin sekali mengikuti jejaknya. Terpatri dalam hati, kelak aku pun akan melakukan hal serupa, menjadi pengusaha yang dermawan. Aamiin.

Mengapa Uni Fahira memberikan hadiah untuk para jamah yang menyimpan foto Ibu di dompetnya? Uni menjelaskan, bahwa Ia begitu mencintai orang tuanya, terutama Ibu. Tanpa doa mereka, dirinya bukanlah apa-apa. Jadi Uni begitu bangga pada orang yang masih menyimpan foto Ibu dalam dompetnya. Beliau mengatakan, betapa doa orang tua sangat penting dalam kehidupan kita. Karena doa merekalah kita sukses dalam karir, jodoh, rumah tangga, dan masalah apapun dalam kehidupan ini. Maka sudah kewajiban kita untuk selalu berbuat baik pada orang tua, tidak menyakiti perasaannya, memenuhi keinginannya, apapun itu, kecuali mempersekutukan Allah Swt. Haram bagi kita untuk patuh pada perintah orang tua dalam rangka bermaksiat pada Allah Swt.

Sudah lama aku menjadi follower Uni Fahira Idris di twitter. Twit-twit beliau kebanyakan focus pada Gerakan Anti Miras, karena memang beliau adalah pencetus gerakan ini. Uni begitu prihatin dengan perkembangan miras di negeri ini, terutama di Jakarta yang Gubernurnya justru ingin melegalkan miras. Selain miras, beliau juga menaruh perhatian pada berbagai persoalan seputar pelarangan jilbab di kantor, program-program TV yang jauh dari nilai pendidikan atau manfaat, dan persoala-persoalan social lainnya.

Mendengar paparan dan kisah-kisah beliau dalam memperjuangkan anti miras, membuatku cukup merinding dan menggetarkan hati. Betapa miras itu sangat nyata mudhorotnya bagi orang-orang yang mengkonsumsinya. Miras adalah pangkal dari segala kejahatan yang terjadi. Uni menyebutkan hasil survey yang dilakukannya dibeberapa penjara di Indonesia, bahwa, 80% orang yang masuk penjara, melakukan kejahatannya diakibatkan oleh pengaruh miras. Ya, miras adalah pangkal dari segala kemaksiatan.

Ada 10 titik dimana orang tidak boleh berjualan minuman beralkohol, diantaranya adalah; tidak boleh berjualan miras di area perumahan, lingkungan sekolah, sekitar tempat ibadah, warung-warung kecil, terminal, stasiun, gelanggang olah raga, sekitar rumah sakit, mini market dan bumi perkemahan. Dengan peraturan yang melarang penjualan miras di titik-titik tersebut, seharusnya tidak ada lagi masyarakat yang bisa mendapatkan miras dengan mudah. Tapi apa yang terjadi? Pada kenyataannya di sepuluh titik tersebut belum sama sekali steril dari penjualan miras. Oleh karena itu Uni begitu fokus dalam masalah ini dan mendesak pemerintah untuk membuat perda miras.

Di Indonesia baru beberapa daerah saja yang memiliki perda miras. Salah satu daerah yang telah memiliki perda miras adalah Manokwari, yang dikenal dengan sebutan kota injil. Salut dengan kota ini, karena peduli dengan lingkungannya agar terhindari dari pengaruh buruk miras. Daerah selebihnya belum memiliki perda ini, termasuk Jakarta. Perda miras sangat diperlukan untuk menghambat penyebaran miras agar tidak tumbuh subur di masyarakat terutama generasi mudanya. Karena di Indonesia ini pemerintah tidak tegas dalam pendistribusian miras, sehingga anak muda belia dapat meraihnya dengan mudah. Hal ini sangat memprihatinkan. Generasi muda adalah generasi harapan di masa depan, lalu apa yang akan terjadi dengan masa depan kita, jika anak mudanya sudah dipengaruhi oleh miras.

Uni merasa malu sekali ketika pada suatu kesempatan Ia melakukan investigasi dengan cara menyuruh seorang anak berusia belasan tahun dengan kamera tersembunyi pergi ke sebuah mini market. Anak tersebut diminta untuk membeli minuman beralkohol di sana. Di mini market itu terdapat label bahwa minuman beralkohol hanya dijual kepada orang yang berusia 21 ke atas. Namun yang terjadi di lapangan, ketika seorang anak belasan tahun membeli minuman itu, si kasir tetap saja melayani dan menjual pada bocah belasan tahun itu. Betapa pengawasan pemerintah begitu lemah, malah terkesan tidak peduli.

Pengalaman lain yang Uni ceritakan, ada seorang Ibu hajjah, yang berarti beliau beragama Islam dan sudah menunaikan ibadah haji, memiliki toko yang menjual miras. Ketika ditanya kenapa si Ibu menjual miras, padahal hal itu haram dalam Islam. Si Ibu hajjah menjawab dengan enteng, “Saya kan tidak meminumnya. Saya hanya menjualnya saja.” 

Coba bayangkan, seorang Ibu hajjah menjual minuman keras? Jadi apa fungsi gelar hajjahnya itu? Aku tidak habis pikir dengan kejadian ini. Apakah Ibu hajjah itu tidak paham? Tidak tahu? Atau tidak mau tahu? 

Ketahuilah bahwa siapapun yang terlibat dalam sebuah kemaksiatan, sekecil apapun kontribusinya, itu tetap sebuah dosa.


Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah melaknat khamr. Melaknat peminumnya, penuangnya, penjualnya, pembelinya, pemerasnya, yang minta untuk diperaskan, pembawanya dan yang minta untuk dibawakan kepadanya.” (HR. Dawud).
Lain lagi kisah seorang bocah berusia 4 tahun ini. Uni Fahira mengisahkan bahwa ada sebuah keluarga yang memiliki anak berusia kurang lebih 4 tahun. Anak ini mempunyai kebiasaan aneh. Setiap ada tamu yang datang ke rumahnya, Si anak selalu mengencingi tamu tersebut. Siapa pun dia, bahkan saudara atau kerabatnya sekalipun. Sampai-sampai orang tua anak itu tidak berani mengundang orang untuk berkunjung ke rumahnya, karena takut dikencingi oleh anaknya itu.

Melihat keanehan pada anaknya, orang tua si anak memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter. Lalu mereka bertanya pada dokter, ada kelainan apa pada anaknya. Dokter menjelaskan bahwa anak mereka baik-baik saja, sehat, tidak ada kelainan apapun. Semakin heranlah orang tua anak itu. tidak ada kelainan apa-apa, tapi memiliki kebiasaan aneh begitu? Kemudian orang tua anak itu berfikir untuk membawanya ke seorang ustad, dalam rangka menanyakan perihal kebiasaan aneh sang anak. Tanpa banyak bicara, si ustad tersebut bertanya pada Ayah anak itu. 

“Apa pekerjaan Bapak?”,  
“Saya bekerja di salah perusahaan bir,” Jawab si Ayah.
“Pak, mungkin ini teguran atau peringatan dari Allah yang datang pada keluarga Bapak.” Jelas Ustadz singkat.
 


Singkat cerita, kedua orang tua anak itu pun pulang ke rumah lalu mulai memikirkan perkataan sang Ustadz tadi. Akhirnya dengan pemikiran yang mendalam dan berat hati, sang istri mencoba menguatkan dirinya dan suaminya. Sang istri pun rela jika suaminya harus keluar dari pekerjaannya itu demi masa depan anak mereka. Padahal posisi sang suami di kantor cukup menjanjikan, namun mereka tidak ingin hidup mereka tidak dirihdoi oleh Allah Swt. Selang beberapa bulan sang Ayah keluar dari pekerjaan lamanya, lambat-laun kebiasaan buruk anaknya itu mulai menghilang. Subhanallah!

Betapa Allah telah memberikan petunjuk yang sangat jelas pada keluarga itu. Allah tidak meridhoi orang-orang yang mencari nafkah dengan cara haram, apalagi bekerja di perusahaan yang jelas-jelas memproduksi barang haram seperti bir.

Uni Fahira Idris sangat concern dalm hal yang satu ini. beliau berusaha keras untuk memerangi miras di negeri ini. cita-cita beliau, aku percaya ini cita-cita kita semua warga Indonesia, ingin menjadikan Indonesia yang lebih baik yaitu Indonesia yang memiliki generasi yang sehat, kuat, bertakwa, cerdas. Dan itu semua harus dimulai saat ini dengan menangkal segala pengaruh buruk yang akan menimpa generasi muda yang ditimbulkan oleh miras, rokok, seks bebas, dll. Sebab itulah Uni mengharapkan peran dari seluruh lapisan masyarakat untuk bekerjasama dalam memberantas miras. Dengan cara melaporkan setiap pelanggaran yang terjadi di daerah tempat tinggal masing-masing.

Laporka jika ada dari 10 lokasi yang dilarang menjual miras tapi masih tetap menjualnya. Uni memberikan akses nomor hapenya kepada para jamah yang ingin melaporkan hal itu. Bukan soal miras saja, Uni juga menerima laporan jika ada dari kaum muslimah yang dilarang menggunakan jilbab di tempatnya bekerja. Seluruh laporan akan diterima dan ditindaklanjutinya. Uni berharap seluruh kampung-kampung yang ada di Jakarta bahkan di Indonesia, menjadi “Kampung Anti MIras”. Berikut nomor telpon Uni Fahira Idris yang dapat dihubungi 08170877686.

Mendengar uraian Uni Fahira dari awal sampai akhir, begitu menggetarkan para jamaah, bahkan aku sendiri merasa merinding mengetahui bahwa betapa negeriku tercinta ini sudah sebegitu rusaknya dikarenakan oleh miras.

Mari lakukan sesuatu untuk negeri ini! apa yang bisa kita perbuat sebagai warga masyarakat?

Kita bisa memulainya dari lingkngan terkecil yaitu keluarga. Jagalah keluarga kita, anak-anak kita dari pergaulan yang buruk. Beri pengertian mengenai bahaya miras. Perhatikan teman-temannya di sekolah maupun di sekitar rumah. Ciptakan lingkungan yang baik, teman-teman yang baik untuk mereka. Kuatkan pendidikan agamanya, aqidah dan akhlaknya agar tidak mudah dipengaruhi hal-hal negatif dari luar. 
 
Jangan lupa selalu mendoakan yang terbaik untuk negeri kita tercinta. Karena doa adalah senjata kita, umat Islam. Allah senang dengan hamba-Nya yang memohon, meminta kepada-Nya.




5 comments:

  1. bermanfaat sekali.. trims ya utk infonya, semoga qta sllu menebar manfaat utk org banyak. aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, aamiin. Terima kasih kembali. Yuk tebarkan kebaikan! :)

      Delete
  2. Miras memang merusak, apalagi miras merusak generasi bangsa.
    Sukses buat tulisannya mbak.

    ReplyDelete
  3. iya benar2 mengerikan pengaruh miras ini. semoga para pemimpin negeri ini segera sadar sblm, demi generasi yg akan datang.

    Makasih mba. Sukses juga ya ^_^

    ReplyDelete

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu

Judul                : Sunnah Sedirham Surga Penulis              : Salim A. Fillah Penerbit            : Pro-U Media Terbit ...