Friday, 19 December 2014

Burung Kecil Aja Bisa. Kamu?


Teman, lihat deh gambar di atas! Apa yang ada dalam pikiran kalian ketika melihat gambar itu?

Seekor burung yang memungut kaleng minuman kosong yang tergeletak di jalan dengan menggunakan  paruhnya, lalu memasukkannya ke dalam tong sampah.

Saya bertanya-tanya, koq bisa ya seekor burung kecil melakukan hal itu? Padahal manusia aja belum tentu bisa melakukannya. Saya tau dan sadar sekali bahwa yang menggerakkan dan membuat burung itu melakukan hal tersebut adalah kuasa Allah Swt.


Seekor burung kecil yang tidak diberi akal oleh Allah Swt. bisa memungut sampah dan memasukkannya ke dalam tong sampah. Bagaimana dengan kita, manusia? Manusia jauh lebih berakal dari pada seekor burung. Akan tetapi akal yang dimiliki oleh manusia sepertinya tidak digunakan dengan maksimal.

Bagaimana kita tau kalau akal manusia tidak digunakan secara maksimal? Ya, kalian lihat saja di jalan, sungai, angkutan umum, terminal, pantai, taman dan tempat-tempat umum lainnya, tidak luput dari penglihatan kita sampah berserakan dimana-mana. Sampah-sampah itu kan hasil dari pekerjaan manusia yang tidak menggunakan akalnya dengan maksimal. Kita suka sekali membuang sampah sembarangan. Seperti tak ada beban dan tak berdosa dengan ringannya tangan-tangan itu melempar sampahnya kemana saja sesuka hatinya.

Jika ada orang yang makan atau minum di dalam angkutan umum, bisa dipastikan kemasan makanan dan minuman tersebut berakhir di kolong kursi tempat mereka duduk. Seperti sudah terprogram secara otomatis dan hampir semua orang melakukannya, kecuali mereka yang masih menggunakan akalnya dengan maksimal. Apa susahnya menyimpan sebentar sampah kita di tas atau di kantong celana atau baju sampai kita menjumpai tempat sampah? Toh, sampah tersebut tidak akan sampai mengotori baju atau tas kita.

Wisatawan yang mengunjungi tempat wisata tidak lebih baik dari mereka yang ada di angkutan umum. Dapat dipastikan botol minuman dan kemasan makanan mereka akan menghiasi taman, pantai, sungai, dll. Apakah disana tidak tersedia tempat sampah? Tentu saja pihak pengelola tempat wisata sudah menyiapkan tempat sampah hampir disetiap sudut lokasi. Tapi kenapa mereka masih membuang sampah sembarangan? Nah, itulah masalah kebiasaan, budaya buruk yang telah mengakar dan menguasai akal sehat kita.

Ada orang tua yang malah menyuruh anaknya membuang sampah seenaknya. Suatu saat si anak sedang minum es di dalam angkutan umum, begitu si anak selesai dengan minumannya, dia bertanya pada ibunya “Bu, buang dimana?”, si Ibu menjawab “Buang aja ke luar”. Ke luar yang dimaksud adalah ke luar jendela mobil. Apakah di luar jendela itu ada tempat sampah? Tentu tidak. Yang ada mungkin jalanan, selokan, kali, dan itu menjadi tempat berlabuhnya sampah tersebut.

Pelajar dan mahasiswa yang notabene adalah orang-orang berpendidikan, tidak serta merta dapat melakukan hal seperti apa yang dilakukan oleh seekor burung pada gambar di atas. Padahal sudah pasti mereka telah dididik sejak bangku Taman Kanak-Kanak untuk tidak buang sampah sembarangan. Apakah tidak buang sampah sembarangan hanya berlaku untuk anak TK saja? Kalau begitu adanya, lebih mereka tidak usah sekolah tinggi-tinggi kalau bisanya hanya mengotori lingkungan. Sangat disayangkan, biaya sekolah yang besar sudah keluarkan, tapi akal yang dimiliki tidak digunakan dengan maksimal.

Melihat kejadian-kejadian tersebut di atas, diri ini kesal dibuatnya, marah, geram, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, memang kuakui diri ini masih sangat lemah untuk menegur mereka yang melakukan kejahatan lingkungan. Hanya bisa marah pada diri sendiri kenapa tidak bisa melakukan sesuatu.

Saya percaya teman-teman yang membaca tulisan ini, jauh dari perilaku yang ditulis di atas. Kalaupun teman-teman merasa seperti apa yang saya tuliskan itu, hendaknya mulailah untuk move on dari kebiasaan yang sangat buruk itu. Tekadkan dalam diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dan jangan lupa tularkan semangat kalian kepada orang terdekat disekitar kalian.

Mari belajar dari seekor burung kecil. Betapa dia makhluk kecil yang tidak berakal, namun dapat membuka mata kita yang mungkin “buta” selama ini. Kita pun dapat melakukan hal yang jauh lebih besar dari pada burung kecil itu.  Kebersihan lingkungan, kepedulian terhadap kelestarian bumi ada ditangan kita, manusia yang berakal. Mari gunakan akal kita dengan maksimal dan wariskan budaya yang positif untuk generasi mendatang. Yaitu warisan budaya untuk senantiasa membuang sampah di tempat sampah.
 
Terlepas gambar di atas sungguhan atau tidak. Betapa burung kecli itu telah mengajarkan kita sesuatu yang sangat besar bagi kelestarian bumi.


 

No comments:

Post a Comment

Peperangan Melawan Master Dragon

Judul                : Pergi Penulis              : Tere Liye Penerbit            : Republika Cetakan            : III, 2018 ...