Thursday, 7 January 2016

Belajar Puisi



Pertama kali belajar menulis saya lebih sering menulis artikel, sama sekali tidak tertarik untuk menulis cerpen, karena saya termasuk orang yang kesulitan dalam berimajinasi. Menurut saya menulis cerpen atau fiksi itu butuh kreativitas dalam berimajinasi. Lalu apa yang akan ditulis jika tidak bisa berimajinasi? Dan saya pun menghindari menulis cerpen.

Namun, lama kelamaan saya perhatikan setiap ada lomba menulis, selalu yang diangkat adalah cerpen. Dulu jarang sekali saya temukan lomba menulis artikel. Dari situ saya berpikir, saya harus bisa menulis cerpen supaya bisa ikut lomba-lomba itu. Akhirnya saya pun mulai memberanikan diri menulis cerpen, mulai membaca lagi buku kumpulan cerpen dan mempelajari bagaimana cara menulisnya dari cerpen-cerpen yang saya baca. Akhirnya sekarang saya telah melahirkan beberapa cerpen, walaupun belum sempurna.


Kejadian di atas terulang lagi pada puisi. Saya tidak suka puisi. Jangankan menulis, membacanya saja malas. Sebabnya adalah membaca puisi itu bikin mikir, karena saya sama sekali tidak mengerti maksud dari puisi yang saya baca itu apa. Kenapa begini? Ini maksudnya apa? Kosakata ini artinya apa? Begitulah kira-kira pertanyaan yang timbul di kepala saya dan tidak tahu harus bertanya pada siapa.

Entah kenapa saat ini saya mulai tertarik dengan puisi. Ada keinginn untuk bisa menulis sebuah puisi, tapi saya tidak tahu bagaimana cara menuliskannya.
Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke toko buku. Di sana tersedia stan bazar buku-buku murah dan saya menemukan sebuah buku kumpulan puisi. Mengingat ketertarikan saya pada puisi, akhirnya saya membeli buku itu. Buku kumpulan puisi ini berjudul Baju Bulan karya Joko Pinurbo. Selain harganya yang sudah pasti murah, saya tertarik membeli buku puisi ini karena bukunya tidak terlalu tebal :D

www.goodreads.com
Puisi pertama di halaman pertama cukup menghibur dan berhasil membuat saya tersenyum. Bunyi puisinya begini:

Pengarang, engkau sungguh sabar
Menunggu ide yang tanpa kabar
Dirimu sangat percaya diri
Meskipun karyamu tidak banyak terbeli
(Paskasius Wahyu Wibisono, “Pengarang”, Bobo 27/11/2003)

Halaman-halaman selanjutnya banyak puisi yang bikin saya mikir dan agak kesal dibuatnya karena tidak mengerti maksudnya. Tak peduli hal itu, saya terus membaca sampai halaman terakhir. Lalu, apa akibatnya?  Akhirnya saya mencoba menulis puisi dan tertarik untuk mempelajarinya lebih jauh walaupun banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu adalah:


  • Haruskah puisi menggunakan kata-kata puitis atau nyastra?
  • Haruskah sebuah puisi mengandung makna tersirat yang harus dicerna sendiri oleh pembacanya?

  • Haruskah puisi berirama sama, seperti a-a-a-a atau ab-ab?
  • Adakah batas panjang maksimal dan minimal dalam satu puisi?
  • Apakah menulis puisi harus memperhatikan kaidah EYD?

Nah, jika teman-teman ada yang memahami teori penulisan puisi, sudilah kiranya berbagai sedikit pada saya yang miskin ilmu ini.

Terima kasih ya sebelumnya ^_^

3 comments:

  1. Aku coba jawab pertanyaannya ya kak. Kata-kata dalam puisi nggak harus puitis atau nyastra kok. Bisa juga pakai bahasa sehari-hari. Untuk panjang puisi juga nggak ada mininal atau maksimalnya, kecuali untuk diikutsertakan lomba yang ada aturannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. o, gitu ya? hehe...ok makasih ya sharing-nya.

      Selama ini mind set-nya, puisi itu selalu pake kata2 sastra yg sukar dimengerti ^_^

      Delete
  2. Aku ada buku puisi di rumah dan itu gak mendayu dayuu kok bahasanyaa :p
    tidak melulu Sayang. Yang penting adalah tulisanmu sampai ke hati para pembaca :)

    ReplyDelete

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu

Judul                : Sunnah Sedirham Surga Penulis              : Salim A. Fillah Penerbit            : Pro-U Media Terbit ...