Friday, 10 April 2015

Happiness Is Around You



There is always something makes me smile every day.

Selalu ada saja yang membuatku tersenyum setiap harinya. Hal-hal sederhana yang terjadi di sekeliling kita dapat menjadi alasan untuk tersenyum. Dan tersenyum itu membuat kita bahagia. Trust me! It works. :D

Seperti hari ini, orang-orang di luar sana berhasil membuatku tersenyum dengan tingkah maupun ucapan-ucapan mereka.

Here are some cases I mean:


Case one

Saat berkunjung ke rumah teman untuk meminjam buku terkait writing contest yang sedang aku ikuti, temanku mempersilakan untuk mencari sendiri buku yang kumaksud. Melihat buku yang banyak dan bagus-bagus, aku jadi merasa ingin meminjam semuanya, haha. Tapi tenang saja, aku sudah berjanji padanya untuk meminjam buku yang lain segera setelah aku menyelesaikan buku sebelumnya. *serasa perpus ya, pinjam meminjam buku gratis* :D

Setelah selesai memilah buku yang kuinginkan, tanpa sengaja kutemukan beberapa kertas berwarna pink yang menempel di atas lemari buku. Rupanya kertas-kertas itu adalah tulisan dari anak-anak temanku. Temanku memiliki 4 orang anak yang jarak usianya berdekatan, 2 laki-laki 2 perempuan.

Tulisan yang ada di dalamnya adalah catatan cita-cita ke-4 anak-anak itu yang ditulis dengan tangan mereka sendiri plus tanggal ketika tulisan itu dibuat.

Anak pertama menulis, "Cita-citaku ingin menjadi pilot di usia 34 tahun", anak kedua "Cita-citaku ingin menjadi polisi", anak ketiga "Cita-citaku menjadi guru". Tidak ada yang aneh dengan cita-cita mereka. Cita-cita yang mulia yang banyak orang memimpikannya. Eits, tapi tunggu dulu. Sepertinya aku melewatkan satu hal. Ah, ya. cita-cita anak yang terakhir. Tidak seperti kakaknya yang memiliki cita-cita yang umum kita dengar. Cita-cita anak yang satu ini sukses membuat bahuku terguncang karena tawa.

Apakah kiranya cita-cita yang mengguncang bahuku itu? baiklah kalau kalian tidak sabar ingin mengetahuinya. Baca baik-baik ya.

Anak terakhir menulis, "Cita-citaku adalah menjadi “Tukang Kue”. Ketika membaca itu. aku merasa ingin *rolling guling-guling di lantai* melepaskan tawa.



Ketika Haura –anak terakhir- muncul, aku pura-pura betanya padanya, “Siapa ya yang mau jadi tukang kue?”. Dia segera mengelak dan berkata, “Ngga, ngga mau.” Dengan tampangnya yang lucu. Entah apa yang dipikirkannya tentang “Tukang Kue” pada saat dia menuliskan itu. 

Kalau aku sebagai orang dewasa, menerjemahkannya menjadi “Seorang pengusaha kue yang berhasil dan sukses dengan kuenya yang sudah terkenal di seluruh Indonesia bahkan sampai ke luar negeri.” Aku salut sekali dengan anak ini. Masih kecil sudah punya jiwa pebisnis, hehe.

Anak-anak itu memang lucu. Celetukkan mereka, tingkah pola mereka, selalu berhasil membuat kita orang dewasa cukup terhibur dan menyegarkan pikiran yang kusut akibat beban hidup yang semakin berat.

Semoga tercapai ya cita-cita kalian semua. Jadilah pilot, polisi, guru dan tukang kue yang soleh dan solehah. Aamin.

Case two

Yang ini kejadiannya di angkot yang membawaku menuju rumah seorang siswa privatku. Pada saat itu angkot sudah penuh oleh penumpang, kebanyakan penumpangnya adalah ibu-ibu. Ketika angkot melewati sebuah rumah yang sedang ada hajatan pernikahan, rupanya salah satu penumpang ada yang kenal dengan orang yang sedang mengadakan hajatan tersebut. Lalu mulailah si ibu bercerita, kira-kira begini, dialognya.

“Itu yang lagi hajatan tuh kakek udah tua. Dapet janda cakep. Udah berapa kali tuh kawin mulu. Ampuunn daah.”

Beberapa penumpang tertawa. Aku sih senyum-senyum saja. Ada juga yang menimpali. “Ceweknya koq mau ya? udah tua gitu.”

“Ya maulah. Orang kaya gitu. Tuh kakek kan juragan. Uangnya banyak.”

Sebenarnya aku ingin sekali tertawa, tapi agak tidak enak hati. Wal hasil aku hanya bisa menarik bibir ke kiri dan ke kanan. :)

Case three (the last one)

Masih setia di angkot.

Jadi ada dua orang ibu dengan membawa anak masing-masing. Dari ucapan si anak, aku tau mereka akan pergi menuju Careffour.  Lagi-lagi ucapan seorang anak kecil ini yang membuatku tersenyum. Sambil menaiki angkot si anak bilang ke umminya, “Emang kalo ke careffour harus naik angkot ya mi?”. Aku mengalihkan pandangan ke arah kaca jendela untuk menyembunyikan tawaku.

Mungkin anak itu berpikir kalau careffour itu sama seperti indomart atau alfamart yang selangkah saja sudah sampai. Secara indomart dan alfamart bagaikan sepasang pengantin baru yang tak terpisahkan. Dimana kau melihat indomart, alfamart tak akan jauh darinya. :D

Bahagia itu simple. Dan ia ada di sekitarmu. 

Bersyukurlah, maka kau akan bahagia. 

Case closed. Happy smiling :D




No comments:

Post a Comment

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...