Thursday, 7 April 2016

MEMBACA ITU BELAJAR


 Melihat cover buku ini pertama kali, saya pikir buku ini kebasahan, ketumpahan air atau kehujanan, karena sebagian huruf pada judulnya pudar. Rupanya buku ini memang didesain layaknya sebuah buku yang kebasahan terkena air hujan, seperti judulnya “Hujan Bulan Juni”. Bukunya tidak terlalu tebal, hanya 135 halaman saja. Jauh sekali dari novel yang biasa saya baca, lebih dari 200 halaman.

Di halaman-halaman awal saya kurang paham ceritanya tentang apa, semakin dibaca barulah saya mengerti. Bercerita tentang dua orang yang saling menyukai tapi berbeda suku dan agama. Sarwono berasal dari Solo beragama Islam, sedangkan Pingkan berasal dari Menado beragama Kristen. Ceritanya lebih kepada pergulatan batin tentang perbedaan-perbedaan pada kedua tokoh utama tersebut. 


Sarwono merupakan seorang dosen sekaligus penulis puisi yang tulisannya sering muncul di surat kabar. Pingkan pun seorang dosen yang lebih sering menyebut tulisan Sarwono adalah tulisan yang cengeng. Sarono digambarkan sebagai seorang yang bertubuh kurus dan tak lepas dari rokok yang mengakibatkan dirinya mengidap penyakit paru-paru. Sedangkan Pingkan adalah seorang perempuan cantik dan cerdas.

Kecerdasan Pingkan dibuktikan dengan dikirimnya dia ke Jepang untuk melanjutkan studi. Sarwono sebenarnya tidak suka Pingkan pergi ke Jepang, karena itu berarti mereka akan berpisah jarak untuk waktu yang lama. 

Membaca novel ini saya tidak merasakan ada sesuatu yang greget. Semuanya datar, biasa saja dan kurang memainkan emosi pembaca, menurut saya pribadi. Tidak ada senang, bahagia, sedih, kaget, dll. Memang, Bahasa yang digunakan unik, cerdas dan nyastra, tapi rupanya Bahasa yang nyastra itu tidak sepenuhnya mudah dipahami oleh pembaca, apalagi pembaca yang awam seperti saya.

Lepas dari itu semua, ada kalimat membuat saya tergelitik,
“Kamu memang suka makan, itu jelas, hanya saja yang kamu keluarkan bukan kotoran tapi vitamin. Ya gimana bisa gemuk?” (hlm. 15)

Novel ini lebih banyak narasi daripada dialognya. Dialognya bisa dibilang sedikit sekali, tapi sepertinya penulis membuat banyak dialog yang terkesan hanya suara hati atau pikiran si tokoh saja. Dialog-dialog tersebut dicetak miring tanpa tanda kutip.

Hingga tiba di bagian ending, perasaan saya tetap sama, datar. Sepertinya ending-nya dibuat seperti tidak tuntas, pembaca dipersilakan menerka-nerka akhir dari kisah percintaan Sarwono dan Pingkan.

Meski saya menilai kurang pada novel ini, teman-teman yang sudah membaca menilai berbeda. Mereka kebanyakan sangat menyukai novel ini. Yah, penilaian setiap orang berbeda walau buku yang dibaca sama. Saya pun menyadari kemampuan saya masih kurang dalam memahami sastra. Jadi saya harus memperbanyak bacaan sastra dan mempelajarinya. Dan buku ini menjadi salah satu sarana saya belajar sastra. 

2 comments:

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...