Tuesday, 12 January 2016

Puisi Cinta nan Mempesona



 
www.goodreads.com
Mata Ketiga Cinta, oleh Helvy Tiana Rosa adalah buku kumpulan puisi kedua yang saya baca masih dalam rangka menelisik lebih jauh apa itu puisi. Kumpulan puisi ini bertemakan cinta yang ditulis dalam kurun waktu 1985-2011. Sebanyak 42 puisi penuh yang begitu menyentuh, meskipun banyak bait yang tidak saya pahami seutuhnya.

Tema cinta yang diangkat tidak melulu kisah cinta sejoli yang dimabuk asmara. Cinta yang ditampilkan dalam buku ini adalah universal yang disusun dalam diksi cantik sarat makna. Cinta ibu, cinta seorang wanita, cinta Palestina dan yang paling esensial yaitu cinta ilahi. Beberapa puisi yang sangat membekas dalam benak saya di antaranya; Kepada Tuan Teroris, Apakah Sampai Padamu Berita tentang Mahanazi dan Tahajud.


Puisi Kepada Tuan Teroris dan Apakah Sampai Kepadamu Berita tentang Mahanazi merupakan puisi yang berisi tentang perjuangan Islam dan Palestina. Membaca puisi atau tulisan apa pun tentang Palestina selalu menyayat hati hingga menjatuhkan hangat di pipi.

Kepada Tuan Teroris

Dalam puisi ini Bunda Helvy-begitu ia biasa disapa- merasa Islam selalu menjadi sasaran empuk bagi barat, terutama Amerika, lewat tuduhan terorisnya. Usamah Bin Ladin disebut-sebut sebagai dalang dari pengeboman WTC yang terjadi di Amerika. Islam menjadi sorotan setelah kejadian dahsyat itu. Palestina yang terjajah dan berjuang mempertahankan tanah airnya, bagi  mereka adalah teroris. Padahal merekalah teroris yang sesungguhnya. Akhir puisi ini cukup menarik bernada sinis dan kepuasan,

Sebab puisi ini hanya untukmu: Tuan Teroris. Kukirimkan bersama ludahku tepat di wajahmu

Apakah Sampai Kepadamu Berita tentang Mahanazi

Palestina seolah seorang diri melawan Mahanazi, Israel laknatullah. Dunia bungkam dengan apa yang menimpa saudara-saudara muslim di sana, seolah nilai kemanusiaan tidak berlaku di Palestina. Dimana PBB? Ah, tak usah kau tanya tentang itu. Ia seperti seonggok organisasi mandul.

Tahajud

Suka sekali dengan puisi ini, karena menurut saya puisi ini sangat romantis. Puisi pendek tiga baris. Begini bunyinya:

Bangunlah, cinta
Airmatamu bercahaya
Di dua per tiga malam

Selain ketiga puisi di atas, saya juga dibuat jatuh cinta oleh bait-bait dalam puisi lainnya, seperti:

Jangan bawakan aku bunga, sebab semua bunga tunduk padaku di sini
“Mata Elang, bawakan aku setangkai puisimu!
(Vidiara, hlm. 69)

Aku mencintaimu sejak waktu, sejak bumi, sejak sukma, sejak bayi
Aku mencintaimu sampai laut, sampai langit, sampai darah, sampai mati
(Cinta, hlm. 11)

Ah, sesungguhnya semua puisi dalam buku ini begitu mempesona, hingga masih menyisakan segaris senyum sampai sekarang.  

2 comments:

  1. Vidiara juga keren. Masya Allah, semangat baca puisinya mbak. Klw puisi, semakin diulang semakin enak terasa loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. o, gitu ya...hehe sip deh

      *lanjut baca*

      Delete

Belajar Dari Kisah Ulama Terdahulu

Judul                : Sunnah Sedirham Surga Penulis              : Salim A. Fillah Penerbit            : Pro-U Media Terbit ...