Wednesday, 1 April 2015

Tanah Kering Yang Disiram Air Hujan



30 menit berlalu layar laptop masih saja putih bersih. Mencoba mencari ide dari buku-buku bacaan yang tercecer di sekitarku, sayang sang ide belum juga mau menghampiri. Kubolak-balik lembar demi lembar dari satu buku yang kupilih, kusapu bersih setiap kata dari berbagai brosur yang memenuhi kamar. Ide pun masih enggan untuk mampir ke dalam pikiranku.

Kutatap keluar jendela, rupanya langit sedang mencurahkan air keberkahan-Nya. Aku suka sekali hujan, dia begitu menyejukkan hati. Diri ini begitu menikmati aroma tanah yang tersiram air hujan. Temanku pernah mengatakan sesuatu yang menarik tentang hujan. Dia bilang “Rindu adalah ketika tanah kering disiram air hujan.” 


Apakah aku sedang merindukan sesuatu atau seseorang? Ehm, memandang keluar jendela yang sedang turun hujan dan mengingatkanku pada kata-kata seorang teman tentang rindu, aku malah dilanda kerinduan. 

Kualihakan tatapanku kembali ke laptop, mencoba mengusir rasa rindu yang akhirnya akan membuatku semakin emosional. Layar di laptop masih bersih seperti semula. Tak ada setitik pun noda hitam yang menempel di atasnya, layaknya kain putih yang baru saja dicuci bersih dengan pemutih.

Baru saja kuletakkan tangan di atas keyboard, terdengar bunyi ponsel yang begitu nyaring. Sejurus saja kuraih dan kulihat di layar ponsel rupanya ada pesan masuk. Rasa penasaran menghinggapi. Siapa kiranya yang mengirim pesan ini. Hatiku berdebar ketika mengetahui pesan yang kuterima berasal dari teman yang nun jauh di negeri padang pasir.

Setelah membalas pesannya aku merasa ada perasaan yang aneh menghinggap di hati. Perasaan yang cukup menenangkan dan menyenangkan seperti tanah kering yang tersiram air hujan. Tepat satu bulan sejak terakhir dia menghubungiku, dan selama itu juga aku menanti pesan darinya yang tak kunjung datang. 

Baiklah, kusingkirkan dulu ponsel ini dan kembali pada laptop yang sudah semakin panas saja karena terlalu lama ditinggalkan. “Mengapa sulit sekali mendapatkan ide untuk menulis?”, aku berkata dalam hati. Padahal menurut para penulis senior yang sudah menelurkan banyak buku, ide itu ada di mana-mana, ide berkeliaran di sekitar kita. Tapi mengapa ide tidak berkeliaran disekitarku? Aku menjadi kesal dengan diriku yang begitu sulit untuk mulai menulis.

Akhirnya kutinggalkan laptop menuju peraduan. Zzzzz

7 comments:

  1. Hmm, marvelous! it's okay. Aye blm brani krisan, maklum, newbie :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, aq juga newbie. Gpp coba aja nulis sekalian buat latihan.

      Happy writing!

      Delete
  2. wah mba nia, menjadikan kebuntuan akan ide menulis menjadi tulisan,,, bahasanya puitis, mantap =)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi, saking ga punya ide jd gitu deh.
      Thanks mba. Happy writing! ^^

      Delete
  3. Mbak nia suka hujan?
    Kalo di luar sedang hujan dan Mba terpaksa keluar, pake payung atau enggak? .-.

    ReplyDelete
    Replies
    1. suka hujan bukan berarti rela keluar rumah basah2an tanpa pelindung/payung kan? hehe

      Happy writing ^^

      Delete
  4. luar biasa...! tetap menulis meski blm dpt ide utuh. sy blm tentu bs spt ini, lho. #curcol.
    lanjutkan!

    ReplyDelete

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...