Saturday, 4 April 2015

Islam Aliran Apa?


doc. pribadi

“Maaf, mengganggu sebentar.” Suara bariton seorang petugas security di salah satu gerbong kereta api tiba-tiba menghampiri kami. Shani temanku yang mengisi waktu selama perjalanan dengan membaca Al-qur’an menoleh ke arah bapak security.

“Ya, ada apa Pak?” 

“Klo boleh tau mbak ini alirannya apa ya?”

Mendengar pertanyaannya aku terkejut dan menatap bapak security dengan serius. Sebelum Shani menjawab, aku sudah lebih dulu menyambut pertanyaan bapak petugas yang berdiri tegap dengan angkuhnya.


“Emangnya kenapa pak nanya-nanya aliran?” Seruku balik bertanya.

“Maaf mba, saya hanya menjalankan tugas. Atasan saya memerintahkan untuk memastikan setiap gerbong ini aman.” Jawab security dengan tatapan yang tajam.

Sepertinya aku paham apa yang dimaksud bapak ini. Dia mencurigai kami karena memakai jilbab yang cukup lebar berbeda dari penumpang lain yang berhijab ala kadarnya, ditambah lagi Shani kepergok sedang membaca Al-qur’an. mungkin itu sebabnya dia menghampiri kami. Penumpang mulai terusik seolah bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

“Owh, begitu. Jadi menurut bapak keberadaan kami di sini membuat kereta api ini jadi tidak aman. Begiru maksud bapak?” Nada suaraku terdengar mulai kesal.

“Sudah. Silakan jawab saja pertanyaan saya tadi.”

“Baiklah. Bapak ingin tau apa aliran kami? Aliran kami adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW belasan abad yang lalu.” Jelasku dengan bangga. “Nah, kalo bapak sendiri alirannya apa Pak?” Lanjutku.

Tapi sepertinya bapak security yang sombong itu tidak puas dengan jawabanku.

“Maksud saya, Islam aliran apa?” 

“Begini pak ya. Saya jelaskan ke bapak. Mungkin saja bapak belum paham.” Kulihat dia mulai gusar menghadapiku, “Islam itu ya Islam Pak, yang berdasarkan Al-qur’an dan sunnah. Islam gak ada aliran-alirannya. Kalau bapak menganggap Islam itu memiliki berbagai macam aliran, dengan hormat saya katakan Bapak salah.”

“Kamu gak usah ceramah di sini.” Kulihat wajah Bapak security mulai memerah dan nadanya mulai meninggi. Ngeri juga aku dibuatnya. Dzikir terus kulantunkan dalam hati.

“Saya gak ceramah pak. Cuma sekedar memberikan info saja pada bapak.” Tukasku dengan nada sedikit lebih rileks, “O ya, bapak belum jawab pertanyaan saya. Aliran bapak apa?”

Si Bapak security semakin merah saja wajahnya. Akhirnya beliau pergi meninggalkan kami dengan hati dongkol menghadapi argument bocah tengik sepertiku.

Aku dan Shani bertatapan satu sama lain sambil tertawa cekikikan. Kulihat para penumpang pun ikut tersenyum melihat aksiku tadi.

“Ya ampun Rani, kamu berani banget sih tadi? Nanti kalau si bapak itu melaporkan kita bagaimana?” Seru Shani sedikit khawatir sambil menepuk bahuku.

“Tenang Shan, ada Allah. Lagian siapa suruh curiga kayak gitu? Emangnya kita teroris apa? Awas aja kalo berani macem-macem.” Tegasku sambil mengepalkan tangan.

2 comments:

  1. baguuus...!
    eh, itu kisah nyata Nia?

    ReplyDelete
  2. Terinspirasi oleh status yg dishare tmn di fb. Entah bener pa ga. Tiba2 ide untuk nulis ini keluar, hehe

    Happy writing ^^

    ReplyDelete

Menghidupkan Kembali Rasa Kemanusiaan Yang Mati

Judul                : Sepotong Roti di Langit Tragedi Penulis              : Nia Hanie Zen, dkk. Penerbit            : Iluvia ...