Friday, 22 January 2016

Ulasan Film Ketika Mas Gagah Pergi: Fi Sabilillah





Setelah pertemuan lalu si juru dakwah on the street menyelamatkan Gita dari aksi pencopetan, pada pertemuan kali ini Gita memutuskan untuk ikut turun dari bus yang sama dengan yang tumpangi si juru dakwah on the street itu. setelah mengucapkan terima kasih, si juru dakwan pun tidak bisa berlama-lama ngobrol bareng Gita karena harus meneruskan perjalanan. Seketika melompatlah si juru dakwah on the street itu ke atas bus. 

“Mas, namanya siapa?” tanya Gita sedikit berteriak karena bus yang dinaiki si juru dakwah on the street segera melaju.

“Yudi,” jawab si juru dakwah yang juga sambal berteriak.


“Siapa?!” bisingnya jalanan ditambah bus yang sudah semakin menjauh membuat Gita tidak bisa mendengar jelas suara si juru dakwah.

“Yudhistira Arifin,” suara Yudi semakin tak jelas terdengar oleh Gita seiring menghilangnya bus.

“Fi Sabilillah??” 

Sejak saat itu Gita menyebutnya dengan Mas Fi Sabilillah.

Hahaha, gara-gara tidak terdengar jelas, nama Yudi versi Gita jadi Fi Sabilillah. Kata-kata itu melekat dalam ingatan Gita karena dalam khutbahnya Yudi sering menyebut-nyebut kata fi sabilillah.

Sepenggal adegan di atas terdapat dalam film yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang, “Ketika Mas Gagah Pergi”, terutama pengamat film dan penggiat literasi. Film yang diangkat dari novel karya bunda Helvy Tiana Rosa dengan judul yang sama ini akhirnya tayang juga di bioskop-bioskop Indonesia. Film yang telah saya nanti sejak bertahun-tahun lalu dapat  saya nikmati pada tayangan perdananya 21 januari 2016 bersama beberapa teman penggiat literasi di Forum Lingkar Pena.

Pemain utama dalam film ini adalah hasil audisi yang dilakukan oleh bunda Helvy sendiri sesuai dengan karakter tokoh dalam novelnya. Dari hasil audisi itu terpilihlah empat orang anak muda berbakat, mereka adalah Hamas sebagai Gagah, Masaji sebagai Yudi, Aquino sebagai Gita dan Izza sebagai Nadia. 

Film ini mengisahkan seorang adik kakak yang selalu kompak, Gagah dan Gita, keduanya adalah figur anak muda metropolitan yang hidupnya serba kecukupan dan penuh dengan kesenangan serta hura-hura. Namun semua itu berakhir seiring berubahnya Mas Gagah, panggilan Gita pada kakaknya, menjadi lebih relijius setelah kepulangannya dari Ternate, tempat di mana ia menjalani penelitian skripsinya.

Perubahan itu sangat disesalkan oleh Gita. Ia menganggap kakaknya tidak sayang lagi, tidak seasyik dulu dan tidak peduli lagi padanya. Kegiatan Mas Gagah pun berubah dari yang suka nonton konser, nongki-nongki caci bareng Gita dan teman-temannya, menjadi lebih sering mengaji, membaca buku dan membantu anak-anak dhuafa.

Gita tidak suka dengan Mas Gagah yang selalu menasihatinya, tidak boleh ini itu dan selalu bicara soal agama. Hal itu membuat hubungan Gita dan kakaknya menjadi renggang. Gita yang dulu selalu di antar ke sekolah oleh Mas Gagah, memutuskan untuk pergi sekolah naik kendaraan umum. Nah, di sinilah pertemuan Gita dan Yudi berawal.

Beberapa kali naik bus, Gita selalu berpapasan dengan si juru dakwah on the street. Yudi adalah seorang pemuda yang suka menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Seorang anak dari kiai yang diperankan oleh Matias Muchus yang mengelola sebuah pesantren. Kiai tidak suka dengan kegiatan Yudi yang berdakwah dari satu bus ke bus lain. Menurut Kiai dakwah itu ya pesantren, di masjid, bukan di jalanan.

Saya menikmati adegan demi adegan, dialog demi dialog. Film yang sarat makna dan menginspirasi ini sangat layak ditonton oleh remaja masa kini yang hidupnya dipenuhi oleh dunia hura-hura dan kesenangan belaka. Padahal anak muda seharusnya bisa menjadi agen perubahan yang baik bagi generasinya.

Selain dari konten film yang memang menarik dan layak tonton, tidak dipungkiri bahwa masih terdapat beberapa kekurangan di dalamnya. Para pemain utama yang terbilang masih baru di dunia perfilman terlihat masih kaku dalam acting dan pengucapan dialog-dialognya. Namun itu bukanlah masalah yang besar bagi saya. Menurut saya sesuatu yang baru memang terlihat kurang sempurna pada awalnya, seiring berjalannya waktu para artis tersebut dapat memaksimalkan kemampuannya dengan lebih baik lagi.

Film ini merupakan film keluarga yang cocok ditonton oleh siapa saja. secara keseluruhan saya menikmati film ini dan tidak sabar menantikan kisah seru lainnya. O, ya. Sebagian royalti yang didapat dari film ini akan disumbangkan untuk dunia pendidikan di Indonesia Timur dan Palestina. Dengan menonton film Ketika Mas Gagah Pergi, berarti kita turut mendukung perjuangan Palestina.
dukung Palestina, nonton KMGP ya!
Terakhir pesan dari Yudi untuk kita semua, “hijrah adalah pindah, move on ke sesuatu yang lebih baik. Meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran dalam hati, perkataan dan perbuatan.” 

*Terima kasih kepada Mbak seniorku yang baik hati, Etika Avicenna. Dan teman seperjuangan, Winda S Septiana, dari FLP Jakarta yang telah memberikan kesempatan nobar film keren ini. 

#sayadukungfilmketikamasgagahpergi #kmgpthemovie #ketikamasgagahpergi #indonesiagagah #islamitucinta #islamituindah

3 comments:

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...