Saturday, 27 December 2014

Tentang Hujan: I love Raining



Hujan itu dingin, basah, banjir, becek, bocor, macet, jemuran ga kering, males, cuaca yang mendukung untuk tidur, dll. Itulah kira-kira persepsi banyak orang tentang hujan. Jika hujan turun, biasanya secara spontan kita akan bergumam, “Yaah,,hujan”, “Aduh, hujan lagi. Alamat banjir nih”, “Duuh hujan, males kerja”, “Asik hujan,,tidur lagi ah,,” dan komentar-komentar lain yang bernada negatif.
 
Mengapa kita merespon negatif pada turunnya hujan, padahal hujan itu rahmat yang Allah turunkan untuk makhluk-Nya di bumi?


Ada waktu-waktu yang mustajab untuk dikabulkannya doa diantaranya adalah pada saat sholat fardhu, bermunajat disepertiga malam, antara azan dan iqomat, ketika bersujud, saat hujan dan hari Jum’at. Waktu hujan adalah salah satu waktu mustajab untuk memanjatkan doa. Oleh karenanya sangat baik sekali jika kita memanjatkan doa ketika turun hujan, bukan malah mencaci dan menyalahkan hujan.

Doa yang sering dilafalakan saat hujan adalah “Allahumma shoyyiban naafi’an” artinya “Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat”. Kita juga dapat menambahkan doa lain yang kita inginkan.

Rahmat dan keberkahan datang bersama air hujan yang turun. Allah melimpahkan air hujan dengan berbagai manfaat untuk kita hamba-hambaNya.

Allah berfirman dalam surat Qaf ayat 9 yang artinya “Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen”. 

Betapa Allah sangat menyayangi kita, Dia menurunkan hujan semata-mata demi kelangsungan hidup makhluk-Nya. Dengan turunnya hujan, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan dapat tumbuh dengan subur sehingga sangat bermanfaat untuk manusia maupun hewan. Bayangkan kalau hujan tidak turun dalam waktu yang lama. Kita pasti akan sengsara dengan kekeringan yang melanda.

Namun terbesit dalam benak kita, mengapa setiap hujan turun sesering itu pula terjadi bencana banjir?

Banjir bukanlah semata-mata disebabkan oleh hujan. Banjir tidak akan terjadi begitu saja tanpa sebab. Yang menyebabkan banjir adalah karena ulah tangan kita sendiri sebagai manusia yang tidak dapat melaksanakan tugas sebagai khalifah di bumi ini dengan baik. Bencana yang terjadi apapun itu, banjir, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran, dll, adalah Karena kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia.

Teringat kata-kata seorang ustad yang menyatakan bahwa “Sifat bumi itu merespon perilaku penghuninya. Kalau perilaku kita baik, maka bumi akan merespon dengan baik. Sebaliknya, jika perilaku kita buruk, bumi pun akan merespon sesuai dengan keburukan yang telah dilakukan”.

Allah juga sudah memperingatkan tentang hal ini dalam Al-qur’an surat Ar-Rum ayat 41.

“Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan dan ulah manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”.

Jadi jangan menyalahkan hujan jika terjadi banjir, tapi marilah kita introspeksi diri. Perbuatan apa yang telah kita lakukan sehingga menyebabkan terjadinya bencana? Mulailah ubah kebiasaan buruk seperti membuang sampah di sungai yang dapat menghambat aliran air, menebang pohon seenaknya tanpa berpikir panjang tentang akibat yang akan menimpa dikemudian hari. Merubah kebiasaan buruk itu dapat dilakukan dengan mudah asalkan kita memiliki tekad yang kuat dalam upaya untuk menyelamatkan bumi ini.

Segala sesuatunya akan lebih mudah jika kita melakukannya mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai saat ini.

Yuk kita ubah respon kita tentang hujan! Jangan ada lagi kata-kata yang mencaci dan menyalahkan hujan. Yang ada hanya kata-kata positif dan doa. Mulai sekarang, kita ucapkan “Alhamdulillah, I love raining”.

O ya, satu lagi. Hujan juga membawa rahmat berupa inspirasi. Seperti tulisan ini yang terinspirasi oleh hujan yang turun di Sabtu pagi ini. ^_^

 
 

No comments:

Post a Comment

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...